Penantian Cinta Sejati Kembali

Penantian Cinta Sejati Kembali
Memfitnah


__ADS_3

Tiga jam yang Gina butuhkan berada di salon memanjakan rambut panjangnya, tentu dengan di temani oleh Reifan.


“Wah ternyata kalian masih sama-sama yah? Aku pikir sudah selesai.” sahut pemilik salon langganan Gina.


“Enggak. Hanya aku yang lagi sibuk di luar negeri jadi kami jarang terlihat bersama di luar.” tuturnya pamer. Gina dengan bangga menunjukkan dirinya dan Reifan menjadi sepasang kekasih.


Sampai akhirnya keduanya keluar dari salon menuju ke mall.


“Rei, ayo. Kenapa melamun sih?” tanya Gina menarik tangan Reifan yang duduk diam di dalam mobil.


Sejenak Reifan menggelengkan kepala. Pusing di kepalanya harus segera ia hilangkan.


“Oh ayo.” sahut Reifan.


Keduanya pun bergegas memasuki mall dan kini tampak Reifan yang berusaha berjalan tegap di sisi Gina.


Terlihat beberapa kali Gina memasuki store mencari pakaian yang ia inginkan. Ketika hendak membayar, Reifan begitu cepat menyodorkan uang di dompetnya.


“Thanks, Rei.” sahut Gina.


“Maaf aku tidak bisa banyak memberimu uang. Aku lupa dengan pin kartu kredit ini.” Gina tersenyum mengangguk. Apa yang Reifan bayarkan barusan sudah cukup untuknya.


“Tidak apa, Rei. Aku punya cukup uang untuk belanja. Menemani aku belanja dan ke salon itu sudah sangat cukup untukku.” Dengan mesranya Gina memeluk tubuh Reifan.


Ada perasaan senang mendengar ucapan Gina. Reifan hanya bisa membalas pelukan sang mantan dengan mengusap kepalanya. Keduanya bersama seolah benar-benar menjadi sepasang kekasih.


“Rei, ada apa?” Gina terkejut merasakan tubuh Reifan oleng ketika ia memeluknya.


Tangan sebelah milik pria itu memijat keningnya yang terasa berdenyut. Reifan melihat kedua matanya tak bisa melihat dengan jelas. Perlahan penglihatan yang buram itu berubah menjadi gelap dan akhirnya Reifan tak bisa lagi membuka matanya.


“Rei! Reifan! Bangun, Rei.” Gina teriak kebingungan saat tubuh Reifan berdiri lemas bersandar pada tubuhnya.


Pria itu benar-benar tidak sadarkan diri. Semua pengunjung di mall tersebut nampak memperhatikan mereka. Beberapa ada yang berlari menolong dan ada juga yang menjadi penonton.


“Tolong! Tolong bantu saya bawa ke rumah sakit.” Kepanikan di wajah Gina sampai membuat wanita itu meneteskan air matanya.


Ia memeluk tubuh Reifan sepanjang perjalanan ke rumah sakit. Orang asing yang mendadak Gina minta pertolongan untuk menyetir mobilnya.

__ADS_1


“Rei, bangun. Bangunlah. Tolong jangan buat aku takut seperti ini,” ia terus mengusap wajah tampan yang pucat itu.


Singkat cerita di rumah sakit Reifan sudah mendapat pertolongan dari dokter. Dimana Gina lega kala mendengar jika Reifan hanya butuh istirahat yang cukup. Tubuhnya masih belum stabil untuk terlalu banyak beraktifitas.


Kabar jatuh pingsannya Rei telah Gina sampaikan pada Dara sang ibu dari Reifan.


“Gina, ada apa dengan Reifan?” tanya Dara.


“Kak Gina, mengapa ini bisa terjadi pada Kak Rei? Mengapa Kak Rei bersama Kakak?” Kini Nalendra yang bertanya. Ia datang bersama sang ibu ketika mendengar Reifan jatuh pingsan di mall.


Mulanya Gina merasa sangat takut jika mereka semua akan marah padanya karena membawa Reifan berjalan-jalan di luar. Sedangkan Arisha sudah mengingatkan sang suami untuk tetap istirahat karena tubuhnya sudah kelelahan perjalanan kemarin.


Sayang, pikiran Gina terlalu encer untuk memikirkan dirinya sendiri. Ia tak ingin menjadi dalang yang di salahkan.


“Ini semua karena Arisha. Kemarin dia memaksa Reifan untuk pergi ke puncak. Aku sudah mengatakan padanya jika Reifan pasti kelelahan. Tapi, sore harinya justru Arisha memaksa untuk pulang ke rumah karena pekerjaannya. Aku sudah mengatakan untuk Reifan harus istirahat yang banyak, Tante.” ujar Gina dengan wajah sedih yang ia buat sesempurna mungkin.


Nalendra menatap penuh selidik setiap ekspresi yang Gina tunjukkan. Seolah ia tak percaya jika Arisha bertindak demikian pada sang kakak. Sebab Arisha sangat tahu apa yang harusnya dan tidak boleh Reifan lakukan.


“Apa itu benar? Sepertinya Kak Arisha tidak seperti itu, Kak Gina.” ketus Nalendra berucap.


“Iya, aku tahu itu semua pasti karena Arisha cemburu Reifan selalu bersamaku.” tambah Gina lagi.


