Penantian Cinta Sejati Kembali

Penantian Cinta Sejati Kembali
Terusik


__ADS_3

Sebuah perusahaan yang cukup terkenal begituu padat dengan para pekerja. Setiap orang yang berjalan selalu menyapa dengan penuh hormat pada sepasang suami istri yang kini berada di dalam lift. Terdengar jelas pula bagaimana para pekerja di perusahaan ini menyapa nama Reifan dengan begitu santunnya.


"Kenapa? Bingung dengan mereka semua?" tanya Arisha melihat tatapan sang suami yang ingin bertanya banyak hal. Di mulai dari siapa pemilik perusahaan ini sebenarnya? Sebagai apa kedudukan Reifan di perusahaan ini dan masih banyak hal.


Arisha tak lagi bersuara sampai akhirnya lift itu pun terbuka lebar. Arisha melangkah dengan Reifan yang terus mengikuti mereka. Sampai sebuah ruangan di buka oleh wanita itu dengan sidik jarinya. Dari sana Reifan menyangka jika ini adalah perusahaan sang istri yang mungkin dulunya ia kelola sebagai suami.


"Ini ruangan kerjamu, Rei. Di sini tempat yang menjadi saksi pertemuan kita dulu. Lihat semua tentang kita bukan?" Arisha menatap berbagai sudut ruangan yang terdapat foto serta lukisan keduanya.


Mereka terlihat benar-benar bahagia saat di gambar itu. "Lalu apa jabatanku?" tanya Reifan masih tak paham.


Arisha terkekeh menggelengkan kepala lucu mendengar pertanyaan sang suami. "Andai saja aku istri yang jahat mungkin perusahaan suamiku ini bisa pindah alih ke tanganku dengan banyak karangan cerita yah? Yah jelas jabatanmu adalah sebagai pemilik perusahaan ini, Rei." terang Arisha.

__ADS_1


Reifan menganggukkan kepalanya kala tahu jika dirinya sekeren itu bisa memiliki sebuah perusahaan.


"Sehari-hari kamu akan bekerja di sini dan kita bertemu di siang hari ketika waktu makan siang. Setelahnya kita akan sibuk dengan kerjaan kita masing-masing sampai bertemu kembali di malam harinya." Arisha mulai bercerita.


Reifan yang masih sibuk memperhatikan ruangan kerjanya merasa nyaman berada di sini. Ia merasa bosan jika terus berada di rumah menunggu sang istri untuk pulang.


"Arisha," panggil Reifan.


"Hem?" sahut Arisha.


"Aku mendukung apa pun yang ingin kau lakukan, Rei. Selagi itu semua demi kebaikanmu dan juga kesehatanmu." ujar Arisha.

__ADS_1


Setelah lama keduanya menghabiskan waktu di ruangan itu dengan Reifan yang mulai penasaran dengan isi laptonya. Sekertarisnya pun datang atas panggilan dari Arisha. Perlaahan ia menjelaskan file apa saja yang penting dan data apa saja yang Reifan biasa simpan di sana. Satu persatu ia jelaskan sampai akhirnya Arisha merasa itu sudah cukup. Ia tidak ingin membuat kepala Reifan nantinya pusing memaksakan hal yang belum mampu ia pikirkan.


"Loh Sayang kita mau kemana?" tanya Reifan memanggil Arisha dengan sebutan sayang.


Arisha yang merasa asing dengan panggilan itu terdiam malu. Matanya saling pandang dengan sang sekertaris suaminya.


"Rei, ayo kita pulang. Sudah jangan terlalu memaksakan diri. Kau bisa kembali kambuh nanti." ujar Arisha.


Melihat tingkah Arisha yang malu-malu entah mengapa membuat Reifan tersenyum gemas. Ia mengikuti langkah sang istri menuju mobil dan keduanya pun pulang ke rumah.


Sayang seribu kali sayang, kelelahan Arisha dan Reifan yang ingin di bawa istirahat harus mereka undur kala melihat kedatangan tamu tak di undang di rumahnya.

__ADS_1


"Huh mantan yang nggak tahu diri di urus dulu gih. Aku capek." ujar Arisha enggan turun dari mobilnya.


Kali ini wanita itu membiarkan Reifan sendiri yang menyelesaikan masalah mereka. Ia tak ingin membuang tenaga mengurus hal tidak penting seperti Gina.


__ADS_2