Penantian Cinta Sejati Kembali

Penantian Cinta Sejati Kembali
Reifan Jatuh Sakit


__ADS_3

"Katakan dimana Arisha!" Suara menggema dari Reifan sontak membuat tubuh Dara terjingkat kaget.


Ia tak menyangka saat itu Reifan bisa bernada tinggi di sela tubuhnya yang belum pulih total. Nalendra yang kesal tampak menepis kasar tangan sang kakak yang mencengkram kerah bajunya. Ia berjalan cepat meninggalkan Reifan tanpa memberi jawaban. Sesungguhnya Nalendra pun sangat mencemaskan Arisha saat ini. Ia melajukan mobil meninggalkan rumah kembali tanpa memberikan jawaban apa pun pada Reifan.


"Argh...kepalaku sakit." Rintihan Reifan terdengar saat ini. Ia memegang kepalanya yang terasa sakit.


Bibi dan Dara yang melihat pun berniat untuk menolong Reifan namun pria itu justru sudah rebah lebih dulu dari posisi berdirinya. Semua panik melihat Reifan tidak sadarkan diri. Wajahnya nampak pucat dan seluruh tubuhnya sudah lemas tanpa bisa bangun.


"Reifan, bangun!" teriak Dara.


"Tuan Reifan! Bagaimana ini, Nyonya?" Sang Bibi bertanya pada sang majikan besarnya.

__ADS_1


"Cepat panggil pelayan lainnya, Bi. Kita bawa Reifan ke rumah sakit segera." ujar Dara.


Tanpa menunggu lama Reifan kini sudah di larikan ke rumah sakit. Saat perjalanan Dara terdengar menghubungi seseorang yang tak lain adalah Gina.


"Gina, segera ke rumah sakit yah? Reifan tidak sadarkan diri lagi." sahutnya panik dan segera mematikan sambungan telepon kala mendengar Gina yang menyanggupi perintahnya.


Singkat cerita kini mereka sudah tiba di rumah sakit, dan Reifan pun telah di tangani oleh dokter di ruang IGD. Dara menghubungi Nalendra namun sang anak tak kunjung memberikan jawaban. Takut jika sampai terjadi sesuatu dengan Reifan.


"Kami belum bisa menemukan jejak pria itu, Tuan. Nyonya Arisha di bawa pergi dengan kendaraan udara oleh mereka. Itu sebabnya kami tidak bisa melacak cctv di jalanan. Sedangkan ponsel pria itu pun sudah tidak aktif juga. Kami memerlukan waktu untuk menemukan keberadaan mereka, Tuan." papar anak buah yang Nalendra tugaskan mencari sang kakak ipar.


"Argh Sialan! Kenapa mereka bisa menipu aku? Kak Arisha dalam bahaya jika seperti ini. Kak Rei tentu tidak bisa menangani ini semua. Ini bisa berakibat buruk dengan kesehatan Kak Rei." ujar Nalendra merasa serba salah saat ini. Ia tak mengerti harus melakukan apa saat ini.

__ADS_1


Pusing tentu saja Nalendra sangat pusing memikirkan semuanya. Belum lagi ia melihat berkali-kali sang Ibu menelponnya.


"Pasti ini karena Kak Rei. Bagaimana bisa aku mengangkat panggilan ini sedangkan Kak Arisha belum juga aku temukan?" gumamnya sangat pusing sekali.


Nalendra tak akan bisa tenang sebelum bisa menemukan keberadaan Arisha. Ia berusaha menghubungi beberapa orang yang melakukan bisnis dengan sang Kakak sebelumnya. Berusaha mencari tahu keberadaan pria itu. Berharap mereka pun saling kenal. Namun, nyatanya pria yang membawa Arisha pergi terlalu misterius untuk bisa ia ketahui identitasnya.


Sampai pada akhirnya Nalendra begitu syok mendapati pesan yang sang ibu kirim barusan.


"Nalendra, Kakak mu di rumah sakit. Ibu membawa Kakakmu ke rumah sakit karena jatuh pingsan lagi. Kemarilah Ibu sangat cemas." Tanpa bisa Nalendra membalas pesan sang ibu, ia pun segera kembali melajukan mobil menuju rumah sakit yang sang ibu sebutkan.


Satu masalah yang belum selesai kini harus di tambah dengan masalah yang lainnya lagi. Nalendra benar-benar tak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Pikirannya tengah bercabang tanpa bisa berpikir jalan keluar untuk menyelesaikan semuanya.

__ADS_1


__ADS_2