
“Ada apa, Bu?” Setiba Dara di rumahnya, Nalendra yang entah dari mana datangnya kini bertanya.
Pemuda tampan itu menatap sang ibu dengan tatapan teduh seperti biasanya. Sejak keduanya keluar dari kantor polisi, Nalendra baru kali ini kembali ke rumah. Entah apa yang ia lakukan di luar sana hingga Dara kesulitan menghubungi dirinya.
“Ndra, kamu dari mana saja? Ibu mencari kamu kemana-mana. Kamu mau buat Ibu umur pendek?” ketus Dara bertanya.
Mendengar ucapan sang ibu bukannya meminta maaf. Nalendra justru menghela napasnya kasar. Ia menatap wanita di depannya dengan perasaan sedih. Semua sikap sang ibu begitu terasa asing sejak kepergian sang ayan. Ia bagai wanita yang kehilangan arah dan tujuan hidup rasanya.
“Ibu yang membuat usia ibu lebih pendek. Bukan aku atau siapa pun. Ibu habis dari rumah Kak Rei, kan? Ngapain, Bu? Ibu mau hancurin mereka?” Manik mata Dara membulat mendengar ucapan sang anak.
Tujuannya memang itu. Tapi Dara tak mau di tuduh menghancurkan pernikahan anaknya. “Enak aja kata-kata kamu menghancurkan. Ibu hanya ingin yang terbaik untuk Kakakmu. Lihat sudah berapa lama mereka bersama, Ndra? Sampai saat ini Arisha belum juga hamil. Kamu pikir Ibu nggak cemas? Ibu sudah tua bahkan ayah kalian sudah tidak ada tanpa sempat melihat cucunya hadir. Kamu mau Ibu pergi tanpa melihat cucu juga?” Dara begitu emosi.
__ADS_1
Arisha adalah menantu yang sangat sempurna. Bahkan banyak teman-teman Dara yang memuji wanita berprofesi sebagai dokter kecantikan itu. Sayangnya Arisha justru tak bisa memberikan apa yang Dara inginkan. Wanita paruh baya itu terlalu ingin sebuah kesempurnaan tanpa adanya kekurangan.
“Bu, semua itu sudah ada garisnya. Kita hanya bisa berusaha dan berdoa. Dan semuanya bisa kok di bicarakan baik-baik. Kak Arisha itu menantu idaman. Kalau pun Kak Rei meninggalkannya untuk Ibu, mungkin aku yang akan mengambil Kak Arisha.” Ucapan Nalendra yang begitu banyak di ucapkan oleh pria lain di luar sana membuat Dara mendelikkan matanya.
Tak habis pikir jika kedua putranya bisa begitu tergila-gila dengan wanita yang sama. Kesal Dara sampai ingin mencabik-cabik wajah sang anak.
“Bercanda, Bu. Itu hanya perumpamaan pria di luar sana. Ibu nggak iri nanti teman-teman Ibu justru rebutan ngelamar Kak Arisha untuk anak mereka?” Dara menggelengkan kepala ingin menolak ucapan sang anak. Sampai akhirnya suara dari arah luar terdengar mendekati keduanya.
Ia buru-buru pergi ke kamar tanpa perduli Dara yang berteriak memanggilnya.
“Ada apa, Tante? Kok marah-marah ke Nalendra? Oh iya Tante tadi suruh Gina ke sini ada apa yah?” tanya Gina yang penasaran.
__ADS_1
Dara memang ingin curhat mengenai kejadian di rumah sang anak dan menantu barusan. Darahnya terasa naik sangat tinggi melihat tingkah Arisha.
“Itu si Arisha benar-benar keterlaluan dia. Masa semua barang di kamarnya di buang begitu saja hanya karena kamu pernah menyentuh barang itu.” Sontak mendengar cerita Dara, Gina pun tercengang.
Bukan tidak tahu barang yang ada di rumah Reifan semuanya adalah barang yang di pesan secara khusus. Harganya pun tak ada yang murah.
Merasa ada kesempatan, Gina justru menambah rasa kesal pada Dara.
“Wah bahaya banget yah, Tan? Si Arisha itu mentang-mentang wanita karir jadi seenaknya gitu sama Reifan. Dia kelihatan seperti menginjak-injak harga diri suaminya kalau begitu. Kasihan kamu, Rei…” ujar Gina menunjukkan wajah prihatin.
Makna yang sebenarnya Gina sangat ingin membuat Dara dan Arisha semakin ribut. Sampai akhirnya ia bisa mendekati Reifan kembali.
__ADS_1
“Kamu benar, Gina. Arisha sudah merendahkan harga diri anak Tante.” sahut Dara.