Penantian Cinta Sejati Kembali

Penantian Cinta Sejati Kembali
Perdebatan


__ADS_3

Langkah kaki jenjang itu berakhir dengan sambutan pelukan hangat dari wanita yang sudah merindukannya. Sosok Arisha yang lebih banyak melakukan semuanya sendiri penuh semangat, tidak kali ini. Ia tampak lesu memeluk suaminya.


“Arisha, maaf aku sedikit lama. Nalendra yang mengantarku lambat.” Reifan pikir raut wajah sang istri yang sedih karena ia pulang terlambat.


Arisha justru menggelengkan kepala. “Tidak. Ayo masuk. Ndra, sebaiknya kau pulang yah. Kakakmu harus di bawa istirahat.” ujar Arisha mengusir halus sang adik ipar.


Nalendra melongo tak percaya. Seumur-umur ini adalah kali pertama ia pulang dengan usiran. Arisha tak pernah berlaku seperti itu padanya.


“Oke.” Nalendra pergi meninggalkan rumah.


Di sini Arisha membawa Reifan ke kamar. Pria itu dengan gerakan cepat membersihkan diri. Lantas keduanya naik ke atas ranjang. Arisha berbaring menghadap padanya.


“Kalau kau tahu, apa kau akan marah padaku? Tapi, aku melakukan ini semua demi Ibu tidak mengusik kita lagi.” batin Arisha berbicara pada Reifan.

__ADS_1


“Apa ada yang mengganggumu?” tanya Reifan.


Arisha justru tidak menjawab. Ia memilih menarik tangan sang suami dan membuat Reifan memeluk tubuhnya.


“Aku hanya ingin istirahat di pelukan suamiku.” jawab Arisha.


Dalam diam Reifan berpikir hal apa yang membuat istrinya berubah. Arisha jelas terlihat sedang banyak pikiran saat ini. Lama mereka menghabiskan waktu untuk berpelukan. Sampai akhirnya keduanya terlelap dalam lelahnya pekerjaan dan melewatkan makan malam.


Tepat pukul delapan malam, suara ketukan pintu membuat Arisha membuka mata.


Arisha tak menjawab justru ia membangunkan suaminya. “Rei, bangun. Ayo kita makan dulu.”


Hal yang berbeda dengan kediaman milik Dara. Wanita paruh baya itu tersenyum puas menatap berkas yang ia pegang saat ini. Pikirannya benar-benar lega. Arisha akan mengusahakan memberinya cucu dalam waktu yang di tentukan. Jika gagal maka artinya ia akan siap memberikan sebagian saham padanya.

__ADS_1


“Hahaha harusnya kan dari dulu. Jika begini Arisha tidak akan mungkin lagi bermain-main. Jika berhasil setidaknya aku bisa mendapat cucu. Huh sayang kepergianmu sudah terlalu cepat, Ayah. Kehadiran cucu tidak sempat kamu saksikan. Maka aku tidak ingin itu terjadi juga padaku.” ujar Dara berbicara sendiri.


Tatapannya sendu pada foto pria yang memakai jas rapi di atas nakas. Wajah tampan sang suami yang sudah sangat ia rindukan. Tanpa Dara sadari jika ucapannya barusan telah terdengar oleh seseorang.


“Apa maksud ucapan Ibu?” Langkah Nalendra ia lanjutkan untuk mendekati sang ibu.


“Apa yang Ibu lakukan pada Kak Arisha? Katakan, Bu? Ibu mengancam Kak Arisha? Oh apa ini sebabnya sampai Kak Arisha terlihat lemas tadi di rumahnya?” Pertanyaan Nalendra seketika menodong Dara.


Sudah ada firasat buruk dalam pikiran pria itu saat ini. Jelas ia barusan mendengar sang ibu sudah melakukan sesuatu pada kakak iparnya.


“Yah memangnya kenapa? Ibu melakukan yang terbaik kok. Ini semua demi masa depan Kakakmu. Kamu masih single jadi nggak usah ikut campur urusan pernikahan. Mana ngerti kamu, Nalendra. Sudah ah Ibu capek mau istirahat.” Dara mengangkat tubuhnya dari sofa hendak menuju kamar.


Nalendra bergeser menutup akses sang ibu. Matanya menatap berkas yang Dara genggam saat ini.

__ADS_1


“Berikan padaku, Bu!” pintahnya masih dengan suara pelan.


“Ibu bilang berhenti ikut campur, Nalendra!” sentak Dara yang juga tidak mau kalah.


__ADS_2