Penantian Cinta Sejati Kembali

Penantian Cinta Sejati Kembali
Liburan


__ADS_3

Empat bulan berjalan setelah ketegasan Reifan menjaga sang istri. Begitu menutup mata ketika melihat sang ibu berdiri di depan pagar rumah mereka. Reifan tak mau memberi celah sedikit pun sang ibu membuat hati istrinya luka.


Nalendra yang mengetahui kegiatan setiap hari Dara menghampiri rumah Arisha, sampai hari ini tak kunjung bisa bertemu. Sedih rasanya melihat keadaan keluarganya berantakan seperti ini.


“Ayah, seharusnya Ayah tidak pergi secepat ini. Semua jadi terasa begitu hancur. Keluarga kita jadi sulit bersatu lagi.” gumam Nalendra menatap sendu.


Sementara pagar yang menjulang tinggi itu terlihat tak kunjung terbuka. Jika biasa pagi harinya Dara melihat sang anak dan menantu keluar dari rumah, tidak hari ini.


“Bu, Kak Rei dan Kak Arisha tidak ada di rumah.” Nalendra yang menyaksikan sang ibu akhirnya turun dari mobil.


Deretan penjaga di depan gerbang rumah itu terlihat masih berjaga ketat. Mendengar ucapan sang anak, Dara menoleh kaget. Tak menyangka aksinya di tahu oleh Nalendra.


“Ka-kamu di sini? Maksudnya apa? Dimana mereka?” tanya Dara bingung.


Baru hari kemarin ia memohon pada Reifan untuk berhenti dan berbicara padanya. Namun permintaan itu masih saja di tolak.

__ADS_1


“Kak Arisha sedang liburan ke Maladewa.” Terkejut Dara mendengar.


Sementara di sini orang yang sedang mereka bicarakan tampak menikmati liburannya. Reifan terus menempel pada sang istri.


Keduanya berjalan menikmati indahnya pesona air laut yang begitu jernih.


“Rei…” panggil Arisha.


“Hem?” sahut Reifan.


“Jika aku tidak bisa hamil bagaimana?” tanya Arisha bertanya dengan dugaan terburuk.


“Bagaimana apanya, Sha?” tanya Reifan lagi.


“Yah bagaimana? Apa kamu tetap sama aku?” Reifan tak menjawab. Ia justru mengecup dalam kening sang istri.

__ADS_1


“Menikah bukan perkara anak. Anak itu hanya bonus dalam pernikahan. Yang penting kita tetap bersama itulah tujuan kita menikah, Arisha.” Sungguh Arisha rasanya sangat bahagia.


Ia memeluk erat tubuh sang suami. Berharap apa yang Reifan katakan benar adanya. Mereka akan tetap bersama meski tanpa anak sekali pun.


“Aku harap semua ucapanmu tidak berubah, Rei. Aku takut kamu pergi lagi,” ujar Arisha lirih.


Keduanya sama-sama tersenyu menatap birunya air laut. Tidak ada beban lagi yang keduanya pikirkan.


“Selamanya kita tetap bersama. Aku tidak akan meninggalkanmu. Mungkin hanya takdir yang menggariskan kita untuk menikmati hari bahagia ini sampai tua jika Tuhan tidak memberi kita anak.” Arisha meneteskan air mata antara bahagia dan sedih.


Bahagia melihat sang suami yang sama sekali tidak menuntuk anak darinya. Namun, sedih jelas ia rasakan sebab sebagai seorang wanita Arisha juga pasti punya keinginan menjadi seorang ibu. Mengurus anak penuh dengan kasih sayangnya. Entah harus sampai kapan ia terus berharap dengan impian itu.


“Siapa?” tanya Arisha pada Reifan kala mendengar suara ponsel sang suami bergetar.


“Ini pesan dari Ibu.” ujar Reifan.

__ADS_1


Arisha memilih acuh. Ia tak tertarik jika hal itu tentang sang ibu mertua. Sampai akhirnya wajahnya berubah kala mendengar ucapan sang suami yang membaca pesan itu.


“Reifan, Ibu kesepian. Boleh kalian pulang? Ibu sudah bersalah sekali dengan Arisha. Biarkan Ibu menebus semuanya sebelum Ibu pergi, Rei. Ibu sudah tidak muda lagi.” Mendadak Arisha dan Reifan sama-sama menatap heran. Tak biasanya Dara merendahkan diri dengan memohon seperti itu.


__ADS_2