
Suara lengkingan kuda terdengar meninggal kan pintu gerbang markas utama kelompok RELEAF, kedua pendekar kembar memacu kuda mereka menuju lereng gunung mengarah ke padepokan kuil putih, setelah memasuki area lereng bukit perjalan kedua pendekar terlihat melambat.
Menyusuri terjalnya pinggiran gunung membuat meraka harus berhati melangkah kaki, tak berselang lama tampak di ujung jalan terjal Caraka merasakan aura yang tidak asing, tampak kakek kakek sedang berjalan tongkat sebagai penopang perjalan nya,.
Setelah ke tiga orang tersebut berpas pasan nampak Caraka dan Mahesa sedikit mengkerut kan kening nya tanda tidak percaya akan kesanggupan sang kakek mendaki kaki gunung renggarok.
Caraka bergegas turun dari kuda menghampiri sang kakek, hendak kemana tujuan aki melangkah melalui jalur terjal pegunungan,... ucap Caraka dengan sopan.
Ha,... ha,... ha,...
Dua pemuda dengan aura yang khas bekerja sama, sungguh di luar dugaan ku, apa kah kalian tidak ingin mampir ke gubuk kakek,... tanya sang kakek yang balik bertanya.
Maaf kek jika tujuan kakek ke arah atas gunung kami siap mengantar,.. jawab Mahesa setelah turun dari punggung kuda.
Sungguh baik Budi pekerti kedua pemuda ini, mungkin ini yang dinamakan jodoh pasti menemukan jalannya,... batin sang kakek.
Gubuk ku tidak jauh dari sini sekiranya kalian berdua mau mengantarkan kakek tidak memprmasalah kan,... jawab sang kakek yang secara tidak langsung menyetujui tawaran Mahesa.
Setelah berjalan berbalik arah melewati pinggir gunung yang sempit dan menempuh jalur yang bersebrangan dengan arah markas utama Mahesa dan Caraka yang membiarkan sang kakek berada di atas punggung kuda sampai pada gubuk yang tidak terlalu besar terletak di pinggiran danau menuju ke arah puncak gunung renggarok.
Kuda kedua pemuda tersebut berhenti setelah sang kakek menunjukkan gubuk nya, tampak sang kakek mengajak kedua pemuda masuk kedalam gubuk, jangan sungkan sungkan anak muda, anggap berada di tempat sendiri,.. ucap sang kakek yang telah membersihkan kedua kakinya ikut duduk sambil menyediakan air putih sebagai minuman pelepas dahaga.
Kakek mungkin kami tidak akan berlama lama di sini, kami sedang melakukan perjalanan menuju kuil putih,... jawab Mahesa.
Jika kalian mengetahui akan maksud kakek saya rasa kalian akan betah berlama lama di gubuk ku,.. ucap sang kakek yang tidak ingin kedua pemuda tersebut meninggalnya.
Baik lah kek, kami akan beristirahat sejenak di gubuk kakek, setelah matahari tepat berada di atas kepala kami akan melanjut kan perjalanan,... jawab Caraka, sedikit penasaran akan niat sang kakek menahan mereka.
Mempersilahkan kedua pemuda itu merebahkan tubuhnya di atas dipan, sang kakek pamit kebelakang,tentu Mahesa dan Caraka tidak serta merta tertidur mereka hanya mengistirahatkan tubuh yang sedari kemarin melakukan perjalan jauh.
__ADS_1
Matahari telah berada tepat di atas kepala kedua pemuda keluar dari gubuk hendak berpamitan, namun hal yang aneh tampak di depan mata mereka, sang kakek sedang melakukan peragaan beberapa jurus tingkat ke lima dari kitab naga suci.
Bagi kedua pemuda tersebut yang mengetahui asal dari jurus sang kakek memasang kewaspadaan tinggi, setau kedua pemuda tersebut jurus yang diperagakan sang kakek berasal.dari kitab naga suci.
Caraka yang telah memahami inti dari kitab naga suci mendekati sang kakek, selang beberapa langkah lagi mendekat sang kakek berubah gerakan menyerang Caraka, Caraka yang sudah mengantisipasi akan gerakan menyerang terkuat dari jurus ke lima kitab naga suci, membalas serangan menggunakan jurus bertahan terkuat hentakan sang naga, jurus ke dua dari kitab naga suci dapat membendung tiap cakar dan pukulan tapak dari jurus menyerang.
Jual serangan terjadi antara Caraka dan sang kakek, setelah melewati lima gerakan sang kakek menghentikan serangan nya.
Ha,.. ha,... ha,...
Ternyata pemahaman mu terhadap kitab naga suci telah mendalam, dan ini pula yang membuat kalian yakin dapat menang di setiap pertarungan, sungguh sangat di sayangkan,... ucap sang kakek yang telah duduk di atas batu besar.
Maaf kakek, jika saya boleh tau dari mana kakek mempelajari kitab naga suci yang merupakan simbol padepokan naga,... tanya Caraka.
Bagai mana kau yakin hanya padepokan mu saja yang mengajarkan kitab naga suci, dunia ini sangat luas anak muda, kitab naga suci bukan lahir hanya untuk padepokan kalian saja dan apa kau yakin kitab yang kau pelajari itu asli,... jawab sang kakek.
Mahesa dan Caraka terdiam seribu bahasa, penjelasan sang kakek membuat mereka mengerti akan keadaan kitab yang menjadi incaran para pendekar handal.
