
Diam duduk di tepi pantai sampai suasana di luar villa itu nampak gelap, Arisha tak perduli tubuhnya yang kedinginan. Ia terus memikirkan cara apa yang bisa ia lakukan saat ini. Sampai akhirnya tubuh Arisha di rasa melayang di udara. Arisha terperanjat kaget menyadari dirinya tengah menuju villa dengan di gendong seorang pria.
"Lepaskan! Minggir! Turunkan aku!" teriak Arisha sembari menggigit lengan pria yang menggendongnya paksa.
Namun, pria bernama Wisnu Ariwibowo itu tak menunjukkan perubahan raut wajahnya. Ia terus berjalan memasukkan Arisha hingga keduanya tiba di dalam kamar. Arisha sempat bingung mana bisa pria itu bersikap santai dengan gigitan yang ia berikan sangat kuat.
"Istirahatlah di sini. Waktumu masih satu minggu di sini sebelum aku memutuskan untuk membawamu kembali atau tetap di sini." Langkah lebar milik Wisnu menghilang di balik daun pintu kamar Arisha.
Ingin menangis ingin teriak, Arisha sadar itu bukanlah jalan keluar. Kini Arisha hanya bisa berusaha berdamai dengan keadaan melihat pintu kamarnya kembali di kunci dari luar. Kelelahan berada di luar villa menahan dinginnya angin, kini Arisha merasa tubuhnya mulai tak nyaman.
"Tuhan, aku pasrah. Jika memang Reifan adalah jodohku maka pertemukan kami di waktu yang tepat. Tapi, jika memang dia bukan jodohku, aku mohon pertemukan kami secepatnya dan biarkan kami tetap berjodoh." ucap Arisha dalam doanya.
Pria yang sangat ia cintai tidak mungkin begitu mudah Arisha lepaskan. Terlebih dengan keadaan Reifan saat ini yang sedang membutuhkan dirinya.
***
Kini sinar mentari perlahan mulai bergerak naik pertanda jika malam yang gelap dan syahdu telah berakhir. Sosok pria yang semalaman tak pulang ke rumah kini mengerjapkan mata bersama seorang supir yang setia menemaninya.
"Tuan Reifan, apa sebaiknya kita pulang dulu? Setelah anda istirahat kita akan melanjutkan kembali pencarian Nyonya Arisha, Tuan." sahut sang supir yang langsung mendapat penolakan dari Reifan.
Ia pagi ini meminta supir untuk membeli makan bungkus agar mereka bisa makan di mobil. Reifan akan terus mencari Arisha sembari menunggu kabar dari pihak kepolisian.
__ADS_1
Sesuai dengan laporan yang Reifan buat, ia juga melaporkan Nalendra dan sang ibu ke pihak polisi atas dasar keterlibatan hilangnya sang istri. Tentu hal itu menjadi sesuatu yang sangat mengejutkan di kediaman Dara pagi ini.
Beberapa pria berseragam polisi sudah membawa paksa ibu dan anak itu. Dara terus berteriak menolak untuk di bawa ke kantor polisi sedangkan Nalendra hanya diam patuh masuk ke mobil.
"Maafkan aku, Kak Rei. Maafkan aku juga, Kak Arisha. Aku salah telah mengambil keputusan sendiri selama ini. Seharusnya aku segera membawa Kak Arisha kembali pada waktu itu. Bukan justru mendengarkan ucapan mereka." Penyesalan dari Nalendra membuatnya merasa bersalah.
Tidak seharusnya ia justru menghakimi sosok Reifan yang kasar pada Arisha. Semua masalah mereka tentu akan bisa di selesaikan ketika Reifan sudah mengingat semuanya. Bukan karena bantuan dari Nalendra yang memisahkan mereka berdua.
"Pak polisi tolong dengarkan saya! Saya tidak bersalah. Saya sama sekali tidak tahu apa-apa. Saya mau pulang." Dara berteriak sepanjang perjalanan enggan untuk di bawa ke kantor polisi.
Tak pernah terbayangkan jika dirinya akan mendapatkan pengalaman memalukan seperti ini. Rumah mewah miliknya terasa tercemari dengan tuduhan ini. Tangannya yang super putih dan mulus juga ikut tercemari karena kurungan borgol besi yang melingkar di kedua tangannya saat ini.
