Penantian Cinta Sejati Kembali

Penantian Cinta Sejati Kembali
Permintaan Mertua


__ADS_3

Hari ini di pagi yang cukup cerah, terlihat sepasang suami istri sedang berpelukan erat di depan rumah. Wajah keduanya berseri-seri bahagia. Semua badai telah mereka hadapi dan selesaikan dengan baik. Arisha senang melihat semangat sang suami untuk kembali bekerja lagi.


“Kamu yakin bisa kerja hari ini? Aku takut kepalamu sakit lagi, Rei.” tuturnya dengan cemas menatap sang suami.


“Kan ada adik kesayangan kamu, Sayang. Apa Nalendra belum cukup buat kamu tenang jagain aku?” Orang yang Reifan sebut pun kini sudah turun dari mobil yang baru saja tiba.


Pria muda dan tampan yang kini berdiri di hadapan mereka menatap Arisha dan Reifan bergantian.


“Kalian lagi bicarain aku yah?” tanya Nalendra yang merasa sedang di sebut namanya.


Dengan berat hati Arisha melepaskan sang suami tanpa perduli pertanyaan sang adik ipar. Ia memeluk sekali lagi tubuh Reifan lalu mencium bibir sang suami.


Di sini Nalendra berdiri tercengang melihat kedatangannya yang sama sekali tak di anggap. Kemesraan sepasang suami istri di depannya tentu saja membuat Nalendra merasa iri.


Kini usianya sudah cukup dewasa dan kerjaan pun cukup untuk menghidupi keluarga. Namun, sampai saat ini ia belum menemukan tambatan hati sama sekali.

__ADS_1


“Daa…” Arisha melambaikan tangan pada Reifan.


Mereka berpisah dengan mobil yang berbeda. Sebab Arisha tak langsung ke klinik pagi ini. Ada tempat yang harus ia tuju tanpa sepengetahuan Reifan.


Sebuah rumah megah yang tak asing menjadi tempat Arisha menghentikan mobilnya. Dalam wanita itu menarik napas berusaha tenang. Kini sesuatu yang ia sembunyikan dari sang suami harus bisa ia selesaikan sendiri.


“Akhirnya punya sopan santun juga kamu datang kemari.” Ucapan itu terdengar begitu ketus menyambut kedatangan Arisha.


Sosok wanita paruh baya yang berjalan di ambang pintu utama dengan kedua tangan saling menyilang di depan dada. Jangan lupakan tatapan mata yang begitu sinis.


Diam-diam Dara sudah meminta Arisha menemuinya hari ini. Arisha patuh dengan tetap merahasiakan semuanya dari Reifan. Ia ingin menyelesaikan semua tanpa ada perselisihan lagi. Apa pun jalannya selama pernikahannya dengan Reifan tetap utuh maka Arisha akan usahakan.


“Masuk!” Dara berucap ketus. Arisha mengikuti langkahnya di belakang.


Keduanya pun duduk di sofa ruang keluarga. Dimana Arisha menatap Dara hangat. Tak ada kebencian yang ia tunjukkan pada sang mertua.

__ADS_1


“Semua orang wajib memilih. Kamu tahu itukan, Arisha?” Tatapan yang begitu tajam sama sekali tak membuat Arisha kikuk. Ia mengangguk dan tersenyum.


“Yah itu benar, Bu.” jawabnya.


“Saat ini saya kasih kamu pilihan. Menjadi istri sepenuhnya atau menjadi dokter sepenuhnya?” Sejenak Arisha membungkam bibirnya berusaha tetap senyum. Detik berikutnya ia menarik napas dalam.


“Dua-duanya, Bu. Saya akan tetap di jalan keduanya. Tidak ada yang perlu di pilih dan tidak ada yang perlu di tingggalkan. Semua adalah hidup saya. Reifan hidup saya begitu pula dengan keselamatan orang di luar sana, Bu.” Mendengar jawaban Arisha rasanya Dara benar-benar mendidih.


Keputusannya adalah benar untuk meminta Arisha mundur dari pernikahannya dengan Reifan. Sibuk bekerja membuat Dara yakin itu adalah penyebab Arisha sulit mempunyai anak.


“Kalau begitu sebagai wanita yang memiliki anak, saya meminta baik-baik. Tinggalkan Reifan!” Ia duduk menegakkan tubuh.


Arisha masih diam menunggu ucapan lanjutan dari sang mertua. Lama tak ada ucapan, ia pun membuka mulut.


“Mari kita berdamai, Bu. Selain kedua pilihan itu aku sanggup memberikan apa yang Ibu inginkan.” ujar Arisha sontak membuat sebelah alis Dara menukik tajam.

__ADS_1


Entah rencana apa yang wanita itu inginkan ketika mendengar tawaran dari sang menantu. Yang jelas Arisha bisa membaca raut wajah penuh rencana di depannya ini.


__ADS_2