Penantian Cinta Sejati Kembali

Penantian Cinta Sejati Kembali
Reifan Sadar


__ADS_3

“Keterlaluan kamu, Gina. Apa yang kamu lakukan dengan Reifan? Kalian pergi keluar rumah?” Arisha yang datang langsung menuding pertanyaan itu pada Gina.


Wanita yang saat ini tengah duduk di kursi tunggu di dalam ruangan Reifan. Tentu saja Arisha begitu marah, Gina bukan hanya menjelekkan namanya pada ibu mertua. Melainkan juga menyebabkan Reifan pingsan.


“Kenapa jadi aku? Ini semua kan salah kamu. Jadi istri nggak becus. Suami sakit justru sibuk kerja.” ketus Gina membalas ucapan Arisha.


Sadar jika berdebat dengan Gina tak akan ada gunanya. Segera Arisha mendekati sang suami yang masih terlelap dalam pengaruh obat.


“Rei, bangun. Reifan maafkan aku.” bisik Arisha membelai lembut kepala sang suami.


Lama ia menunggu namun Reifan tak kunjung sadar. Dua wanita dengan status berbeda tengah menantikan kesadaran pasien di depan sana.


“Tolong, aku memohon denganmu. Tinggalkan Reifan. Tinggalkan dia demi kebahagiaannya dan juga kebahagiaan Tante Dara.” ujar Gina yang begitu ringannya berbicara tanpa berpikir apa pun.


Arisha menoleh syok. Memangnya pernikahan itu apa sampai semudah itu Gina bertutur kata meminta Arisha meninggalkan suaminya.


“Cih apa aku tidak salah dengar? Bukankah seharusnya aku yang berkata seperti itu padamu?” tanya Arisha mendekati Gina.

__ADS_1


Dua pasang bola mata mereka saling beradu pandang. Bukannya menunduk, Gina justru mengangkat wajahnya menatap Arisha dengan menantang sembari melipat kedua tangan di depan dadanya.


“Reifan bahagia bersamaku.” sahut Gina.


“Dia bukan bahagia. Reifan hanya terjebak dengan ingatan masa lalunya saja yang tidak lengkap.” sahut Arisha tak mau kalah.


Perlahan ekspresi wajah Gina berubah masam.


“Sekarang keluarlah. Aku akan menjaga dan merawat suamiku.” pintah Arisha seraya menunjuk ke arah pintu ruang rawat itu.


Bukannya menurut, Gina justru duduk di kursi dengan santainya. Di saat seperti ini ia tak akan mau meninggalkan Reifan. Pria itu pasti akan melihat siapa yang ada di sisinya kala ia jatuh sakit.


Arisha ingin sekali mendorong wanita di depannya agar segera keluar. Sayang suara dari sang suami membuatnya tak bisa melanjutkan misi itu.


“Gina! Gina!” Panggilan dari Reifan sontak membuat Arisha menoleh.


“Rei, ini aku Arisha. Kamu sudah sadar?” tanya Arisha sembari mengusap pipi sang suami.

__ADS_1


Di depannya tepatnya di seberang sana Gina juga mendekati Reifan. Ia menggenggam tangan Reifan menciumnya berkali-kali.


“Rei, aku di sini. Akhirnya kamu sadar juga.” Gina tersenyum menatap manik mata Reifan yang beralih padanya dari wajah Arisha.


Melihat respon sang suami, Arisha merasa sakit sekali. Dalam keadaan seperti ini pun yang Reifan cari adalah Gina.


Di lepas tangan Arisha yang menggenggam tangan sang suami. Reifan beralih memperhatikan Gina.


“Apa kau baik-baik saja? Maafkan aku tidak bisa menemanimu lebih lama.” Reifan justru merasa bersalah telah merusak waktu senang-senang Gina.


Dengan gerakan cepat Gina menggelengkan kepala. “Aku tidak masalah, Rei. Aku baik-baik saja. Yang terpenting kau baik-baik saja. Aku sangat mencemaskanmu.” Beberapa kali Gina mengecup punggung tangan Reifan.


Arisha hanya bisa diam. Mengamuk pun rasanya percuma. Ia akan membuat Reifan semakin marah tanpa tahu yang sebenarnya.


“Ambilkan aku minum.” pintah Reifan pada Arisha.


“Reifan, biar aku yang mengambilkannya.” sahut Gina sengaja memancing keadaan.

__ADS_1


“Tidak. Aku ingin terus dekat denganmu.” ujar Reifan lagi.


Arisha mengambilkan air minum untuk sang suami. Setelahanya ia pun bergegas keluar dari ruangan itu lantaran sudah tak kuat lagi dengan perlakuan sang suami.


__ADS_2