
Pagi hari setelah kemarin satu harian menjadi hari yang begitu melelahkan untuk Arisha mau pun Reifan, kini keduanya tampak rapi usai sarapan bersama. Arisha yang melihat wajah pucat sang suami semalam mendadak lemah. Amarahnya yang masih ingin ia luapkan akhirnya tak lagi di keluarkan. Ia justru memperhatikan Reifan dengan begitu tulusnya. Meminumkan sang suami obat pereda nyeri di kepala serta memijat tubuh sang suami. Dan pagi ini Reifan menatap sang istri dengan senyum-senyum.
"Kenapa senyum seperti itu, Rei? Ada yang salah denganku?" tanya Arisha. Reifan hanya menggelengkan kepalanya.
Ia mengecup kening sang istri. "Maaf aku sudah membuat kamu marah-marah. Aku yang belum mengingat semuanya saat ini meminta bantuan dari istri tercintaku. Apa boleh aku di ingatkan tentang semuanya?" tanya Reifan yang membuat Arisha mengangguk tersenyum.
Setidaknya Arisha tak ingin memaksakan keadaan. Ia hanya akan menceritakan semua kehidupan mereka dan aktifitas sang suami sebelumnya.
"Baiklah setelah jam kerjaku selesai nanti kita akan pergi ke suatu tempat. Di sana mungkin kau akan lebih mudah mengingat saat aku menceritakannya." Reifan mengangguk setuju. Keduanya pergi menuju klinik kecantikan Arisha.
__ADS_1
Reifan hanya duduk di ruang kerja sang istri sementara Arisha terlihat menemui pasien di ruangan khusus perawatan. Bangga tentu saja Reifan rasakan saat ini ketika mengetahui ia memiliki istri yang sukses dan serba bisa.
"Jangan pernah menjatuhkan air mata Arisha. Jika aku tahu hal itu maka aku tidak akan membuat kalian bisa bertemu lagi!" Tiba-tiba saja Reifan mengingat ucapan dari pria yang sudah membuatnya berpisah dengan Arisha.
Sampai akhirnya lamunan pria itu buyar ketika Reifan mendengar ponselnya berdering. Panggilan dari sang Ibu membuat Reifan menghela napas. Ia mengangkat tanpa berkata apa pun.
"Rei, kamu dimana? Kenapa Ibu ke rumah kamu tidak ada? Kamu tidak lupa kan kalau keadaan kamu belum sangat baik? Katakan di mana kamu sekarang? Ibu akan menjemput." ujar Dara di seberang sana membuat Reifan memijat kepala lelah.
Kesal rasanya mendapati sikap cuek sang anak. Satu orang pun tak ada yang Reifan dengarkan saat ini selain Arisha.
__ADS_1
"Rei, ayo kita keluar." Panggilan itu membuat Reifan menoleh. Ternyata sang istri sudah berdiri di pintu ruangan itu dengan wajah tersenyum-senyum. Rupanya Arisha tadi mendengar ucapan Reifan kepada sang ibu.
Keduanya meninggalkan klinik setelah Arisha memastikan tak ada jadwal pasien yang sudah mengadakan janji dengannya.
"Khansa, saya titip klink. Kamu hubungi saya jika ada apa-apa segera yah?" ujar Arisha sebelum ia benar-benar pergi dari kliniknya.
"Baik, Dokter Arisha. Semoga hari anda menyenangkan bersama Pak Rei." ujar Khansa yang menjadi kepercayaan Arisha.
Keduanya saling bergandengan tangan menuju mobil begitu tampak serasi. Tak ada yang tahu jika dari arah lain ternyata Gina sudah memata-matai keduanya. Wanita itu terlihat menaikkan sebelah alisnya seolah menunjukkan rencana jahat saat ini.
__ADS_1
"Aku tidak akan biarkan semua kembali seperti semula, Arisha. Kamu pikir Reifan akan selamanya untukmu? Tidak akan. Aku tidak akan mau. Reifan harus kembali denganku lagi. Barang yang sudah ku titipkan padamu kini sudah waktunya ku ambil kembali." gumam Gina begitu jahatnya.