
"Wah ini pasti bukan masakan Kak Arisha yah? Aku tahu banget ini beda rasanya sama buatan tangan Kakak." celetuk Nalendra di sela-sela ia menikmati hidangan malam itu.
"Iya dong. Kamu kan tahu Kakak jarang masak kecuali suami Kakak yang minta di masakin." ujar Arisha membuat Reifan menatapnya.
Selama pulih Reifan mengingat ia tak pernah meminta masakan sang istri. Hal itu belum terlintas dalam ingatannya. Saat ini di depannya Arisha dan Nalendra justru tertawa bersama menceritakan masa lalu Arisha bersama Reifan ketika pria itu masih dalam masa kritis hingga tidak ingat apa pun.
"Kak Rei benar-benar tega. Suami payah. Untung saja Kak Arisha bisa sabar merawat suami seperti Kakak." ujar Nalendra lagi.
Reifan terus saja diam mencerna setiap kejadian yang satu-persatu di bahas oleh Arisha dan Nalendra. Malam itu ia tampak sedang mengobati sakitnya sendiri. Reifan tidak lagi kesal pada sang adik. Justru ia mencoba mengingat momen di mana Nalendra mengatakan jika Arisha dan Reifan dulunya sering berlibur bersama ketika libur bekerja.
"Arisha, aku mengingatnya." sahut Reifan tiba-tiba. Arisha dan Nalendra berhenti tersenyum. Mereka diam menunggu kelanjutan ucapan Reifan.
__ADS_1
"Rei, apa yang kau ingat?" tanya Arisha.
"Aku ingat kita pernah berlibur ke Belanda. Iya aku ingat saat itu." Reifan mengembangkan senyum bersama dengan Arisha yang juga tersenyum menatapnya.
Arisha senang mendengar ucapan sang suami. Ia segera memeluk lengan Reifan dengan penuh sayang. Tak di sangka kini sang suami perlahan sudah mulai kembali pulih.
"Dan aku juga ingat siapa dia." tunjuk Reifan pada Nalendra yang terhenti tersenyum. Nalendra menantikan kelanjutan ucapan sang kakak sampai akhirnya terdengarnya ucapan Reifan.
Benar ucapan sang suami memang tidak salah. Nalendra sewaktu mereka pergi ke belanda memang ikut dan yang muncul dalam ingatan Reifan adalah ketika Nalendra membawa koper mereka semua keluar dari bandara. Kini Nalendra menghela napas kasar kesal dengan ingatan sang kakak.
"Apa sih, Kak Rei? Aku ini adik kandung satu-satunya yang paling mendukung Kak Arisha selama Kakak sendiri menghakimi istri kakak. Kenapa sampai sekarang Kakak tidak bisa melihat ketulusanku?" ujar Nalendra kesal.
__ADS_1
"Mungkin saja kau tulus dengan istriku tapi tidak dengan aku." sahut Reifan begitu saja tanpa dosa.
Nalendra kembali melanjutkan makan malamnya tanpa perduli lagi dengan kemesraan sepasang suami istri di depannya. Tak masalah baginya jika saat ini Reifan masih tidak menganggap dirinya sebagai adik. Yang terpenting bagi Nalendra adalah ia melihat kebahagiaan kedua kakaknya saat ini.
Sementara di kediaman Dara terlihat Gina datang menemui wanita paruh baya itu. Dara terus memperhatikan ekspresi wajah Gina yang tidak semangat seperti biasanya.
"Ada apa, Gina?" tanyanya yang penasaran.
"Maaf, Tante. Sepertinya saya tidak bisa lagi mendekati Reifan dan merebutnya dari Arisha. Saya ingin kembali kerja, Tante. Saya tidak bisa terlalu lama seperti ini mengemis pada Reifan sedangkan dia saat ini sudah ingat semuanya." ujar Gina putus asa.
Mendengar itu Dara tampak terkejut. "Kenapa kamu mudah sekali menyerah? Yang terpenting kamu bisa menjebak Reifan dan mendapat anak darinya itu tidak akan sulit, Gina. Lihat sampai saat ini Arisha itu belum ada tanda-tanda hamil." sahut Dara bersikeras mempertahankan Gina untuk menjadi teamnya.
__ADS_1