
Di rumah yang terasa sunyi Arisha melihat pria yang duduk menunggunya sesuai dengan janji pagi tadi. Reifan bahkan langsung berjalan menyambut kedatangan sang istri. Rasa kecewanya memang masih ada namun ia merasa penjelasan Arisha sangat ia butuhkan. Wanita yang tulus merawatnya meski berkali-kali ia tolak saat lupa ingatan, tentu tidak mungkin melakukan hal itu tanpa alasan.
“Sudah pulang?” sapanya lembut memeluk tubuh wanitanya.
Arisha mengangguk tanpa suara. Tubuhnya lelah tak mampu untuk ia bawa berkeras melawan suaminya.
“Kita bicara dulu.” Reifan menggandeng tangan Arisha duduk di ruang keluarga.
Keduanya saling diam di sofa sampai akhirnya Arisha berterus terang lebih dulu.
“Aku memang sempat menggunakan pil itu.” Pertama kali ia mengatakan pada sang suami. Dimana Reifan mengerutkan kening menunggu kelanjutan ucapan Arisha.
“Aku punya alasan, Rei. Aku tidak ingin hamil dulu sementara suamiku sendiri tidak ingat padaku. Aku tidak ingin masa kehamilan yang aku tunggu-tunggu justru tidak bahagia dengan tuduhan kamu yang macam-macam.” Barulah Reifan menghela napas kasar.
Kini ia mengerti alasan apa yang membuat sang istri menunda kehamilan. Ia sadar betul bagaimana perilakunya pada sang istri selama Reifan lupa ingatan. Ia tak segan mencintai wanita masa lalunya di depan Arisha.
__ADS_1
“Tapi, kenapa harus meminumnya? Bukankah kita tidak pernah berhubungan selama aku lupa ingatan?” tanya Reifan lagi.
Arisha menggeleng tersenyum kecut. “Aku atau pun kamu sekali pun tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi, Rei. Aku hanya ingin menjaga selagi aku bisa menjaga diriku. Jika bukan aku siapa lagi yang menjagaku?” Rasanya sebagai suami Reifan seperti merasa tersudut dengan ucapan istrinya.
Arisha benar. Bahkan suami yang ia cintai dan rawat sepenuh hati pun bisa saja meninggalkan dirinya. Tak ada satu pun orang yang bisa ia percaya menjaganya selain diri sendiri.
“Arisha, maafkan aku. Aku tidak menginginkan ini semua. Maaf jika aku sudah sangat membuatku hilang kepercayaan. Ini semua di luar kendaliku. Aku minta maaf sudah marah sama kamu tanpa tahu kebenarannya.” Reifan menatap dalam manik mata Arisha. Ia memeluk tubuh letih istrinya itu dengan penuh rasa penyesalan.
Arisha diam. Arisha tak berkomentar apa pun. Ia pun sudah merasa dirinya baik-baik saja saat ini. Reifan bukanlah pria yang mudah tergoda pada wanita di luar sana. Dengan Gina pun rasanya Arisha yakin jika wanita itulah yang berusaha mengejar sang suami sampai detik ini.
“Aku percaya, Rei. Kamu tidak menginginkan kedekatan dengan wanita itu. Dan aku percaya kamu tidak mungkin melakukan apa-apa dengannya.” sahut Arisha mantap.
Reifan senang ia tersenyum mendengar ucapan sang istri yang begitu yakin padanya.
“Aku tidur di rumah Ibu semalam. Dan dia tiba-tiba datang mengajak berdamai. Tapi, aku akan pastikan pagi tadi adalah pertemuan terakhir kami. Kamu tidak usah khawatir, Sayang.” ujar Reifan.
__ADS_1
Arisha pun menganggukkan kepala seraya menghela napasnya kasar. Menurutnya Gina bukanlah wanita yang mudah menyerah. Di tambah lagi ia mendapat dukungan dari ibunya Reifan.
“Gina bukan wanita yang semudah itu mundur jika ia menginginkan sesuatu, Rei. Tapi, aku percaya denganmu.” Reifan tersenyum benar-benar lega rasanya memiliki istri yang setenang Arisha.
Keduanya cukup lama berbicara sekedar melepas rindu seharian berpisah. Akhirnya Reifan menggendong Arisha menuju kamar dan mereka mandi bersama. Kemesraan terjalin di dalam kamar utama malam ini.
Sejak keluar dari kamar, kini wajah Arisha terlihat berbinar bahagia begitu pun dengan Reifan. Pria itu sangat tahu obat untuk menyelesaikan masalah dalam suami istri.
“Kenapa sih senyum-senyum?” tanya Arisha salah tingkah saat mereka berada di meja makan.
“Kirain suntikan dokter aja yah yang bisa bikin pasiennya teriak? Ternyata suntikan ku juga bisa bikin dokternya teriak.”
“Rei!” Arisha memekik kaget mendengar ucapan suaminya.
Wajah wanita itu merona malu saat ini.
__ADS_1
“Memangnya Tuan Rei juga punya suntikan yah? Apa Nyonya Arisha sakit, Tuan?” Arisha semakin malu ketika sadar di ruangan itu tidak hanya ada mereka berdua saja. Dimana pelayan tengah berjalan membawakan semangkuk sayuran ke atas meja.