Penantian Cinta Sejati Kembali

Penantian Cinta Sejati Kembali
Kebahagian Kembali Datang


__ADS_3

Pertama kali pintu ruangan terbuka, Arisha menoleh menatap tajam pria yang datang. Reifan bisa jelas melihat bagaimana mata sang istri yang sembab. Arisha tidak tahu jika Reifan baru saja mengancam sang ibu.


"Mau apa kamu kesini?" tanya Arisha dengan ketus.


Reifan diam dan melangkah mendekati sang istri yang duduk di kursi kerjanya. Jas putih yang Arisha pakai begitu cocok di tubuhnya. Rasanya Reifan sangat rugi jika sampai ia menyia-nyiakan istri yang begitu sempurna.


"Sudah menangisnya yah? Aku memberi kamu waktu di sini untuk menangis. Sekarang tidak perlu sedih lagi. Perjanjian itu tidak ada dan Ibu tidak akan bisa mengganggu kita lagi." Lembut Reifan berkata. Arisha bingung kala melihat ekspresi sang suami.


Pikirnya Reifan akan sangat marah padanya karena perjanjian yang ketahuan itu. Nyatanya pria itu justru membujuk Airsha agar tidak menangis lagi. Arisha masih ingat bagaimana tadi sang suami yang membiarkan dirinya pergi tanpa mau mencegah atau mendengar penjelasanya.


"Kamu...Rei, kamu tidak marah padaku?" tanya Arisha penasaran.


Reifan tak menjawab, ia hanya tersenyum memeluk tubuh sang istri yang masih duduk dengan pelukan dari belakang.

__ADS_1


"Marah? Aku adalah suami yang tidak tahu bersyukur jika sampai marah dengan istri sepertimu. Maafkan Ibuku yah? Aku tidak akan memberi jalan Ibu untuk merusak pernikahan kita. Aku janji itu, Arisha." Senang sekali gus bingung Arisha mendengar ucapan sang suami.


Sebelumnya Reifan belum mengingat apa pun bahkan enggan mengakui Dara jika ibunya. Dan sekarang Arisha mulai mengingat rentetan kejadian sampai suaminya bisa membawa mobil sendiri tiba di rumah mertuanya.


"Rei, kamu sudah ingat semuanya?" tanya Arisha berdiri menghadap Reifan. Kedua mata mereka tampak saling pandang.


Reifan lagi-lagi mengangguk tersenyum. Bukan kepala Arisha senangnya. Ia sampai memeluk sang suami dan melupakan kesedihannya barusan. Mereka saling memeluk kian erat.


"Aku mohon maafkan Ibuku, Arisha. Aku gagal menjaga Ibuku." ujar Reifan kembali.


"Aku sudah memaafkan Ibu. Lagi pula Ibu melakukan itu semua demi anaknya. Tidak ada satu pun Ibu yang rela anaknya menderita kelak. Ibu hanya cemas dengan karirku, Rei. Ibu takut jika di usia muda seperti ini aku akan meninggalkan anaknya apa lagi kita belum memiliki anak."


Hari itu keduanya menghabiskan waktu bersama. Berbeda dari biasanya, kini Reifan yang mengemudikan mobil dan membawa sang istri untuk berjalan-jalan. Semua tempat yang ia ingat adalah tempat kesukaan sang istri. Arisha sangat bahagia.

__ADS_1


"Mau itu?" tunjuk Reifan pada tempat makan ice cream korea kesukaan Arisha.


"Boleh deh. Tapi aku makan ice cream aja. Perutku sudah kenyang, Rei makan kepiting banyak banget." sahut Arisha memanyunkan bibirnya.


Lagi-lagi mereka mengisi perut dengan menu favorit keduanya. Mereka tidak sadar jika ada sepasang mata yang tersenyum melihat kebahagiaan mereka.


"Syukurlah kalian bahagia. Maka aku benar-benar akan melepaskan sepupuku, Reifan. Arisha harus kau bahagiakan." gumam Wisnu yang memilih pergi.


Sampai dalam keadaan tidak sadar, Wisnu membalikkan tubuh dan menabrak pria yang menatapnya begitu tajam.


"Mau apa kau?" tanya pria itu.


"Tidak ada." jawab Wisnu ingin melangkah pergi.

__ADS_1


"Berhenti ku bilang!" teriak pria yang baru datang itu. Tangannya mencekal kuat lengan Wisnu saat ini.


__ADS_2