Penantian Cinta Sejati Kembali

Penantian Cinta Sejati Kembali
Kegelisahan Arisha


__ADS_3

Gina tersenyum sangat senang melihat raut wajah Arisha dari pantulan spion depan. Ia telah memenangkan Reifan dari Arisha. Sampai mengantar pulang ke rumah Gina pun Reifan rela untuk menentang ucapan istrinya.


“Rei, masuklah dulu. Biarkan aku memberikan minum untukmu. Setidaknya sebagai ucapan terimakasih karena sudah mengantarmu.” Suara lembut Gina lagi-lagi ingin sekali Arisha berteriak memakinya.


“Reifan harus segera istirahat. Biarkan dia pulang ke rumahnya. Apa tidak puas setelah ikut dengan acara kami seharian?” sahut Arisha tak suka.


Gina terdiam. Bukan karena ia kalah telak dari Arisha. Melainkan Gina tengah memainkan perannya dengan sangat baik.


“Baiklah. Maaf jika aku terlalu merepotkanmu. Aku hanya ingin Reifan segera sembuh setidaknya di rumahku Reifan bisa istirahat.” tutur Gina melemah.


Reifan segera menoleh padanya. Melihat wajah Gina yang sendu tentu sebuah beban bagi pria itu.


“Buatkan aku minuman kesukaanku. Aku akan turun.” Arisha menoleh ke samping begitu murka. Sedang Gina menoleh pada Reifan dengan wajah tersenyum lebar.


Deretan gigi putih yang rapi terlihat indah di bibir ranum milik Gina. “Rei, kau tidak berubah.” Secepatnya Gina bergegas turun dengan membawa Reifan masuk ke rumah.


Arisha yang sadar jika Gina tak mengajaknya berusaha masa bodoh. Kemana pun Reifan pergi maka Arisha akan tetap mengikuti sang suami.


Rumah yang cukup megah terlihat sunyi. Malam itu Gina di sambut hanya dengan pelayan. Kedua orangtuanya memang super sibuk sampai tak pernah memiliki waktu untuk anak-anak mereka.


Sepanjang memasuki rumah sang mantan, Reifan terus memperhatikan sudut rumah itu. Gina berjalan dengan wajah bahagia di samping Reifan.


“Dulu dalam seminggu tidak bisa terhitung berapa kali kau kemari. Aku sangat rindu momen setiap kemana pun kau selalu mengantarku, Rei.” Gina berucap hal di masa lalu.


Meski mereka duduk berjarak saat ini, namun pandangan Reifan memang hanya terus tertuju pada wanita masa lalunya itu.

__ADS_1


“Maafkan aku. Saat ini aku belum bisa mengingat jalanan bahkan cara membawa mobil.” ujar Reifan.


Keduanya terus berbincang sampai akhirnya Arisha berdehem.


“Ehem…mau sampai kapan berbicara? Ini sudah sangat malam. Minumannya apa Bibi yang membuatkannya?” sindir Arisha tak suka pada Gina.


Tak mau kalah telak, Gina bergegas menuju dapur menyediakan minuman spesial untuk Reifan. Tidak dengan Arisha yang hanya di berikan minuman teh hangat oleh pelayan.


“Tara…ini minuman kesukaanmu, Rei. Strawberry susu. Dulu minuman ini adalah kesukaanku. Tapi, karena kau sering merasakannya jadi ikut suka juga. Ayo di minum.”


Satu jam lamanya mereka menghabiskan waktu di rumah Gina. Kini Arisha membawa Reifan pulang. Sampai akhirnya keduanya pun tiba di rumah mereka. Arisha susah payah memapah tubuh sang suami yang sudah tidur. Tak tega membangunkan Reifan yang kelelahan.


“Maafkan aku, Rei. Gara-gara pekerjaanku tubuhmu jadi kelelahan.” ujar Arisha dalam hati.


Malam yang singkat Arisha gunakan untuk istirahat. Pagi ini ia beraktifitas seperti biasa melayani semua kebutuhan sang suami lalu bergegas mengurus dirinya yang harus ke klinik pagi-pagi sekali.


Arisha pergi setelah memastikan Reifan makan dan juga minum obat. Ia menuju klinik menemui klien.


“Kenapa aku merasa gelisah seperti ini sih? Ayo tenanglah Arisha. Kerjaanmu harus fokus. Namamu sedang mencari kepercayaan banyak klien. Jangan sampai kau mengecewakan mereka.” gumam Arisha dalam hati.


Sang suami yang belum pulih tinggal di rumah rasanya membuat Arisha tak tenang setiap berada di luar rumah.


Di sisi lain ada hal yang ternyata membuat Arisha tak tenang. Kala rumah yang di tinggali Reifan pagi ini justru kembali kedatangan sosok wanita yang bukan pertama kalinya berkunjung.


“Non Gina?” Sang Bibi terlihat kaget.

__ADS_1


“Minggir, Bi. Bibi buatkan saya jus atau apa yang seger-seger. Saya mau ketemu Reifan.” pintah Gina begitu santainya. Ia tak perduli sama sekali dengan ekspresi Bibi padanya.


“Maaf, Non. Tapi Nyonya Arisha sedang tidak di rumah. Non Gina tidak berhak masuk ke kamar Tuan dan Nyonya.” Dengan berani pelayan itu berkata.


Gina benar-benar tak suka mendengar ucapan pelayan itu padanya.


“Apaan sih, Bi? Reifan sendiri nggak masalah. Bibi jangan berani negur saya yah?” Begitu kasar Gina bertingkah laku sampai tega mendorong tubuh pelayan paruh baya itu.


Tubuh Bibi yang tak siap menerima serangan sontak terhempas ke arah bufet di dekatnya berdiri.


Bukannya prihatin, Gina justru meninggalkan pelayan itu berjalan ke arah kamar utama. Reifan yang bermain ponsel menoleh ketika melihat Gina datang dengan senyum lebar di wajahnya.


“Rei, jalan yuk.” ajak Gina manja mendekati Reifan.


“Jalan?” tanya Reifan mengerutkan kening. Dan Gina mengangguk.


“Iya kita jalan. Temani aku shoping.” ujar Gina.


“Tapi tubuhku sedang lemas, Gina.” ujar Reifan jujur. Kelelahan akibat perjalanan jauh ia merasa kepalanya sedikit goyang.


“Yah…padahal aku sudah cantik gini pengen jalan. Yaudah deh…” Lagi dan lagi Gina memperlihatkan wajahnya yang menekuk sedih.


Reifan selalu tak suka melihat wajah itu sedih. “Yasudah ayo kita jalan. Tapi tidak lama yah?” Gina pun mengangguk.


Andai Reifan tahu bagaimana sang istri yang bekerja sangat tidak tenang karena memikirkan sang suami. Justru di sini Reifan begitu memikirkan wanita yang sudah pernah mengecewakannya sangat dalam.

__ADS_1


Arisha yang begitu mencintainya sampai saat ini belum mampu membuat Reifan kembali dalam ingatan. Gina yang hanya mencintai hidup senangnya saja bersama Reifan mampu membuat keping-keping ingatan Reifan mulai menyatu perlahan.


__ADS_2