Namun, Reifan ternyata tidak main-main dalam menghadapi masalah yang menyangkut sang istri. Setelah beberapa menit berkendara dengan angkutan polisi, kini Dara dan juga Nalendra telah tiba di kantor polisi. Mereka turun dan di bawa masuk ke ruangan investigasi langsung.
Ketakutan semakin menjadi kala Dara melihat sosok gadis yang ia ajak bekerja sama selama ini, yaitu Gina.
"Tante," panggil Gina menangis ketakutan. Tangannya juga di lingkari oleh borgol saat ini.
"Gina? Kenapa kamu di sini juga?" tanya Dara panik lalu ia mengalihkan pandangannya ke arah lain di mana pihak polisi telah berdiri menjaganya.
"Pak Polisi, saya tidak terlibat sama sekali. Kenapa saya di libatkan. Saya sama sekali tidak tahu apa-apa. Bahkan sudah lama saya tidak pernah mendengar kabarnya." Dara berteriak histeris. Kini air matanya telah keluar sungguhan. Tak ada akting lagi yang ia tunjukkan. Dara benar-benar takut berhubungan dengan kepolisian.
__ADS_1
Sedih kini ia rasakan saat anak yang ia lahirkan sendiri dari rahimnya tega melaporkan dirinya dengan hal yang tidak ada ia lakukan. Reifan benar-benar menutup mata kasihan pada sang ibu demi seorang wanita yang sudah menjadi istrinya.
"Ayah, tolong Ibu. Ibu tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Reifan tega melaporkan Ibu seperti ini, Ayah. Ibu harus kemana saat ini? Tidak ada satu pun yang menyayangi Ibu." Dara menangis mengingat sang suami yang sudah pergi.
Nalendra semakin merasa bersalah mendengar keluhan ibu kandungnya. Tidak seharusnya keadaan menjadi semakin buruk seperti ini jika dirinya tidak bertindak sendiri di luar pengetahuan keluarga.
"Bu, kita di sini hanya di tahan sementara. Kita beri keterangan yang sebenarnya. Maka polisi tidak akan menahan kita sebagai tersangka." ujar Nalendra yang tak mendapat respon apa pun dari Dara.
Wanita paruh baya itu terlanjur kesal dengan sang anak sebab telah membela Arisha selama ini sementara karena Arisha lah keluarganya jadi berantakan. Reifan yang semula menyayangi sang ibu lebih dari siapa pun kini tega melaporkan sang ibu ke pihak polisi.
"Tante, tenanglah. Kita tidak melakukan apa pun. Jangan-jangan ini justru akal-akalannya Arisha, Tante? Jangan-jangan dia merencanakan ini semua untuk menghancurkan Tante dan Reifan. Arisha benar-benar keterlaluan." ujar Gina justru membuat Nalendra menggelengkan kepala tak habis pikir dengan jalan pikiran wanita licik itu.
Dara yang terang-terangan membela Gina selama ini pun masih bisa Gina jadikan alat untuk melancarkan jalannya kembali bersama Reifan.
"Tutup mulutmu, Gina!" sentak Nalendra tak kuasa menahan amarahnya. Ia tak lagi menyebut Gina dengan panggilan Kak. Kemarahannya sudah di luar batas saat ini.
Apa yang Gina lakukan tak pantas untuk di sebut Kakak lagi. Wanita itu sudah pantas untuk di musnahkan dari kehidupan mereka sebenarnya.
"Ada apa, Nalendra? Kenapa aku harus menutup mulutku? Atau jangan-jangan kau justru memang dalang di balik ini semua seperti apa yang Reifan katakan sebelumnya? Ouh aku tahu, apa sebenarnya kamu sudah menaruh hati dengan Arisha sampai menculiknya dan menikahi wanita itu? Di depan Reifan kamu berwajah seperti malaikat untuk Arisha dan Reifan?" panjang lebar Gina berucap hingga Nalendra tak kuasa menahan dirinya.
Pria itu berdiri bersamaan dengan tangannya yang memukul meja di depan.
__ADS_1