
"Rei, aku akan jelaskan." Arisha yang mendekat pada sang suami sembari menggapai lengan Reifan justru di tepis pria itu dengan pelan. Terlihat raut wajah Reifan sangat tak enak di lihat saat ini. Ia menatap Wisnu dengan tatapan kesal tak percaya jika hubungan Arisha dengan pria itu adalah sepupu.
Pasalnya Reifan tak pernah melihat sosok Wisnu berada di sekitar sang istri. Hanya karena hubungan sepupu menurut Reifan tak benar jika Wisnu sampai sedalam itu mencampuri urusan pernikahan Arisha.
"Aku tidak akan percaya. Siapa kau sebenarnya!" Saat itu Arisha kaget mendengar suara bernada tinggi milik Reifan.
"Rei, kendalikan dirimu." sahut Arisha yang tak di gubris sama sekali oleh pria itu.
Reifan melangkah mendekati Wisnu mengikuti rasa amarahnya. Suami mana yang tidak marah jika ada pria lain berani mengusik pernikahannya dengan membawa pergi sang istri entah kemana dan berapa hari lamanya. Reifan merasa kesabarannya telah habis. Tangannya bergerak cepat ingin memukul wajah pria yang juga tampan sepertinya. Jujur Reifan selain cemburu dengan penculikan itu, ia juga kesal sebab pria yang bersama sang istri memanglah setara untuk jadi tandingannya saat ini.
"Kau pikir kau dengan mudah menyentuhku? Reifan, aku tidak akan membiarkan itu. Ingat aku akan kembali kemari jika kau berani menyakiti Arisha dan membawa wanita lain masuk ke rumah ini seperti yang kau lakukan ketika Arisha tidak ada." Bukan hanya Arisha yang terkejut mendengar penuturan Wisnu barusan. Reifan pun juga sama terkejutnya.
Seketika tangan Reifan yang di cekal kuat oleh Wisnu ia hempas kuat. Wisnu melangkah masuk ke dalam helikopter kembali tanpa mengatakan apa pun. Wajahnya menebar senyum tipis melihat bagaimana reaksi Reifan dan juga Arisha.
"Huh rasakan itu. Aku memberikanmu hadiah sebelum aku pulang, Rei. Kau pantas mendapat hukuman dengan amukan istrimu itu." gumam Wisnu dalam hatinya.
__ADS_1
Benar saja ketika helikopter belum sempat terbang sempurna, Reifan sudah tersadar dari lamunannya. Pertanyaan dalam pikirannya adalah bagaimana bisa Wisnu tahu tentang Gina? Itu artinya selama ini Wisnu tidak hanya fokus pada Arisha. Melainkan ia juga tengah fokus memantau pergerakan Reifan.
"Benarkah yang di katakan Wisnu?" tanya Arisha menatap penuh selidik sang suami.
Mendadak Reifan kehilangan akal untuk beralasan. Ia tidak tahu harus menjawab tidak atau iya. Dua-duanya tentu akan menjadi masalah untuk Reifan nantinya. Berbeda jika saja pria itu belum pulih dari ingatannya.
"Arisha, kepalaku sakit..." keluh Reifan yang memegang kepalanya tiba-tiba.
Jika biasanya Arisha akan sangat perhatian dengan sang suami, tidak kali ini. Arisha benar-benar marah mendengar ada wanita lain di bawa sang suami masuk ke rumah mereka. Yakin seratus persen wanita itu sudah pasti Gina yang tidak tahu diri itu.
Sirna sudah rasa rindu dan khawatirnya pada Reifan. Kini pria itu sudah ingat semuanya dimana Arisha tak perlu lagi mencemaskan kemarahan sang suami yang bisa berdampak pada perceraian mereka.
"Arisha!" panggil Reifan berteriak mengejar sang istri namun tak kunjung ia gapai.
Arisha tampak acuh dengan suara Reifan. Tempat pertama yang ia tuju adalah ruang cctv kamar. Matanya memutar cepat detik demi detik selama waktu yang ia pergi. Benar saja setiap hari dan hampir setiap jam Gina di kamarnya meski mereka tak melakukan hubungan apa pun. Sebab Reifan pun memang masih menjaga batas meski ia mengingat Gina satu-satunya wanita yang ada di hatinya. Reifan tak akan pernah mau menyentuh wanita yang belum sah menjadi istrinya.
__ADS_1
"Arisha, maafkan aku. Aku benar-benar tidak tahu ini semua kenapa bisa terjadi. Tapi, aku jamin seratus persen aku masih bersih. Tubuhku masih murni suamimu, Sayang. Ayolah..." bujuk Reifan yang mendekati sang istri.
Arisha terus saja menepis tangan Reifan dan fokus menatap layar monitor. Setelah selesai rekaman cctv di hari terakhir dimana akhirnya Arisha kembali, wanita itu melangkah menuju ranjang. Reifan berdiri memperhatikan sang istri yang sibuk mengemasi semua barang di kamarnya.
"Bibi! Bibi!" panggil Arisha sangat kuat.
Saat ini emosinya sedang naik-naiknya sampai tidak memikirkan sang suami yang belum benar-benar pulih. Intinya Arisha sedang cemburu berat saat ini. Toh Reifan sudah mengingatnya kembali dimana artinya sang suami sudah kembali mengingatnya sebagai wanita yang paling ia cintai.
"I-Iya, Nyonya?" sahut pelayan dengan sopan. Di wajahnya terlihat senang melihat sang majikan sudah kembali hari ini.
"Bi, tolong minta bantuan siapa pun pak security juga boleh. Bawa semua ini dan ini ranjangnya sumbangkan sama orang yang butuh Saya mau kamar ini steril semuanya. Saya akan belanja yang baru." Tidak hanya pelayan saja yang syok mendengar Arisha, melainkan Reifan pun tak kalah syoknya mendengar ucapan sang istri.
"Dengarkan, Bi?" tambah Arisha lagi yang hanya bisa mendapat anggukan patuh dari pelayan.
Marahnya wanita yang sedang cemburu tidak akan bisa di lawan. Jika sulit di kendalikan mungkin mereka bahkan mampu membakar suaminya sendiri.
__ADS_1