
“Kenapa bisa seperti ini, Bu? Kak Reifan sudah membaik beberapa hari ini bukan?” Nalendra yang baru saja tiba mendekati sang ibu yang duduk cemas menunggu Reifan di periksa. Dara hanya mengangguk mendengar pertanyaan Reifan. Ia melampiaskan kesedihannya pada pelukan sang anak yang baru tiba.
“Ibu tidak tahu akan seperti ini, Ndra. Ibu benar-benar tidak tahu apa-apa. Apa salah jika Ibu mengkhawatirkan Reifan yang tinggal sendirian? Kakak iparmu itu menghilang tanpa tanggung jawab dengan Reifan.” Dara terisak menceritakan sosok menantunya yang tak menampakkan diri sampai saat ini juga.
Nalendra yang mendengar nama sang kakak ipar di sebut hanya menunduk diam. Dalam hati pun ia begitu mencemaskan keberadaan Arisha. Jika sampai terjadi sesuatu dengan Arisha mau pun Reifan, tentu dirinya lah yang paling bersalah di sini.
“Maafkan aku, Kak Arisha. Maafkan aku, Kak Rei.” gumamnya dalam hati.
Nalendra lama duduk menunggu keluarnya dokter bersama sang ibu. Mereka sama-sama menoleh kala melihat kehadiran Gina di sana.
“Tan, Nalendra, bagaimana Reifan? Dia baik-baik saja kan?” tanya Gina beruntun seolah lupa jika mereka berdua pun juga sangat cemas saat ini.
Nalendra enggan menanggapinya. Sedangkan Dara mendekati Gina dan menumpahkan kesedihannya di sana.
__ADS_1
“Bu, bukan dia wanita yang seharusnya mendengar curahan hati Ibu. Tapi Kak Arisha. Dia menantu yang paling berhak mendengar keluh kesah Ibu,” ujar Nalendra dalam hati menatap Dara yang bersama Gina.
Mereka bertiga akhirnya duduk berjajar di ruang tunggu sampai akhirnya seorang dokter keluar dari ruang pemeriksaan. Sontak hal itu membuat pihak keluarga serta masa lalu Reifan bergerak mendekati dokter.
“Dok, bagaimana Kakak saya?” tanya Nalendra yang turut di angguki oleh Dara.
“Dokter, bagaimana keadaan Reifan? Dia baik-baik saja kan? Sakitnya tidak makin parah kan, Dok?” tanya Gina yang mendapat tatapan dari Nalendra tak suka.
Dokter yang melihat ketiganya pun segera menatap Gina dengan dalam.
“Iy-“ Belum sempat Gina memberikan jawaban ‘iya’ pada dokter, Nalendra sudah lebih dulu memotong ucapannya.
“Bukan, Dokter. Ada apa? Apa Kak Rei mencari istrinya?” pertanyaan Nalendra sontak mendapat anggukan kepala dari dokter.
__ADS_1
Dara hanya diam mendengar percakapan sang anak dengan dokter mau pun Gina. Yang terpenting saat ini adalah ia bisa mengetahui keadaan Reifan yang harapannya adalah membaik.
Tak lama setelahnya wajah dokter pun tersenyum. “Dimana istri Tuan Reifan? Nyonya Arisha sedang di panggil Tuan Reifan. Syukurnya saat ini ingatan Tuan Reifan sudah membaik meski ada beberapa yang belum juga muncul di ingatannya.” Dokter menjelaskan niatnya keluar dari ruang pemeriksaan saat ini.
Sampai pada akhirnya kini semua nampak terkejut mendengar jika Reifan justru mencari istrinya, Arisha. Sumpah demi apa pun Gina bagai mimpi buruk mendengar penuturan dokter di depannya.
Gina tergagap tak bisa berkata apa pun saat ini. Ia menatap Nalendra dan dokter secara bergantian. Entah apa yang terjadi kedepannya ia sadar jika usahanya pun akan semakin sulit untuk mendapatkan Reifan.
“Dok, biarkan kami masuk dulu. Di sini istrinya tidak ada.” Akhirnya Dara bersuara. Ia tak bisa menahan diri untuk tidak melihat keadaan sang anak.
Sampai pada akhirnya merek bertiga pun masuk dimana Reifan terbaring lemas dengan wajah pucat.
Hal yang pertama mereka lihat adalah tatapan mata Reifan yang seolah mencari seseorang.
__ADS_1
“Rei, akhirnya kamu sadar juga. Ibu sangat takut melihatmu seperti tadi.” Dara memeluk sang anak yang baring di brankar pasien.
“Dimana Arisha, istriku?” tanya Reifan langsung pada intinya. Sontak semua pun terdiam membisu.