
Tatapan kesal dari wanita yang sudah bersedia menjadi pelayan selama berminggu-minggu kini justru hanya mendapatkan sikap acuh dari sosok Reifan.
“Rei, apa benar kau memintaku pulang?” Gina berdiri dengan koper miliknya di taman depan rumah.
Suasana sore yang indah di halaman rumah Reifan nampak sangat memanjakan mata. Gina menatap nanar punggung pria yang baru saja memintanya kembali ke rumahnya. Jika kemarin Reifan meminta Gina untuk menentukan pilihannya pergi atau tinggal, tidak kali ini. Reifan terang-terangan meminta Gina keluar dari rumahnya.
“Yah Gina. Aku sudah baik-baik saja. Biarkan aku di sini.” ujar Reifan hangat.
Gina menggelengkan kepalanya. Mengundur waktu yang saat ini Gina lakukan.
“Tante Dara kemana sih? Apa pun caranya aku tetap harus di rumah ini. Enak aja usahaku sekian lama harus sia-sia tanpa hasil.” gumam Gina berkeras tak akan mau menuruti ucapan Reifan.
Reifan duduk tanpa mau memandang Gina. Ia mulai ingat dengan hubungannya bersama Arisha.
__ADS_1
“Aku sudah memiliki istri. Terlepas dengan Gina aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi, aku harus memperbaiki hubunganku denganmu, Arisha. Aku harus bisa tahu semuanya. Kemana kamu?” Reifan nampak begitu cemas.
Ingin sekali Reifan bertemu sang istri dan bertanya tentang semuanya. Selama ini Arisha begitu baik memperlakukan Reifan. Dan sebaliknya Reifan begitu buruk pada sang istri.
“Ada apa ini, Gina? Kenapa ini Rei? Koper Gina kenapa di luar?” Suara dari arah lain tampak membuyarkan lamunan Reifan.
Matanya memperhatikan dengan intens. Reifan acuh kala sadar jika sang ibu datang pasti untuk Gina.
“Pernikahanku dengan Arisha masih sah. Jadi, tidak ada yang berhak untuk tinggal bersamaku selain istri sahku. Maaf.” Ia berdiri melangkahkan kakinya memasuki rumah.
Gina menunduk meneteskan air mata. Seolah tengah berusaha untuk mencari dukungan.
“Reifan, apa yang kamu lakukan? Arisha sudah pergi dengan pria lain. Untuk apa kamu menunggu wanita seperti itu? Gina lebih pantas tinggal di rumah ini.” teriak Dara membawa Gina ke dalam pelukannya.
__ADS_1
Reifan hanya menggeleng tak mau mendengarkan apa pun.
“Bi, kunci pintunya.” pintah Reifan yang langsung mendapat anggukan kepala dari pelayan di rumah itu.
Reifan sama sekali tak perduli bagaimana sosok Gina yang menangis di pelukan sang ibu.
Rumah terasa sunyi ketika pria yang lupa ingatan tampak duduk di dalam kamarnya. Jika biasa ia akan terhibur dengan semua tingkah Gina. Kini tak lagi. Perasaan bersalahnya pada Arisha membuat Reifan perlahan tak lagi terpukau dengan Gina.
Setiap malam bayangan di kepalanya hanya wajah Arisha yang menunduk meneteskan air mata.
“Kita harus gimana, Tante? Aku nggak mungkin biarkan Reifan di sini tanpa aku.” Dara hanya bisa mengangguk mendengarkan ucapan Gina.
Tak ada yang bisa mereka lakukan sampai akhirnya Dara menghubungi sang anak.
__ADS_1
“Rei, boleh kamu suruh Gina pergi dari rumah ini. Tapi, setelah Arisha kembali. Gina tidak mungkin tega meninggalkan kamu sendiri di rumah sendirian. Kita tunggu sampai Arisha kembali. Kamu berhak memutuskan semuanya setelah istrimu kembali. Dengarkan Ibu, Rei.” Tak ada jawaban apa pun yang Reifan ucapkan. Ia hanya memutuskan panggilan telepon setelah mendengar sang ibu berbicara.