
Tepat pada pukul tujuh malam kini Arisha telah kembali ke rumah dimana sang suami telah menunggu kepulangannya. Reifan menatap tajam setiap langkah sang istri yang mendekat padanya. Terlihat dari arah depan sana Arisha tersenyum padanya merentangkan tangan bersiap untuk memeluk sang suami.
"Rei, aku pulang." serunya berjalan cepat.
Hingga saat keduanya sudah berhadapan, Reifan justru menepis kasar tangan sang istri ke samping yang ingin melingkar di tubuhnya. Arisha tercengang melihat sikap ingin suaminya. Senyum yang tadinya mengembang sirna seketika. Arisha terheran dengan sikap sang suami yang tidak ia duga.
"Rei..." Belum saja sempat Arisha berucap lagi, Reifan justru menunjuk pada benda yang ia taruh di meja depannya.
"Jelaskan padaku apa itu?" tunjuk Reifan. Dimana manik mata Arisha mengikuti pergerakan tangan sang suami.
__ADS_1
Suara Reifan terdengar begitu lantang di rumah itu. Arisha sampai terjingkat kaget mendengar bentakan sang suami.
"Rei, kau membentakku?" tanya Arisha dengan suara bergetar.
Bukan tak pernah mendapat suara lantang seperti itu. Namun, semenjak menikah dengan Reifan sampai pria itu kembali dalam ingatannya tak pernah Reifan bersikap demikian pada Arisha kecuali ketika dirinya hilang ingatan waktu lalu.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, Arisha. Kamu tahu kan apa itu? Untuk apa kau memakainya? Huh! Untuk apa? Kau tidak ingin memiliki anak? Iya?" Reifan yang merasa kesal sekali sampai mencengkram kuat kedua lengan sang istri.
"Iya aku tahu apa itu, Rei. Dan aku memang meminumnya. Tapi, aku bisa jelaskan." terang Arisha yang langsung membuat Riefan menyugar kasar rambutnya ke belakang.
__ADS_1
Rasanya begitu kesal untuk Reifan saat tahu jika dirinya telah di bohongi oleh sang istri selama ini. Reifan melangkah meninggalkan Arisha tanpa mau mendengar penjelasan sang istri lagi.
"Rei, dengarkan dulu penjelasanku. Aku bisa jelaskan ini semua mengapa aku meminum pil penunda kehamilan itu. Rei!" Teriak Arisha sama sekali tak di gubris oleh Reifan.
Pria itu melangkah menuju kamar tamu. Ia tak tahu harus kemana saat ini selain menjauh dan menenangkan diri dari Arisha. Kecewa begitu sangat ia rasakan saat di mana mereka tengah susah payah melakukan program hamil justru Arisha melakukan kesalahan.
Arisha terduduk lemas di ruang tengah itu. Matanya menatap nanar benda yang ada di depannya saat ini. Lelah di tubuh berharap pulang bisa mendapat kasih sayang sang suami. Namun, Reifan justru tak mau melihat wajahnya saat ini.
"Bi, tolong antar makan saya ke kamar dan kamar tamu yah? Nanti sekalian bawakan obat untuk suami saya." pintah Arisha mendekati pelayan yang berdiri menunduk di dapur melihat kedatangan sang majikan.
__ADS_1
Arisha bergegas menuju kamarnya untuk menenangkan diri. Berharap ini hanya masalah yang akan segera bisa di selesaikan dengan baik. Malam itu keduanya makan dan istirahat di kamar mereka masing-masing. Arisha yang kelelahan tertidur begitu lelap. Sedangkan Reifan tanpa pengetahuan sang istri justru meninggalkan rumah itu setelah memastikan sebuah mobil di depan rumah menjemputnya.
"Bi, jaga Arisha. Saya akan pergi dan besok kembali lagi." Itu pesan yang Reifan ucapkan sebelum meninggalkan rumah. Patuh pelayan serta security mengangguk mengiyakan perintah sang majikan.