
Tatapan penuh selidik membuat Wisnu yang di tatap menghela napasnya kasar.
“Aku hanya melihat Arisha baik-baik saja. Itu saja.” jawabnya.
“Bukan untuk mengganggu kebahagiaan mereka bukan?” tanya Nalendra.
Meski ia tahu jika Wisnu adalah sepupu Arisha sang kakak ipar. Rasanya sulit percaya jika pria di depannya ini hanya memandang Arisha sebagai keluarga. Bagaimana Wisnu yang nekat mencuri kakak ipar demi melindungi dari kemarahan Reifan. Tentu hal itu menjadikan Nalendra berpikiran negatif.
“Sudahlah jangan berpikir yang aneh-aneh. Sudah tenang aku pergi jika melihat mereka bahagia seperti itu. Titip salam untuk Arisha. Aku akan kembali ke negaraku hari ini juga.” Setelah mengatakan itu, Wisnu pergi meninggalkan Nalendra.
Sementara Arisha dan Reifan tampak menuju mobil untuk pulang ke rumah. Di langit suasana sudah tampak sejuk. Sepanjang jalan Arisha tak pernah melepas tangan Reifan yang ia peluk. Suaminya sudah bisa menyetir mobil seperti dulu lagi.
“Rei, apa kamu yakin Ibu tidak akan mengganggu kita lagi? Jika terjadi lagi bagaimana?” tanya Arisha menatap suaminya.
“Nanti kamu lihat yah,” Arisha mengangguk. Entah apa yang akan di tunjukkan sang suami.
__ADS_1
Sampailah mereka di depan pagar rumah. Arisha terkejut melihat banyaknya pengawal yang berjaga di sekitar rumah itu.
“Apa harus sebanyak itu?” tanya Arisha.
Sebab rumah mereka tak banyak yang harus di amankan. Hanya Arisha saja.
“Sudah jangan protes.” ujar Reifan.
Arisha pun patuh dan mereka memasuki rumah ketika turun dari mobil. Keduanya saling merangkul pinggan dan bahu. Sangat harmonis.
Gina yang terus di paksa oleh Dara untuk membantunya terpaksa harus buka suara.
“Apa katamu, Gina? Berselingkuh dari Reifan? Kamu tidak bercanda kan? Mana mungkin kamu berselingkuh?” Gina yang semula duduk di depan Dara dengan menatapnya berubah menunduk.
“Maafkan aku, Tante. Aku akui salah pada Reifan. Tapi, itu dulu. Dan sekarang aku sudah berubah. Biarkan aku mencari kehidupanku sendiri, Tante. Sebab Reifan tidak akan mau lagi denganku. Aku bukan wanita baik di matanya. Itu sebabnya aku ingin mundur dari permintaan Tante.” ujar Gina panjang lebar.
__ADS_1
Dara sampai membulatkan mata mendengar ucapan Gina. Wanita yang selama ini selalu ia bangga-banggakan ternyata justru menyimpan kebusukan dengan sangat rapi.
“Jelas saja Reifan tidak mau benda busuk sepertimu. Kamu benar-benar membuat saya menyesal. Kenapa kamu tidak mengatakan dari awal saja? Keterlaluan kamu, Gina!” cecar Dara sangat emosi.
Mulanya ia mencurahkan semua isi hatinya pada Gina. Bahkan Dara meminta Gina untuk segera datang ke rumahnya mendengarkan keluhannya. Tak di sangka jika gadis yang ia mintai tolong untuk melancarkan aksinya justru menyimpan sebuah rahasia tak terduga.
“Pergi kamu dari sini!” Tanpa teriakan kedua kalinya Gina pun pergi.
Ia sudah mantap untuk mundur dari kehidupan sang mantan. Lagi pula Reifan sudah sangat sulit untuk ia sentuh lagi.
“Aku minta maaf, Tante.” Itulah ucapan terakhir Gina sebelum meninggalkan rumah Dara.
Wanita yang duduk dengan lemas menatap punggung Gina yang semakin menjauh. Kepalanya menggeleng tak habis pikir bagaimana bisa ia selama ini mati-matian membela gadis itu di depan sang menantu.
“Bisa-bisanya aku buta mata. Kalau begitu jelas sudah jauh lebih baik menantuku.” gerutu Dara mengingat Arisha yang hanya belum di karuniai anak.
__ADS_1