“Sudah. Berhenti membela wanita itu, Nalendra. Nyawa kakak mu di sini jauh lebih penting. Ibu sudah sangat tahu watak Arisha. Sekarang Ibu harus temui dia.” ujar Dara bergegas meninggalkan rumah sakit.


Ia melenggang tanpa perduli bagaimana Nalendra berteriak memanggil sang ibu.


“Bu, tolong berhenti. Ibu mau kemana? Kak Reifan sedang membutuhkan kita.” tutur Nalendra memohon namun tangannya justru di seret sang ibu menuju mobil.


“Bu, ini pasti salah paham. Ibu jangan termakan ucapan Kak Gina.” sahut Nalendra. Ia benar-benar merasakan firasat yang buruk saat ini. Kemarahan sang ibu sudah begitu jelas seperti bom waktu yang siap meledak sebentar lagi.


“Cepat antar Ibu ke kliniknya. Arisha harus di beri pelajaran.” ujar Dara yang duduk tenang di dalam mobil.


Nalendra justru menggelengkan kepala.


“Maaf, Bu. Ini bukan kuasa Nalendra. Kak Arisha tidak melakukan kesalahan. Membawa Kak Rei ke puncak pasti akan ada tujuan baik untuk kesehatan Kak Rei. Ibu harus pikirkan dari posisi positifnya dulu.” Dara semakin kesal mendengar sang anak yang tidak patuh padanya.


Tubuhnya ia geser turun ke luar mobil. Bukannya masuk ke rumah sakit, Dara justru mencari taksi yang kebetulan baru saja mengantar penumpang di area rumah sakit itu.

__ADS_1


“Astaga, Ibu.” Pusing Nalendra hanya bisa menghela napas kasar.


Bayangan klinik milik Arisha yang tengah ramai pengunjung di datangi oleh sang ibu, tentu sangat tidak terpuji. Nalendra tidak ingin sang kakak ipar di permalukan di depan banyak orang.


“Aku harus kabari Kak Arisha.” ujarnya merogoh ponsel. Berharap apa yang ia lakukan bisa mencegah kemungkinan hal terburuk terjadi.


“Ah kenapa tidak di angkat sih?” umpat Nalendra kembali terus menghubungi nomor sang kakak ipar. Tak hanya di situ, Nalendra justru mengemudikan mobilnya mengejar taksi yang di tumpangi sang ibu. Bagaimana pun ia harus bisa mencegah sang ibu bertindak memalukan.


“Halo, ada apa, Ndra?” tanya Arisha di seberang telepon pada akhirnya.


“Kak Arisha, buruan pergi dari klinik. Ibu sedang dalam perjalanan kesana. Ibu marah besar, Kak.” Nalendra tampak tergesa-gesa ketika berbicara.


Kening Arisha mengerut dalam mendengar ucapan sang adik ipar.


Bagaimana mungkin ia pergi, sedangkan klien sementara antri di depan sana untuk mendapatkan tindakan dari Arisha sendiri.


“Ndra, Kakak nggak bisa. Di depan sedang menunggu antrian. Semua prosedur sudah mereka lewati. Dan Kakak tidak mungkin main pergi begitu saja.” Nalendra menyugar rambutnya ke belakang frustasi.


Betapa malunya Arisha jika sang Ibu membuat keributan di kliniknya hari ini.


“Kak, Kak Reifan jatuh pingsan saat di mall bersama wanita itu.” Akhirnya Nalendra pun menyampaikan apa yang sejak tadi ia tahan.


“Hah? Pingsan? Reifan tidak kenapa-napa kan, Ndra?” tanga Arisha begitu syok.


Tubuhnya yang semula tampak semangat kerja mendadak tegang sekali. Pikirannya seketika kacau dan ingin pulang.


“Baik. Kakak segera ke rumah sakit sekarang.” Arisha mengumpulkan semua pekerjanya dan juga pihak keamanan. Ia meminta bantuan beberapa pihak keamanan untuk tidak memperbolehkan masuk seorang wanita yang sudah ia perlihatkan fotonya.


“Tolong, wanita ini adalah ibu mertua saya. Saya tahu ini sangat tidak benar. Tapi, ini semua demi kenyamanan pelanggan kita. Jangan biarkan dia masuk tapi tolong perlakukan dia dengan baik jangan ada kekerasan apa pun,” jelas Arisha panjang lebar sebelum ia memutuskan untuk segera pergi.


“Perhatian semua para customer saya, sebagai dokter di klinik ini saya benar-benar sangat meminta maaf yang sebesar-besarnya. Sebab saya harus pergi ke rumah sakit sekarang juga. Saya mohon untuk kemurahan hati kalian semua. Suami saya sedang jatuh sakit dan sekarang di bawa ke rumah sakit.” Arisha menjelaskan meski sebenarnya itu tidak begitu penting bagi yang mendengarnya.


Ia hanya tidak ingin hilang kepercayaan dari customernya. Dan beruntung keramahan Arisha selama ini menjadi dokter bisa mendapat feedback yang baik dari pelanggan.


“Tidak apa-apa Dokter. Kami berdoa semoga suami Dokter Arisha segera pulih dan ingat lagi,” Banyaknya Arisha mendapatkan semangat dan dukungan. Di luar dugaan mereka ternyata sangat respect oleh Arisha.


Arisha melangkah pergi dari klinik di gantikan oleh sang rekan kerja seprofesi dengannya.

__ADS_1


Sepanjang jalan Arisha sangat geram dengan sosok wanita yang sudah menyebabkan sang suami jatuh sakit seperti ini.


__ADS_2