Penantian Cinta Sejati Kembali

Penantian Cinta Sejati Kembali
Perjanjian


__ADS_3

Sesuai perjanjian yang Arisha tawarkan, kini keduanya berada di sebuah klinik kecantikan yang Arisha miliki. Tatapan puas dari Dara seakan menjadi akhir permusuhan mereka.


“Ingat, waktu kamu adalah satu tahun. Jika kamu belum juga memiliki cucu maka separuh saham klinik ini akan saya miliki dan kamu siap meninggalkan Reifan.” ancam Dara ketus.


Sebab ia yakin dengan begitulah Arisha baru benar-benar serius untuk program hamil. Dara menilai jika Arisha hanya mencintai karirnya. Sebagai dokter yang sedang banyak di minati para pasien mau pun kamu pria tentu Dara tidak ingin masa depan pernikahan Reifan terancam.


“Persyaratan bodoh macam apa ini? Bagaimana bisa aku setuju? Ibu sudah menjebakku. Tapi, jika aku menolak sama saja aku membiarkan Ibu menganggap aku lebih memilih karirku. Reifan adalah suami yang sangat aku cintai.” gumam Arisha.


Sebuah tanda tangan di depannya sudah tersemat. Pertanda jika kesepakatan mereka sudah sah dan tidak dapat di rubah lagi.


“Baiklah, Bu. Kalau begitu saya harus lanjut bekerja. Saya akan pulang lebih awal. Terimakasih kesempatannya.” ujar Arisha.

__ADS_1


Dara berdiri dengan angkuh meninggalkan sang menantu. Ia kembali ke rumah untuk merayakan kemenangannya.


“Hahaha jika dalam satu tahun dia tidak bisa membuktikan diringa mampu, maka setidaknya aku tidak akan rugi. Klinik itu akan berkembang semakin besar dimana keuntungan akan ku dapatkan juga. Maafkan Ibu Rei, ini semua demi keamananmu juga. Ibu tidak ingin wanita itu meninggalkanmu. Dengan begini mungkin Arisha akan jauh lebih kuat bertahan denganmu. Awas saja kamu Arisha jika berani mempermainkan anakku.” Dara melamun.


Tangannya yang terus mengetuk-ngetuk di atas pahanya. Pandangannya yang kosong tertuju pada jalan raya. Berbagai pikiran buruk terus menghantui dirinya. Arisha memang menantu yang sempurna, namun tak di beri anak sampai saat ini membuat Dara cemas.


Bagaimana mungkin menantunya yang seorang dokter belum juga memiliki anak. Takut jika ternyata Dara telah merencanakan pergi dari Reifan setelah karirnya bagus. Janda tanpa memiliki anak dengan karir yang bagus tentu menjadi idaman para pria di luar sana.


Nalendra dengan senang hati menemani sang kakak. Mereka tidak tahu jika di sini Arisha begitu cemas. Takut jika dirinya justru sulit mendapatkan anak.


“Tuhan permudah aku untuk memiliki anak. Aku tidak mau berpisah dengan Reifan.” ucapnya dalam doa.

__ADS_1


Bekerja di klinik sendiri bukan serta merta membuat Arisha bebas. Ia tetap giat bekerja melayani para klien. Sampai akhirnya tepat pukul tiga sore ia beranjak pergi. Memilih pulang awal untuk beristirahat. Berharap tubuhnya bisa tenang dan menjalani program hamil yang baik.


Lama berdiam diri di kamarnya ketika sudah tiba di rumah. Arisha segera mengirim pesan pada sang suami.


“Rei, apa belum mau pulang? Aku sudah menunggumu di rumah.” Itu pesan yang Arisha kirim.


Terbaca langsung oleh pria yang disini tengah duduk. Ia melihat Nalendra yang tersenyum menggoda.


“Pasti dari Kak Arisha kan? Mau pulang? Dulu Kak Rei selalu pulang malam untuk urusan lembur. Apa sekarang akan berubah lembur di rumah?” goda Nalendra yang membuat Reifan menggeleng kesal.


“Ayo kita pulang. Kakakmu sudah menunggu di rumah. Kasihan dia kesepian.” Nalendra pun patuh. Ia mengantar Reifan pulang.

__ADS_1


__ADS_2