
“Rei, aku mau bicara sama kamu.” tutur Gina kala melihat Reifan melangkah mendekatinya.
Sebaik mungkin Gina harus bisa menunjukkan sikap tulusnya agar Reifan mau percaya padanya. Setidaknya masa lalu mereka belum teringat oleh Reifan.
“Untuk apa kemari? Aku tidak ingin kalian terus mengganggu kami.” sahut Reifan terdengar begitu ketus.
Gina menggeleng tersenyum tak terlihat marah. “Apa sih, Rei? Kalian? Siapa maksudmu? Aku tidak pernah mengganggumu. Aku hanya ingin bertemu dan kita bicara baik-baik.” sahut Gina meraih tangan Reifan.
Tak suka di sentuh seperti itu, Reifan menepis tangan Gina kasar. Ia tak ingin mencari masalah lagi dengan sang istri.
“Rei, beri aku kesempatan. Kita hanya butuh waktu bersama. Kamu akan tahu bagaimana cinta kita dulu.” Reifan menggeleng terkekeh.
Mendengar ucapan Gina terasa begitu menggelitik perut. Reifan benar-benar muak menghadapi wanita satu ini.
__ADS_1
“Cih waktu bersama? Hubungan kita dulu? Jangan kamu pikir saya tidak tahu semuanya Gina. Sekarang pergi dari sini dan jangan pernah kamu datang di hadapan saya!” Gina terjingkat kaget mendengar ucapan Reifan bernada sangat tinggi.
Pikirnya tidak mungkin Reifan mengingat semua kejadian di masa lalu termasuk bagaimana hancurnya hubungan mereka.
“Rei, kamu ngarang cerita kan? Kita baik-baik saja sebelum wanita itu datang merusak semuanya.” Air mata kini Gina jatuhkan di kedua pipinya.
Tak bisa membawa Reifan ke dalam pelukannya dengan cara merayu kini Gina memperlihatkan kesedihannya. Dulu Reifan adalah pria yang tidak bisa melihat Gina menangis.
“Rei, aku mohon.” Gina menarik tangan Reifan untuk ia peluk.
Hampir saja Gina tersungkur ke tanah jika tidak ia menahan tubuhnya. Keduanya terus menjadi objek penglihatan dari Arisha. Wanita itu tak ingin membuang tenaganya hanya untuk menghadapi Gina.
“Rei, aku tidak mau kita pisah. Aku siap menjadi istri kedua kamu.” Ucapan dari Gina benar-benar terdengae gila di telinga Reifan.
__ADS_1
“Tidak akan pernah terjadi hal gila itu, Gina. Aku sangat mencintai istriku. Dan kamu, jangan lupa tentang tragedi di apartemen itu dulu, Gina!” Mendengar penuturan Reifan sontak membuat Gina terdiam mematung.
Ia terdiam membisu tanpa bisa mendekati Reifan lagi. Tentu saja ucapan Reifan bermakna jika ia sudah mengingat semuanya.
“Sayang, ayo masuk.” ajak Reifan kembali ke mobil menjemput Arisha.
Mereka masuk ke dalam rumah tanpa menatap Gina yang masih diam membisu. Tak ada kata yang bisa Gina ucapkan mendengar kenyataan yang sudah Reifan ingat. Apa pun ucapannya tak akan bisa membenarkan perselingkuhannya dulu di belakang Reifan.
“Kamu ngomong apa sama dia, Rei?” tanya Arisha yang penasaran melihat Gina sama sekali tidak mengganggu mereka ketika lewat di depannya.
“Cukup aku bilang aku punya kamu sudah itu saja.”’ujar Reifan.
Namun, Arisa rasanya tak percaya mendengar ucapan sang suami. Sementara Reifan terlihat tersenyum kecut mengingat bayangan di kepalanya yang terlintas bagaimana sosok wanita menangis melihat kemarahannya.
__ADS_1
“Meski aku tidak bisa melihat jelas wajah wanita itu. Tapi, aku yakin dia adalah Gina. Itu alasannya mengapa aku bisa menikah dengan Arisha. Yah, aku sangat yakin kejadian yang muncul di ingatanku pasti tentang Gina yang berkhianat.” gumam Reifan begitu percayanya.
Sampai akhirnya mereka masuk ke dalam kamar. Arisha segera bergegas membersihkan diri begitu pun Reifan yang menyusul masuk ke dalam kamar mandi.