Kakek suka gaya mu yang tidak berasa basi, baik', ikuti kakek,... ajak sang kakek.
Berjalan ke arah puncak gunung sang kakek menunjuk sebuah goa tujuan mereka, setelh melewati bibir goa tampak Mahesa dan Caraka terkesimak di dalam tampak seperti area berlatih, sangat lah luas dan datar.
Pemandangan yang sangat aneh terlihat, batu yang menjulan hampir menyentuh langit langit goa terdapat satu buah buka yang telah usang, sang kakek berdiri hendak mengambil kitab tersebut namun berhenti kala tangan nya hampir menyentuh kitab.
Jika kalian dapat duduk di atas batu itu, maka kitab naga suci itu menjadi milik kalian,... ucap sang kakek yang menunjuk puncak batu.
Tanpa basa basi Caraka segera maju melompat menggunakan jurus pertama dari kitab naga suci kibaan ekor naga, ilmu meringan kan tubuh yang sempurna di perlihat kan Caraka, berjarak satu langkah lagi sebelum sampai di puncak batu Caraka tergelincir lalu jatuh.
Melihat adik nya jatuh terhempas membentur lantai goa Mahesa melompat menangkap tubuh sang adik, dengan memahami situasi, Mahesa bergerak maju melompat kearah punck batu, tanpa mendapat rintangan berarti Mahesa duduk di atas punck batu di samping kitab.
__ADS_1
Mahesa dapat melihat tulisan yang ada di sampul kitab usang, NAGA SUCI, kitab asli yang selalu di jaga Ki GUYA, kitab pemberian guru nya yang datang dari luar benua biru.
Mahesa kembali melompat turun berhenti tepat di depan Ki Guya.
Maaf aki persyaratan yang kau berikan telah saya penuhi kiranya engkau mau menjelaskan semua,... ucap Mahesa memberikan kitab naga suci ke pada Ki Guya.
Tak ku sangka ujian yang ku berikan begitu mudah kau lewati, bahkan kau dengan cepatnya membaca keadaan yang ada, selamat', kitab ini menjadi milik mu,... Ki Guya menyerahkan kembali kitab naga suci ke tangan Mahesa.
Tak berselang lama Ki Guya mengambil posisi duduk di atas batu menceritakan asal usul kitab naga suci.
Jika memang demikian angkat lah kami berdua menjadi murid Ki, kami akan menyempurnakan seluruh isi kitab, dan menggukan di jalan ke bajikan,.. ucap Mahesa lalu bersujud di ikuti sang adik, mengharap Ki Guya memaksimalkan pemahaman mereka tentang kitab naga suci.
Kitab naga suci di bawa oleh seorang pendekar yang berasal dari benua dataran putih, guru dari Ki Guya adalah murid pertama dari pendekar yang berjulukan setan abadi, pendekar yang ditangan juga tergenggam pedang kembar.
Pedang kembar dan kitab naga suci merupakan pusaka langit di mana kedua pusaka itu selalu berkaitan,di benua dataran putih pedang kembar dan kitab naga suci menjadi incaran semua pendekar,hal ini menyebabkan setan abadi pergi meninggalkan benua nya, setelah menurunkan semua ilmu nya kepada guru Ki Guya, setan abadi menerima tantangan semua pendekar pada masa itu hingga akhirnya ia tewas, kitab naga suci yang telah berada di tangan guru Ki Guya tidak di ketahui oleh semua pendekar pada masa itu, yang di ketahui hanya pedang kembar yang melegenda.
Dalam pengembaraannya Ki Harka bertemu dengan Ki Guya, lalu mengangkatnya menjadi murid pertama dan mempertahan kan kitab naga suci, Ki Darma merupakan murid kedua dari Ki Harka, kemudian Ki Darma mendirikan padepokan naga.
Di dalam kitab naga suci sesungguh nya terdapat dua jurus sebagai kunci memaksimalkan kekutan pedang kembar.
Delapan bulan berlalu Mahesa dan Caraka telah menyempurnakan kitab naga suci, kitab naga suci memang terdiri dari tujuh jurus namun di lembar terakhir kitab terdapat cara menggabungkan tiap tiap jurus sehingga menghasilkan jurus dahsyat.
lembar terakhir ini pula yang tidak di miliki Ki Darma, menyelamatkan kitab dan pedang pusaka ini yang membuat setan abadi pergi meninggal kan benua nya.
Terima kasih guru, semua ilmu yang kau ajarkan akan kami gunakan di jalan kebajikan,... sambil bersujud kedua saudara kembar itu berucap.
Dengan berpindah nya kitab ini maka tugas ku telah selesai, tugas berat menanti kalian berdua di depan, jika kalian mendapat hambatan maka jangan sungkan sungkan mampir ke gubuk guru mu,... ucap Ki Guya dengan senyum puas.
Pebekalan telah siap, Mahesa dan Caraka berpamitan kepada Ki Guya melanjut kan perjalanan, tujuan masih sama hanya arah perjalanan yang berbeda kali ini Mahesa berputar ke arah selatan gunung renggarok agar lebih cepat sampai di padepokan kuil putih.
__ADS_1
Di dalam perbekalan Ki Guya menitipkan sepucuk surat tentang keberadaan pedang kembar, tanpa sepengetahuan ke dua saudara kembar itu.