PENDEKAR KEMBAR

PENDEKAR KEMBAR
Perpisahan


__ADS_3

Perang telah berlalu menyisakan kesedihan mendalam bagi keluarga korban perang, istri menjadi janda anak menjadi yatim, tidak ada kata menang dalam perang yang ada hanya kata penyesalan, bagi seluruh penduduk benua biru aturan baru yang melarang pernikahan antar wilayah tentu menyisakan sedih keluarga yang bercerai, banyak suami yang meninggalkan istri dan anak nya, namun peraturan ini pula membuat para pendekar berlomba lomba meningkatkan jumlah tenaga dalamnya guna menempati posisi utama di setiap padepokan.


Seminggu sudah perang berlalu, masih teringat jelas di benak para pendekar yang ikut andil, bahwa di dalam perang hukum membunuh dan di bunuh itu wajib, wajah wajah korban perang masih terbayang dengan jelas.


Di pembaringan tampak kakek sedang tidur lelap, melepaskan segala beban pikiran sekaligus menyembuhkan luka dalam yang ia derita, Ki Anggoro dan Ki Danur Jaya, berdua merupakan korban perang dari pihak kerajaan, saat Ki Anggoro di keroyok empat pemimpin padepokan wilayah timur, mendapatkan banyak sayatan pedang dan beberapa luka dalam, Ki Danur yang melihat sahabatnya terpojok segera menyambar tubuh sahabatnya dan di bawah pergi keluar dari benteng istana, dengan sisa sisa tenaga yang ada Ki Danur membawa Ki Anggoro ke tempat sang putri yang jarak nya tidak terlalu jauh.


Kakek Kakek bangun Mahesa mau belajar jurus pedang lagi,... ucap cucu Ki Anggoro membangunkan nya dari tidur siang.


Jangan ganggu kakek mu terus terusan anak ku, nanti penyembuhan lukanya lama,... ucap Parwati.


Mahesa yang sedikit kesal karena dilarang oleh ibu nya kembali berlatih.


Malam yang indah menghiasi desa Aral Watu, di dalam kamar tampak Parwati yang sedang bergelayut manja di samping pembaringan sang suami.


Kanda apa benar berita yang di sampaikan kepala desa, kalau pun benar apa tindakan kita selanjutnya ,... ucap Parwati meminta pendapat dari Ranggawi.


Dalam diam Ranggawi sebenarnya tidak ambil pusing akan kabar tersebut, tapi kedua orang tua yang menginap di rumah nya akan berdampak, termaksud juga Ki Sapta.


Besok kita bicarakan dengan ayah, mungkin mereka berdua mempunyai solusi yang tepat,.. balas Ranggawi dengan senyum di paksakan.


Di teras rumah tampak empat orang sedang berdiskusi dengan serius, pembahasan tentang berita bagi yang menikah berbeda wilayah harus berpisah tentu sangat mengganggu pikiran Ranggawi.

__ADS_1


Menurut ayahanda apa yang harus kami lakukan, jika kami tetap memaksa tinggal di desa ini maka dampak nya akan besar terhadap dua padepokan yang dipimpin oleh aki Anggoro dan aki Sapta,... ucap Ranggawi meminta jalan keluar terbaik untuk rumah tangganya.


Engkau sudah besar dan mempunyai anak, pikirkan tentang masa depan bukan buat hari ini,.. jawab Ki Danur Jaya memberikan pendapat yang mengandung makna yang dalam, sedangkan Ki Anggoro hanya diam, ia tidak mau menjadi beban anak dan cucu nya kelak.


Tepat sebulan Ki Anggoro berdiam di pondok Ranggawi, keadaan nya telah mendekati kata sembuh total, dengan perawatan putri nya yang memahami kitab segala ramuan, tentu hal mudah bagi Parwati, di bantu dengan tumbuh tumbuhan herbal tersedia melimpah di punggung jurang, maka penyembuhan Ki Anggoro terbilang cepat.


Kami telah memutus kan untuk mengikuti aturan yang telah di sepakati kedua wilayah, kami juga membawa salah satu putra kembar, Mahesa ikut bersama ibunya sedangkan Caraka ikut dengan ku ke padepokan naga, namun kami tidak akan bercerai, karena kami yakin akan dipersatukan kembali oleh kedua putra ku,.. ucap Ranggawi dengan wajah sedih.


Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusan kalian berdua, tentang masa depan biarkan takdir yang berbicara,.. ucap Ki Anggoro yang mulai mengerti akan keputusan anak dan menantunya itu.


Malam hari sebelum besok mereka berpisah Ranggawi meminta Parwati untuk menyalin semua kitab jurus yang ia pelajari begitu pun Ranggawi akan memberikan semua kitab jurus yang telah ia kuasai, dimana kitab kitab salinan itu akan menjadi bekal kedua putra nya mengarungi kerasnya dunia persilatan.


Pagi hari nan cerah tampak tangisan dan kesedihan dua insan saling mencintai berpisah, dua saudara kandung kembar pun ikut berpisah demi menjunjung kesepakatan antar wilayah.


Ingat anakku Caraka ibu menitipkan harapan besar di pundak kalian berdua,...


berucap Parwati sambil melepaskan pelukan anaknya, setelah menyeka air mata anak nya Parwati, Mahesa, Ki Anggoro dan Ki Danur melepas kepergian Ranggawi dan Caraka.


*******


Butuh waktu perjalanan selama lima hari akhirnya Caraka dan Ranggawi tiba di gerbang padepokan naga, nampak murid yang berjaga mengenali sosok Ranggawi memberi hormat, salam pendekar harimau, senang sekali engkau kembali padepokan naga,.. sapa murid yang berjaga, sambil mempersilahkan Ranggawi dan anak nya masuk ke dalam padepokan naga.

__ADS_1


Kondisi padepokan naga sama sekali tidak berubah bahkan tempat tinggal Ranggawi sedari kecil masih terawat dan bersih, namun ada satu yang berubah, telah tiada nya Ki Darma sepekan yang lalu dalam keadaan tapa Brata membuat padepokan naga dalam keadaan berduka sepanjang empat puluh hari ke depan.


Kedatangan Ranggawi dan anak nya di sambut dengan suka cita, hal ini pula menjadi penyemangat tersendiri bagi murid murid padepokan naga, Ki Sapta di temani tiga tetua yang mendapat kabar kedatangan Ranggawi keluar menyambut di depan aula utama padepokan.


Salam guru guru sekalian, kedatangan murid berniat menetap di padepokan, sekaligus merawat anak hamba Caraka,...ucap Ranggawi, memperkenal putranya Caraka.


Tidak usah sungkan bahkan memohon ijin karena padepokan naga merupakan rumah mu sendiri tentu rumah bagi cucu ku juga,.. ucap Ki Sapta dengan wajah gembira, hal yang selalu di impikan nya dapat terwujud, kedatangan Ranggawi dan cucunya sebagai pengobat atas kehilangan maha guru Ki Darma.


Tampak ke tiga tetua dan murid murid yang ada sangat gembira, setelah perang padepokan naga mendapat perlakuan yang miris dari seluruh padepokan yang ada di wilayah timur, tidak ikut sertanya padepokan naga menjadi penyebab, tentu para tetua berharap dengan nama besar Ranggawi dapat mengembalikan kepercayaan penduduk serta padepokan yang lain.


Tepat empat puluh hari wafat nya Ki Darma, tampak dua orang ayah dan anak sedang duduk memberikan hormat didepan makam, Ranggawi sangat menyesal tidak berada di sisi sang guru kala menghembuskan nafas terakhir, Ranggawi bertekad akan mengalihkan kejayaan padepokan naga serta menuntaskan pemahaman kitab naga suci.


*******


Padepokan belibis putih tampak sedang bersuka cita, pemimpin mereka telah kembali dengan selamat serta membawa kembali putri dan cucu nya.


Dewi sedap rupa adalah kebanggan pedepokan belibis putih, pendekar perempuan yang memegang gelar tanpa tanding telah berada di tengah tengah mereka, murid murid belibis putih yang tersisa kurang lebih dua ratus tidak menyangka pemimpin mereka kambali berkumpul dengan putrinya.


Pasca perang di kerajaan murid murid yang kembali ke padepokan bisa di hitung dengan jari, belibis putih yang merupakan padepokan terbesar aliran putih di wilayah barat berubah menjadi padepokan kecil yang menutup diri.


Parwati bertekad mengembalikan padepokan sekaligus tempat tinggal kemasa kejayaan nya dulu.

__ADS_1


Perpisahan amat menyedihkan, di dalam kesedihan itu pasti ada kegembiraan itulah yang diyakini Parwati.


__ADS_2