PENDEKAR KEMBAR

PENDEKAR KEMBAR
Elang Putih


__ADS_3

Matahari menyinari bumi dengan hangat, tampak dua pemuda tengah bersiap siap melanjutkan perjalanan, setelah membersihkan diri dan menyantap makanan kedua pemuda beranjak meninggal kan penginapan.


Belum lama kuda mereka meninggalkan penginapan, beberapa pengawal mencegat perjalan mereka, Maaf tuan Mahesa dan Caraka kami di utus oleh juragan Margo menjemput anda kekediaman nya sebelum meninggalkan desa,... ucap salah satu pengawal yang telah di kenal Caraka.


Pengawal sampaikan salam kepada Ki Margo bahwa kami tidak sempat mampir karena terburu buru,.. jawab Caraka hendak memacu kuda nya kembali.


Sekali lagi maaf tuan Caraka, perintah juragan Margo, memaksa kedua pendekar mampir sebentar sebelum melanjutkan perjalanan, hamba hanya menjalankan tugas kiranya tuan tuan pendekar memahami,... paksa pengawal kembali menghentikan pergerakan kuda Caraka.


Caraka yang kesal hendak bertindak keras dihentikan oleh Mahesa, menggunakan isyarat, baik pengawal antarkan kami ketempat Ki Margo,... jawab Mahesa.


Sedikit perselisihan dalam menjemput kedua pendekar akhirnya berakhir kala Mahesa menenangkan sang adik, pengawal mengantar kedua pendekar menuju bangunan yang tidak cukup besar namun bersih, di dalam bangunan nampak Ki Margo beserta istri dan kedua anak nya menuggu Mahesa dan Caraka, Ki Margo mempersilahkan kedua pendekar duduk sebelum mengutarakan keinginannya.


Sebelum nya saya ucapkan terima kasih karena telah membantu mengembalikan hasil panen yang telah di rampok, tujuan saya mengundang kedua pendekar kemari adalah memberikan hadiah kecil berupa bangunan yang tidak terlalu besar ini, sekiranya kedua pendekar mau menerimanya,... ucap Ki Margo.


Mahesa dan Caraka sama sama diam ia tidak mengerti mengapa Ki Margo memberikan bangunan yang terbilang besar, sedangkan mereka dikenal dengan pendekar berkelana, namun mempersingkat waktu Mahesa dan Caraka menyetujui nya saja.


Kami berdua mengucapkan terima kasih banyak Ki, mudah mudahan di lain waktu hadiah ini dapat berguna, dan kami dapat membekas kebaikan Ki Margo,... jawab Mahesa.


Terjadi perbincangan hangat di dalam gedung itu setelah beberapa lama akhirnya kedua pendekar berpamitan meneruskan perjalanan.


Dari beberapa orang di dalam hanya putri lembayun yang memperlihatkan wajah sedih,emang baru dua hari ia berkenalan dengan Mahesa namun kedekatan mereka cepat terjalin, hal ini juga membuat hati sang gadis berat melepaskan kepergian Mahesa.


Ki Margo beserta yang lain mengantar kepergian kedua pendekar sampai di depan gerbang gedung, tampak putri lembayun berjalan di samping Mahesa dengan raut wajah sedih.


Kakang apa kah perjalanan akan begitu lama,... dengan surat pelan lembayun berucap, sontak membuat Mahesa kaget.

__ADS_1


Dengan senyum termanis Mahesa menjawab,.... kami adalah pendekar yang berkelana dengan tujuan tak pasti, namun Dinda jangan ragu saya berjanji tidak sampai seminggu akan kembali lagi.


Jawaban Mahesa sungguh diluar dugaan lembayun, pria yang satu ini. selalu memberikan jawaban yang mengejutkan, hal ini sudah membuat tenang hati sang gadis, lembayun hanya membalas dengan senyum manis, suatu ungkapan memegang janji sang pendekar.


Langkah kaki kuda bergerak dengan cepat ke arah selatan dari desa Laripan, perkiraan Caraka mereka akan tiba di hutan kabut senja nanti jika mereka memacu kuda dengan kecepatan penuh, perjalan menuju hutan kabut dari desa Laripan tidak melewati satu desa pun, tentu pelarian ini juga yang menurut Ki Raksono paling ampuh kala ia berencana merampok toko saudagar Ki Margo yang merupakan salah satu saudagar pendukung terkuat raja Bumi Surya.


Setelah mengistirahatkan sebentar kuda kuda mereka, kedua pendekar kembar melanjutkan perjalanan kembali, tepat sore hari mereka tiba di pinggiran hutan kabut, nama juga hutan kabut tentu berkabut namun kabut yang ditimbulkan bukan berupa asap melainkan tidak tembusnya sinar matahari, Mahesa dan Caraka memperlambat laju kuda mereka bertujuan menghindari tersandung nya kaki kuda dengan penerangan yang minim di dalam hutan.


Setelah berjalan kurang lebih seratus langkah Caraka memecahkan batu putih pemberian Ki Raksono sebagai tanda mereka menepati janji, Mahesa dan Caraka menunggu reaksi yang ditimbulkan dari kepulan asap putih yang keluar dari pecahan batu, benar saja sehabis nya asap putih keluar dari batu tiba tiba datang sepuluh pendekar, Mahesa dan Caraka memasang kewaspadaan tinggi mengingat hutan mereka berada adalah lokasi para anggota tengkorak putih.


Tampak berdiri di hadapan kedua pendekar muda sepuluh pendekar dengan tahap tenaga dalam yang cukup tinggi, Ki Raksono yang berada di depan segera maju memeluk Caraka.


