PENDEKAR KEMBAR

PENDEKAR KEMBAR
Lembayun Ungu


__ADS_3

Jalur luas dan datar dilewati oleh kedua pemuda tampan menunggang kuda, jalur yang sangat berbeda dari jalur tenggara yang dilalui sebelum nya oleh kedua pemuda itu tentu mempersingkat waktu sampai di area pemukiman penduduk.


Desa pertama yang mereka jumpai setelah menuruni gunung, desa yang cukup besar, bahkan hampir sama dengan ibu kota kerajaan benua biru timur.


Desa LARIPAN adalah pusat kabupaten dari kabupaten MANGAJA, desa dengan taraf hidup sejahtera itu di kuasai satu saudagar kaya Ki Margo, dengan penghasilan sebagai pengepul hasil panen para penduduk tentu Ki Margo mendapat kan untung berkali kali lipat.


Tampak dua pemuda mengantri memasuki gerbang desa Laripan yang dijaga oleh pasukan kerajaan wilayah timur, setelah menunjuk kan tanda pengenal Mahesa dan Caraka langsung menuju rumah makan terdekat.


Kakak sebaik nya kita menginap di desa ini saja, besok baru melanjutkan perjalanan kembali,.. ucap Caraka, sambil menikmati hidangan yang tersaji di depannya.


Mahesa hanya tersenyum tanpa menjawab, ia kemudian ikut menyantap makan.


Besok adalah awal panen raya tentu menambah rejeki kita, kita harus bergegas kerumah Ki Margo agar ia mau menggunakan tenaga kita,... ucap beberapa penduduk desa yang sedang menyantap makan.


Sudah di ketahui oleh seluruh penduduk desa Laripan jika panen raya di mulai maka saudagar Ki Margo membutuhkan banyak tenaga bantuan untuk mengangkut hasil pembelian panen warga, Ki Margo yang terkenal dermawan dan tidak ringan tangan kepada bawahan nya tentu membuat penduduk berbondong bondong menawarkan jasa tenaga angkut.


Setelah selesai membayar makan kedua pendekar itu meninggal kan rumah makan mencari penginapan, Mahesa sudah sedikit paham akan situasi desa yang mereka singgahi saat ini.


Di dalam rumah yang megah dan paling besar dari seluruh rumah yang ada di desa Laripan Ki Margo sedang mendata beberapa penduduk yang telah setuju menjual hasil panen mereka, Ki Margo sendiri tidak memaksa para penduduk untuk menjual hasil panen mereka ke pada Ki Margo, namun para penduduk sadar apa bila menjual ke tengkulak lain maka harga yang di tawakan cukup murah, hal ini juga yang menyebabkan para penduduk percaya kepada Ki Margo.


Di depan rumah nan megah telah mengantri para penduduk mendaftarkan diri sebagai juru angkut, tangan kanan Ki Margo sedang mendata para penduduk sesuai dengan kemampuan mereka.


Keluarga saudagar kaya tersebut bukan lah keluarga besar, terdiri dari istri Ki Margo, anak pertama bernama Danendra dan putri ke duanya bernama lembayun.


Danendra sendiri telah berusia dua puluh empat tahun, ia meneruskan keahlian sang ayah dalam mengolah bisnis keluarganya, bahkan dari Danendra sendiri nama keluarga Ki Margo menjadi salah satu keluarga pendukung raja Bumi Surya.


Putri lembayun cukup berbeda berusai delapan belas tahun ia mewariskan sifat dermawan kedua orang tua nya putri lembayun lebih dikenal karena banyak membantu anak anak yatim dan kurang mampu untuk mendapatkan pendidikan dasar, dengan sifat dermawan ini putri lembayun menjadi idaman para pria.


Sore hari terlihat lebih dari sepuluh pengawal sedang mengiri perjalan wanita muda nan cantik, putri lembayun berniat mampir menyantap makan yang ada di rumah makan, setelah pulang dari rumah pengasuhan anak.


Ki sebaik nya kita mampir mengisi perut di rumah makan itu, saya sudah lama tidak mampir di sana,... ucap lembayun sambil menunjuk salah satu kedai favoritnya.

__ADS_1


Tampak seorang pelayan menyambut rombongan putri lembayun, mereka di persilahkan masuk menuju lantai dua tempat dimana biasa putri lembayun memesan, di lantai dua tempat duduk yang tersedia tidak terlalu banyak kisaran tiga puluh bangku saja.


Di ujung ruangan tampak duduk dua pemuda menghadap ke jendela menikmati pemandangan desa Laripan, saking asiknya mereka tidak menyadari pengunjung yang datang.


Ki Badri mempersilahkan putri lembayun duduk, ia memesan makanan kesukaan sang putri, Ki Badri merupakan pengawal setia sekaligus guru bagi putri lembayun.


Mahesa membalik kan badan mata nya tertuju pada sosok yang sangat indah, pandangan Mahesa yang tertuju pada putri lembayun tentu membuat para pengawal menegurnya.


Hai anak muda mengapa kau menatap junjungan kami seperti itu, apa kah kau berniat jahat,... ucap pengawal putri yang melihat tatapan Mahesa.


Mahesa tidak mau membuat keributan akhirnya hanya diam, namun dalam hatinya ia berdecak kagum akan kecantikan gadis yang ada dihadapan nya.


Bagi putri lembayun tatapan para lelaki terhadap diri nya sudah di anggap biasa, tatapan penuh nafsu serta keserakahan, berbeda dengan tatapan yang di pancarkan oleh pemuda tadi, ada sedikit tanda tanya bagi di benak lembayun melihat gelagat kedua pemuda yang menurut lembayun bukan berasal dari desa Laripan.


