Penantian Cinta Sejati Kembali

Penantian Cinta Sejati Kembali
Pulang Ke Rumah Ibu


__ADS_3

“Kenapa tiba-tiba minta jemput? Bukankah Kak Rei tidak mengakui saya sebagai adik?” Nalendra rupanya yang menjadi tempat pelarian Reifan malam ini.


Ia meminta sang adik menjemputnya dan membawanya pulang ke rumah sang Ibu. Tentu saja Nalendra terkejut sebab tak biasanya Reifan mau melibatkan dirinya semenjak lupa ingatan.


“Sudah, jangan banyak bicara. Aku ingin tidur segera.” sahut Reifan memilih memejamkan matanya. Pria itu menikmati perjalanan menuju rumah milik Dara tanpa berbicara banyak dengan sang adik.


Nalendra patuh melajukan mobil menuju rumah. Dalam hatinya begitu penasaran. Ia sangat yakin jika Reifan pasti sedang ada masalah dengan kakak iparnya.


“Nyetir mobil yang benar.” sahut Reifan meski tak melihat sang adik yang terus menatapnya.


Mobil malam itu melaju membela jalanan yang padat kendaraan. Sampai akhirnya kendaraan roda empat itu pun tiba di sebuah rumah yang cukup megah namun terasa sunyi. Yah begitulah kehidupan Dara setelah kepergian Reifan dari rumahnya. Nalendra yang jarang di rumah membuat wanita itu merasa kesepian.


Dua kaki pria melangkah lebar memasuki rumah. Reifan tak tahu apa-apa tentang rumah yang ia pikir adalah tempatnya di masa kecil. Manik mata hitam miliknya menatap Nalendra seolah memberi isyarat untuknya bertanya.

__ADS_1


“Kamar Kak Rei? Memangnya belum ingat?” tanya Nalendra yang mendapat jawaban gelengan kepala dari Reifan.


“Tuh di atas. Aku pikir sudah memintaku menjemput, Kakak sudah ingat semuanya.” Masih ingin Nalendra meneruskan kata-katanya. Namun, Reifan justru meninggalkan dirinya sendiri.


Malam ini tepatnya pukul sebelas malam, Nalendra berdiri menatap kepergian sang kakak. Sedang dari sudut lain terlihat wajah wanita paruh baya itu tersenyum begitu lebar.


“Nalendra, itu Reifan yah? Kamu bawa Kakakmu pulang? Akhirnya Ibu nggak kesepian lagi.” ujarnya begitu senang.


Nalendra menggeleng kesal mendengar ucapan sang ibu yang berbeda dengan keinginannya.


“Bagus dong. Itu artinya dia akan tinggal di sini dan pergi meninggalkan Arisha. Ibu harus cepat hubungi Gina kalau begini.” Tanpa rasa simpatik sedikit pun Dara berjalan cepat menuju kamar. Ia begitu bahagia mendengar kabar sang anak pulang ke rumahnya.


Tak perduli jika di sini Reifan begitu marah mengetahui sikap Arisha yang tega berbohong padanya.

__ADS_1


“Sial! Sialan! Kenapa kamu berbohong, Arisha?” teriak Reifan meninju dinding kamarnya.


Merasa dirinya yang tak ingat apa pun seperti sedang di permainkan oleh sang istri. Bahkan Reifan kesal sekali mengingat mereka yang mengunjungi dokter untuk melakukan program hamil.


“Aku benar-benar seperti lelaki tidak berguna.” tambah Reifan mengumpati diri sendiri.


Malam yang sunyi terasa keduanya lewati sendiri-sendiri. Tak ada canda tawa yang menjadi pengantar tidur mereka berdua malam ini seperti malam biasanya. Reifan terlelap setelah jam menunjuk pukul dua dini hari. Pria itu memilih tidur dan besok akan pulang ke rumah sang istri setelah menenangkan dirinya.


Benar saja ketika pagi sudah kembali menyapa, Reifan berjalan cepat melewati meja makan dimana Nalendra dan Dara duduk menunggunya.


“Rei, mau kemana kamu? Ayo sarapan dulu.” ajak wanita itu pada anak pertamanya.


“Aku harus pulang.” sahut Reifan tanpa menatap wajah keduanya. Ia meneruskan langkah kakinya keluar rumah. Sayang, detik berikutnya langkah kaki itu terhenti seketika.

__ADS_1


“Pagi, Rei.” Sapaan lembut dan wajah yang tersenyum lebar menghalangi langkah pria itu yang ingin meninggalkan rumah.


__ADS_2