Kau benar benar menepati janji mu ponakan ku, sungguh beruntung nya aki aki peot itu memiliki cucu yang memegang janji,... ucap Ki Raksono sambil melepaskan pelukan nya, namun ia begitu terkejut melihat di samping Caraka pemuda yang sama dengan wajah yang sangat mirip.


Salam paman,... ucap Mahesa memberikan salam.


Sungguh penggabungan dua kekuatan dalam diri di anak kembar, sangat beruntung kau aki peot, mempunyai dua cucu kembar dengan kesaktian tinggi di usia muda,... batin Ki raksono memperhatikan Mahesa.


Selamat datang di hutan kabut tempat markas kelompok tengkorak putih, semoga kerja sama kita dapat berjalan dengan lancar,... ucap Ki Raksono sambil mengantar kedua pendekar menuju bangunan markas.


Sesampai nya mereka di dalam hutan kabut tampak bangunan dari kayu berdiri dengan megah, beberapa bangunan sebagai tempat tinggal para anggota bersusun dengan rapi membentuk tembok pertahanan, para anggota tengkorak merah menyambut dua pendekar yang sudah di kabar kabarkan terdahulu oleh Ki Raksono sebagai pemimpin utama.


Pertemuan penting pun di gelar di dalam sebuah bangunan tampak petinggi petinggi dari kelompok tengkorak putih menghadiri pertemuan, jumlah delapan tetua dengan tingkatan tenaga dalam terendah berada di tahap Dwi akhir tentu membuat kelompok tengkorak putih menjadi salah satu kelompok disegani, dengan jumlah anggota mencapai empat ratus orang lebih sungguh pencapaian yang sangat besar.


Ki Raksono membuka pertemuan dengan memperkenalkan dua ponakan nya itu, para tetua yang hadir sungguh terkejut baru pertama kali mereka berjumpa dengan pemilik nama besar naga emas,

__ADS_1


Maaf pemimpin, menurut hamba dengan nama besar yang dimiliki naga emas dan padepokan naga, bukan perkara mudah jika mereka mau menggulingkan tampuk kepemimpinan raja Bumi Surya, mengapa justru meminta bantuan kami,... ucap ketua pertama.


Ramai para tetua mempertanyakan maksud dari Mahesa dan Caraka, wajar mereka hanya perampok tidak mengerti akan ilmu strategi, menurut mereka ilmu Kanuragan lebih penting dari pada politik.


Ki Raksono berdiri dari tempat duduk menenangkan para tetua agar pertemuan dapat berjalan dengan lancar, baik' jika begitu saya persilahkan pendekar naga emas dan saudara kembarnya memberikan penjelasan,... ucap Ki Raksono mempersilahkan kedua ponakan nya mengutarakan maksud mereka.


Salam para tetua tengkorak putih, hamba Mahesa kakak dari naga emas, hamba juga murid dari Ki Sapta dan Ki Anggoro, tujuan utama kami bertandang ke markas tengkorak putih, selain bersilahturahmi dengan paman Raksono juga berniat mengajak seluruh anggota tengkorak putih mendukung reformasi penyatuan kembali benua biru, dalam perjalanan ini tentu kami membutuhkan banyak dukungan salah satu nya dari kelompok tengkorak putih,... ucap Mahesa menjelaskan niat nya.


Para tetua yang hadir sungguh terkejut, menyatukan dua wilayah yang sudah terpecah sekian lama bukan lah hal mudah.


Tetua ke delapan yang merupakan tetua termuda mengajukan pertanyaan kembali,.... Pendekar naga dan saudaranya dengan usai kalian yang masih muda bagai mana cara kalian meyakinkan para pendekar sepuh, sebutkan juga cara kalian membentuk aliansi yang akan mendukung kalian sebagai jembatan antara wilayah timur dan barat.


Sungguh beruntung paman Raksono memiliki tetua secerdas anda, cara kami meyakinkan pendekar sepuh tentu dengan ilmu Kanuragan yang kami miliki, jembatan penyambung antara timur dan barat tentu kedua orang tua kami, pendekar harimau dan Dwi sedap rupa,... jawab Mahesa meyakinkan para tetua tengkorak putih.


Terjadi percakapan yang ramai kembali, setelah mengetahui asal usul kedua pendekar kembar yang ada di hadapan mereka.


Bagai mana para tetua apakah kelompok tengkorak putih bisa kami andalkan dalam mempersatukan benua biru, jika memang para tetua bersedia, kita akan membahas langkah selanjutnya,... ucap Mahesa.


Para tetua yang tadi ramai berbincang kembali terdiam mereka saling pandang sebelum menyanggupi permintaan kedua pendekar, Ki Raksono tersenyum bangga melihat sikap Mahesa menghadapi para tetua, membuat ia yakin berada di sisi ponakan nya adalah pilihan tepat.


Baik jika para tetua setuju, langkah selanjutnya hamba mohon untuk tetua ke tiga, empat, enam dan delapan berpindah markas di desa Laripan, disana ada sebuah gedung yang akan di gunakan sebagai pusat penjualan peralatan pendekar dan bahan bahan herbal, hal ini bertujuan sebagai pemasok dana bagi kelompok pendukung kami, gedung itu juga berfungsi bagai puasat informasi dan markas teliksandi,... ucap Mahesa menjelaskan.


Ki Raksono begitu tercengan mendengar rencana Mahesa, pikiran yang matang serta berpandangan jauh kedepan, membuat Ki Raksono tidak ragu dalam membela prinsip ponakan nya.


Baik lah para tetua, mulai hari ini kita akan mengubah nama kelompok ini menjadi ELANG PUTIH, tentu nama yang sama dengan julukan paman saya,... mempertegas pernyataan Mahesa, Caraka berucap.

__ADS_1


__ADS_2