PENDEKAR KEMBAR

PENDEKAR KEMBAR
Pedang Giok


__ADS_3

Perjalan panjang Mahesa dan Caraka dalam mewujudkan impian mempersatukan benua biru baru berada di tahap awal, menghimpun pasukan serta sekutu terbilang sedikit, perjalan yang telah melewati hampir satu tahun membuat mereka lebih matang dalam membina relasi.


Menuruni punggung gunung melud tentu tak segampang mendaki nya, jalan setapak yang licin dan terjal banyak menguras energi baik kuda maupun penunggang nya. Tepat berada di lembah perbatasan antara punggung gunung dan dataran datar gunung melud Mahesa dan Caraka mengistirahatkan tunggangan mereka.


Dengan kondisi tubuh yang sangat lelah mereka tertidur pulas di pinggir danau tepat di lembah melud, dalam bayang bayang mimpi Mahesa merasakan getaran tenaga dalam yang sungguh luar biasa besar, Mahesa pun segera bangun dari tidur nya, tempat apakah ini, tampak berbeda dengan tempat tadi kami beristirahat,... batin Mahesa.


Mencerna keadaan Mahesa perlahan bangkit ia berdiri tepat di tengah Padang ilalang yang tumbuh subur dan tinggi tanpa ia sadari pancaran tenaga dalam yang dirasakan tadi telah berada tepat di samping Mahesa.


Sontak Mahesa melompat ke samping sambil melindungi diri dengan tenaga dalam menghindari sekelebat pukulan ringan dari pemilik tenaga dalam, tanpa di duga oleh Mahesa pukulan yang begitu ringan mengandung kekuatan yang dahsyat, Mahesa pun terdorong tiga langkah ke belakang, andai insting sebagai pendekar belum terasah tentu Mahesa akan mengalami luka dalam yang serius.


Paman maaf, apakah gerangan membuat paman menyerang hamba,...


ucap Mahesa sambil membetulkan posisi kuda kuda siap untuk melanjutkan pertarungan.


Tak ada sepatah kata, tak ada basa basi orang yang di sapa malah lanjut menyerang Mahesa, kali ini pukulan mau pun tendangan mengarah ke bagian vital tubuh lawan tentu menggunakan tenaga dalam yang lebih kuat lagi.


Tanpa berfikir panjang Mahesa yang telah siap menerima serangan langsung menggunakan jurus ke dua tapak naga suci, benturan tenaga dalam menghiasi pertarungan tangan kosong tersaji begitu keras, beberapa jurus telah berlalu tampak kedua kubu masih sama sama imbang, tubuh tua sang pemilik tenaga dalam yang besar dapat mengimbangi pergerakan lincah dari Mahesa.

__ADS_1


Dua puluh bahkan tiga puluh jurus telah berlalu akhir nya dapat dilihat sang pemilik tenaga dalam mulai berada dalam tekanan Mahesa, menggunakan jurus gabungan tingkat pertama dan ke lima dari kitab naga suci, Mahesa membuka celah pertahan lawan, tepat saat lawan hilang keseimbangan menerima pukulan awal Mahesa melancarkan pukulan berikut tanpa sungkan mengenai bagian pundak kiri lawan yang terbuka.


Sang pemilik tenaga dalam begitu geram, pondasi kokoh dalam bertahan dapat di tembus oleh pemuda bau kencur, ia bangkit memposisi kan kuda kuda sekarang lalu merentangkan tangan menstabilkan nafas, hai bocah tengik tak ku sangka pertahanan mutlak ku dapat kau tembus, selama aku mengarungi hidup cuma dua pendekar yang dapat menembus nya, maka pantas kau dapat mencabut wadah ku, pedang Sukma,... ucap Wisang roh penjaga pusaka Pedang giok, pada jaman raja pertama benua biru di kenal dengan pedang Sukma.


Pengakuan dari roh penjaga pedang giok membuat Mahesa sadar diri nya memang belum melakukan kontrak jiwa dengan pemilik pedang giok yang telah ia cabut letak nya di padepokan belibis putih, maaf paman hamba mohon kebesaran hati, telah lancang mencabut pedang giok sebelum melakukan kontrak jiwa, bahkan hamba bingung mengapa pedang tersebut dapat menyatu dengan diri hamba tanpa melakukan kontrak jiwa,... tutur Mahesa.


Ha,... ha,... ha,..


