
“Rei, dari mana saja? Kenapa tidak bilang padaku?” Arisha berdiri menyambut kedatangan sang suami.
Di lihatnya pria tampan itu menatapnya dengan datar. Di belakangnya ada wanita yang tersenyum sinis pada Arisha. Gina benar-benar tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk dekat dengan Reifan.
Reifan hanya diam tanpa merespon pertanyaan sang istri. Pria tampan itu melangkah masuk ke villa meninggalkan Arisha.
“Sebaiknya jangan berharap lebih. Reifan itu memang cintanya sama aku. Mamah benar jika aku harus pulanh ke Indonesia untuk mengurus Reifan. Sebab dia memang tidak pantas untuk di rawat olehmu.” Kesabaran Arisha terasa habis mendengar ucapan Gina yang tidak tahu malunya.
Reifan yang sudah meninggalkan keduanya tak tahu apa yang terjadi.
“Harus yah berbangga hati dengan mengejar suami orang? Di luar sana sebutan wanita panggilan sepertinya jauh lebih terhormat dari pada wanita yang tidak di panggil sepertimu datang merusak pernikahan orang lain.” Keduanya saling bertatap penuh arti.
Gina menarik napas dalam mendengar ucapan Arisha yang sangat menghina dirinya. Bagaimana mungkin ia di bandingkan dengan wanita panggilan.
“Arisha, jaga bicaramu!” tekan Gina menunjuk wajah Arisha.
__ADS_1
Arisha menggenggam telunjuk yang mengarah pada wajahnya. “Jangan pernah gunakan tangan kotor ini untuk menunjuk wajahku. Jangan pernah berbangga atas semua ini, Gina. Ingat ini hanya soal waktu. Reifan adalah milikku dan selamanya akan tetap menjadi milikku.” Arisha menghempaskan tangan Gina kasar.
Ia pun pergi menyusul sang suami ke dalam kamar. Dilihatnya Reifan berbaring di kasur.
Arisha tak ingin mengganggu sang suami. Terlihat wajah Reifan yang nampak kelelahan. Arisha memilih duduk di sofa untuk membuka laptopnya.
“Sial! Berani sekali dia berkata seperti itu padaku. Memangnya siapa dia? Aku bisa meraih apa pun yang aku mau termasuk membawa Reifan kembali padaku.” Gina menuju kamar yang seharusnya tidak ia tuju.
Ketukan di daun pintu membuat Arisha menoleh menatap Reifan yang juga menatapnya.
“Rei, kau belum tidurkan? Aku boleh masuk yah?” Teriakan Gina di luar sana sontak membuat Arisha hanya menghela napas kasar.
Arisha menggeleng kecil lalu kembali fokus pada laptopnya.
“Katakan pada Gina aku ingin istirahat. Kepalaku pusing.” pintah Reifan yang sontak mendapat anggukan kepala dari Arisha.
__ADS_1
Senang tentu saja Arisha rasakan saat ini. Meski itu bukan karena dirinya tetapi dengan Reifan yang bisa menolak Gina sudah menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri untuk Arisha.
Dengan senang hati wanita itu meletakkan laptop. Ia menuju pintu dan terbukalah daun pintu tersebut.
“Ada apa?” tanya Arisha.
“Minggir!” Ketus Gina bersuara, tangannya mendorong kasar tubuh Arisha namun Arisha begitu kokoh berdiri.
Secepat kilat Arisha mencekal pergelangan tangan Gina. “Jangan masuk. Ini bukan wilayahmu, Gina. Keluarlah! Rei ingin istirahat.” Kasar Arisha mendorong tubuh Gina keluar dan menutup pintu kamar itu.
“Sialan Arisha! Lihat saja kau bisa begini padaku saat ini. Tapi secepatnya Reifan akan menceraikan kamu. Aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku.”
Gina pun melangkah pergi. Melihat Reifan yang memang memejamkan mata di dalam kamar tadi, ia tak ingin membuat Reifan marah. Gina tak bolej cacat sedikit pun di mata Reifan. Jika itu sampai terjadi maka peluangnya menjadi pujaan hati Reifan akan terancam.
Ketika langit sore menyapa, kini Arisha membangunkan sang suami. Sinar mentari yang menembus kamar berjendela kaca dengan gorden putih itu membuat Arisha bergegas menyudahi pekerjaannya.
__ADS_1
Meski dari jauh ia tetap bisa bekerja dengan laptop. Usahanya di bidang kecantikan semakin maju dengan pesat.
“Rei, bangunlah. Sudah sore. Kau harus segera mandi. Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu.” Lembut Arisha berkata sembari menepuk pelan pipi sang suami.