Setelah menyelesaikan makanan nya putri lembayun beserta rombongan meninggal rumah makan, sebelum ia beranjak putri lembayun sempat mencuri pandang ke arah dua pemuda yang berada di ujung ruangan.


Bagi Mahesa yang memang sedari kecil sering bergaul dengan banyak wanita terutama di padepokan belibis putih, tentu membedakan antara perasaan biasa dan rasa kagum terhadap lawan jenis bisa ia rasakan, diam diam ia menatap kepergian putri lembayun, bahkan saat telah berada di luar pun Mahesa masih melihat ke arah mana gadis tersebut melangkah.


Mahesa tanpa menjawab ia mengajak adik nya kembali ke penginapan, menurut Mahesa perasaan yang timbul tadi hanya Sekadar pandangan pertama melihat pesona sang gadis.


Pagi menjelang setelah selesai membersihkan diri dan sarapan kedua pemuda ini akan melanjutkan perjalanan, setiba nya mereka di depan penginapan tampak di jalan desa penduduk berbondong bondong menuju ke satu arah.


Apakah yang sedang terjadi di luar, mengapa para penduduk menuju ke arah yang sama,... tanya Mahesa kepada pelan penginapan.


Telah terjadi pencurian dan pembunuhan di toko utama saudagar Margo,... jawab pelan.


Tanpa bertanya lagi Mahesa dan Caraka segera meninggal kan penginapan ia berjalan ke arah tempat penitipan kuda yang terletak di samping penginapan, setelah memberikan satu keping perak kepada penjaga kuda Mahesa dan Caraka memacu kuda mereka kearah gerbang desa.


Perjalanan kuda kedua pemuda tersebut sedikit terhambat karena banyak nya penduduk yang memenuhi jalan, akhirnya Mahesa dan Caraka hanya bisa menuntun kuda mereka.


Sayang sekali tahun ini sudah di pastikan kita tidak akan mendapatkan rejeki tambahan, bahkan anak anak yatim piatu yang di asuh oleh putri lembayun pasti akan kelaparan,... ucap seorang penduduk yang berada di samping Mahesa kala ia sedang berjalan menuntun kuda.

__ADS_1


Tampak Mahesa mengkerut kan kening kala mendengar ucapan penduduk tersebut.


Hai kawan apa kah kau tau rumah saudagar Margo,... tanya Mahesa, tampak pemuda yang ditanya sedikit curiga, karena baru kali ini ia melihat Mahesa dan Caraka, mungkin ia adalah pendekar yang di sewa Ki Margo untuk mengusut pencurian ini,... batin pemuda tersebut.


Kalian berjalan kedepan saja, jika melihat rumah besar maka itu rumah Ki Margo,... jawab pemuda tersebut dengan ragu ragu.


Mahesa yang melihat keraguan yang ada pada pemuda tersebut hanya tersenyum dan ia pun berjalan menuju arah yang di maksud.


Setibanya kedua pemuda tersebut di depan gerbang rumah mewah yang di maksud, penjagaan sangat ketat tampak beberapa pengawal yang mengawasi gerak gerik penduduk.


Salam paman saya hendak bertemu dengan pemilik rumah ini apakah di perkenankan,... tanya Mahesa dengan sopan.


Siapa engkau pemuda dan ada keperluan apa engkau menemui junjungan kami,... bertanya kembali penjaga gerbang.


Niat kami ingin membantu menangkap pencuri yang mengambil hasil panen, kami menwarkan jasa dengan cuma cuma,... jawab mahesa.


Baik tunggu sebentar saya akan melaporkan hal ini kepada junjungan kami,... sahut penjaga yang satu nya sambil berjalan masuk ke dalam rumah.


Tak berselang lama penjaga tersebut kembali dan membukakan pintu gerbang mempersilahkan kedua pemuda masuk menemui sang saudagar.


Kedua saudara kembar tiba di dalam ruangan keluarga Ki Margo, tampak Mahesa sangat terkejut melihat gadis yang kemarin ia jumpai di rumah makan, salam paman, maaf kelancangan kami berdua, niat kami ingin bertemu dengan paman adalah ingin membantu mencari pencuri tersebut,... ucap Mahesa sambil memberi kan salam.


Ki Margo yang sedang duduk berkumpul dengan keluarga serta bawahan nya menghentikan obrolan mereka, Ki Margo yang mendengar salam Mahesa berdiri mendekati kedua pemuda.


Terima kasih anak muda niat baik mu sungguh sangat membantu keluarga kami, perampok yang mengambil seluruh hasil panen di perkirakan lari ke arah timur desa,... ucap Ki Margo memberi penjelasan, sambil mempersilahkan duduk kedua pemuda.


Obrolan hangat terjadi antara seluruh orang yang ada di dalam ruang itu, bahkan Mahesa sesekali mencuri pandang terhadap lembayun.


Baik paman kami akan berangkat ke arah timur dan selatan mengerjar pencuri itu,... ucap Mahesa sambil memberi salam.


Mahesa berencana membagi dua jalur pencarian pertama diri nya akan bergerak ke timur sedangkan sang adik bergerak ke arah selatan setelah satu hari mereka akan berkumpul kembali di desa ralipan.

__ADS_1


Mengetahui rencana Mahesa Ki Margo memberikan bantuan tenaga, putra pertama nya Danendra akan mengikuti Caraka dan di bantu lima penjaga nya, sedangkan putri lembayun membantu Mahesa ditemani Ki Badri dan empat pengawal setia nya.


__ADS_2