Penyebabnya gampang terikat janji ku pada pendekar gendeng yang dapat menaklukan waktu, aku berjanji padanya sebelum ia wafat maka ia harus menancapkan ku menggunakan tiga perempat tenaga dalam nya di dalam ruang semedi nya, barang siapa yang dapat mencabut wadah ku maka ia dapat menyatu dengan besi karat itu tapi tidak dapat menggunakan seluruh tenaga dalam ku, itu lah syarat yang kuberikan kepada pendekar gendeng,... jawab roh Wisang dengan malas malasan.


Dimasa pemerintahan kerajaan benua biru dipimpin oleh raja pertama, pendekar gendeng yang sangat terobsesi dalam tingkat tenaga dalam menemukan pedang Sukma, ia bahkan menaklukan roh Wisang hanya dalam sepuluh jurus, kekutan besar dimiliki nya membuat ia kadang berbicara sendiri, pendekar gendeng lah pendiri padepokan belibis putih atau kakek buyut dari Mahesa dan Caraka.


Di masa jaya nya pendekar gendeng berjuang bersama pedang sukama, kekuatan Wisang dapat menstabilkan pikiran sang pendekar dengan ilmu pedang setan, jurus pelengkap dari pusaka giok ini lah membuat pendekar gendeng merajai dunia persilatan.


Paman saya mau bertanya mengapa pada saat saya meneteskan darah sebagai tanda melakukan kontrak jiwa dengan roh pedang waktu mencabut wadah nya tidak merasakan sesuatu,... tanya mahesa kebingungan.


Dasar bocah gendeng, jangan jangan kau mewarisi otak gendeng nya, sudah ku katakan bahwa jika yang mencabut wadah ku hanya mendapat besi karat saja walaupun kau tuangkan satu bak darah mu tetap tidak bisa menjalin kontrak jiwa dengan ku, syarat kau dapat melakukan kontrak jiwa dengan ku harus mengalahkan ku dulu,... dengan wajah marah Wisang berkata sambil berteriak di hadapan Mahesa.

__ADS_1


Ha,... ha,.. ha,...


Bicara mu begitu sombong paman tapi makna yang terkandung di dalam nya adalah pengakuan, Jangan kau sama aku dengan pemilik sebelum nya, walaupun aku merupakan turun nya,... dengan wajah mengejek Mahesa berucap.


Wisang hanya dapat menahan amarah, ia mengakui kepintaran Mahesa namun dari segi tenaga dalam tentu pendekar gendeng lah yang ia puji, di dalam hati Wisang yakin ia telah memilih tuan yang tepat, memiliki kepintaran di atas rata rata, dengan usia masih muda ia yakin Mahesa dapat melebihi kekutan pendekar gendeng.


Pengakuan roh penjaga pedang giok membuyarkan seluruh alam yang di tempati mereka berdua kini tampak danau berair warna biru di depan Mahesa yang sedang duduk bersila, di samping nya sang adik nampak tertidur pulas sambil mendengkur.


Akhir nya aku benar benar telah menaklukan pedang giok, sensasi tenaga dalam yang melimpah di dalam pusat tenaga dalam ku harus dapat ku salurkan ke seluruh bagian tubuh ku, batin Mahesa melanjutkan meditasi nya menunggu sang adik bangun.


Memakan waktu cukup lama Mahesa menstabilkan seluruh tubuh ny, sore menjelang baru nampak Mahesa menguasai seluruh tenaga dalam yang ada di dalam tubuh, tampak Caraka yang menunggu sang kakak selesai bermeditasi, ia begitu bosan, Buaran kelinci bahkan ayam hutan telah habis ia santap sendiri namun sang kakak belum juga selesai.


Membuka mata setelah selesai bermeditasi Mahesa merasakan seluruh bagian tubuh nya memilki kepekaan ya sangat luar bisa, roh Wisang membantu menstabilkan enam panca Indra di dalam diri tuan nya, roh Wisang juga dikenal roh Sukma, ditambah pemahaman sempurna Mahesa terhadap kitab pedang setan membuat ia lebih peka.


Berendam di danau membuat tubuh Mahesa lebih segar, ia bahkan sengaja mengejek sang adik yang jenuh menunggu nya tadi, kedua bersaudara asik bermain air hingga waktu mulai gelap.


Kita akan bermalam disini adik, besok baru melanjutkan perjalan lagi,... ucap Mahesa setelah berganti pakaian.

__ADS_1


__ADS_2