PENDEKAR KEMBAR

PENDEKAR KEMBAR
Sayap Timur


__ADS_3

Jendral Guntal beserta istri melas kepergian putri melisa, dalam hati jendral Guntal sangat sedih putri semata wayang pergi menuju ke padepokan naga menuntut ilmu.


Dikawal tiga panglima serta sepuluh prajurit, perjalanan putri melisa menuju padepokan naga memakan waktu lima hari.


Di dalam kereta kerajaan putri Melisa sangat berharap suatu hari nanti ia dapat bersanding dengan Caraka, pemuda yang telah mencuri hatinya pada pandangan pertama, serta pemuda yang pertama kali ia tatap kala sang putri siuman.


"Aku akan tekun belajar hingga dapat menjadi pendamping mu yang layak, mungkin butuh waktu hingga engkau melihat akan ketulusan hati, tapi yakin pasti itu terjadi," batin putri Melisa.


Sesungguhnya perasaan putri Melisa bisa digambarkan bertepuk sebelah tangan, laki laki yang ia sukai sama sekali belum memiliki perasaan apapun terhadapnya, bahkan Caraka sendiri belum memikirkan wanita.


Mahesa dan Caraka telah berangkat lebih dulu, mereka melalui jalur berbeda, niat dari kedua bersaudara itu menuju markas pemberontak, setelah mengintrogasi dan meyakinkan tawanan yang ditahan oleh pengawal jendral, Mahesa dan Caraka mengetahui lokasi markas pemberontak.


Deru langkah kaki kuda terdengar sangat kencang kala kedua pemuda memacu kuda mereka menuju hutan rimba yang kemarin mereka lewati menuju lembah kelinci, didalam hutan tersebut berdiri markas pemberontak.


Hutan yang tidak tembus akan cahaya matahari, sangat cocok untuk mendirikan markas, letak markas pemberontak tepat berada di sisi selatan hutan, jalur ini berbeda dengan jalur menuju lembah kelinci, jalur ini sangat dekat dengan kadipaten Jejalen, kadipaten Jejalen merupakan jalur terdekat menuju ibu kota wilayah timur.


Bunyi peluit bergema sahut menyahut, tanda ada penyusup atau orang asing masuk ke wilayah markas, markas kelompok sayap putih, kelompok pemberontak ternama di wilayah timur, kelompok paling di cari oleh pihak kerjaan.


"Hormat pemimpin, ada dua pemuda berusaha masuk ke wilayah kita, harap pimpinan memberi perintah," ucap pengintai dari kelompok sayap putih.


"Tahan, jangan gegabah, saya sendiri yang akan menemui kedua pemuda tersebut!" ucap pemimpin kelompok sayap putih Ki Ampel.


Ki Ampel adalah pendiri kelompok sayap putih, sikap pemberontakan yang ia tunjukkan merupakan rasa tidak senang terhadap Ki Bumi Surya, menurut Ki Ampel, raja wilayah timur telah bertindak semena mena terhadap para rakyat, pajak yang tinggi, pemaksaan kepada pemuda pemuda desa dalam perekrutan prajurit kerajaan, serta masih banyak lagi.

__ADS_1


Pasukan yang terdiri dari para pendekar rekrutan serta keluarga yang menjadi korban peraturan kerajaan, telah berjumlah empat ratus lebih, kelompok yang telah berdiri lebih dari lima tahun tentu bukan isapan jempol belaka.


"Hai anak muda, ada gerangan apakah kau berusaha mendekati markas kami?" tanya Ki Ampel yang telah berada tepat di hadapan kedua pendekar yang dilaporkan oleh anggota pengintai sayap putih.


"Maaf paman, tujuan kami kemari tidak bermaksud jahat, kami bukan mata mata kerajaan, jika diperkenankan boleh kah kami singgah di tempat sayap putih," ucap Mahesa dengan tenang.


Ki Ampel sungguh terkejut, sikap tenang diperlihatkan kedua pemuda sungguh membuat Ki Ampel kagum, memasuki sarang lawan tanpa takut, bahkan mengutarakan niatnya pun kedua pemuda ini masih tampak tenang.


"Kami sayap putih tidak pernah berurusan dengan dunia persilatan, kami hanya mengurusi pihak kerajaan, jika kisanak berdua berkeinginan bergabung dengan kami pintu selalu terbuka," ucap Ki Ampel memberikan tawaran.


"Tujuan kami bahkan lebih besar dari sekedar kerajaan wilayah timur, jika paman mengijinkan boleh kita berbicara ditempat yang layak," ucap Mahesa kembali.


Ki Ampel masih memasang kecurigaan, namun ia tetap mengajak kedua pemuda kemarkas sayap putih demi menghormati niat baik kedua pemuda.


Menaiki rumah kayu yang terbilang besar dan tinggi, Mahesa dan Caraka dipersilahkan duduk, di dalam rumah tampak empat orang yang merupakan ketua pasukan pemberontak.


"Ada keperluan apakah kisanak berdua hingga mampir di tempat kami?" kembali bertanya Ki Ampel.


"Kami berdua menawarkan kerjasama, kami juga telah memilki sekitar delapan ratus pasukan tempur, jika para pasukan sayap putih mau bergabung, kami bisa membantu melengsaerkan raja wilayah timur," ucap Mahesa meyakinkan Ki Ampel.


Ki Ampel makin terkejut dibuat, pemuda yang tampak biasa biasa saja ternyata telah membangun pasukan yang begitu besar, namun Ki Ampel tidak merta merta percaya akan ucapan pemuda yang baru dikenalnya.


"Jika memang kisanak berdua telah memilki pasukan, mengapa masih membutuhkan bantuan kami, jika boleh tau siapakah identitas kisanak berdua?" tanya Ki Ampel.

__ADS_1


"Tujuan kami sebenarnya bukan melengserkan raja wilayah timur, namun lebih besar lagi, kami bermaksud mencari sebanyak banyaknya sekutu guna mengembalikan persatuan benua biru, jika sayap putih bersedia bergabung, maka kami bisa menyambungkan komunikasi dengan markas sebelumnya," ucap Mahesa.


Ki Ampel dan para tetua yang hadir semakin dibuat terkejut, tujuan yang begitu besar, jika mereka dapat bergabung maka tak ayal mereka akan kebagian andil yang bagus.


"Jika kami bersedia bergabung apa keuntungan bagi sayap putih, jika kami menolak maka apa pula konsekuensinya?" tanya Ki Ampel.


"Gampang jika sayap putih bergabung wilayah ini akan menjadi pusat pembentukan pasukan utama di wilayah timur, namun! jika sayap putih menolak, kami akan membocorkan lokasi markas kalian," tegas Mahesa dengan tenang.


Para tetua yang hadir merasa sangat diremehkan oleh dua pemuda di hapan mereka, bahkan salah satu dari ketua yang hadir sudah mencabut pedang tanda tidak senang akan ancaman Mahesa.


"Tenangkan diri kalian, sesungguhnya penawaran yang diberikan oleh kedua pemuda ini sungguh masuk akal, tapi kami sayap putih meminta syarat,' ucap Ki Ampel sambil menangkan para ketua yang hadir.


"Syarat apa yang hendak paman ajukan," ucap Mahesa.


"Jika memang lokasi markas kami akan di jadikan pusat komando pasukan, maka ijin kami sayap putih menyerang kerajaan wilayah timur," ucap Ki Ampel bernegosiasi.


"Kita liat saja nanti paman, jika hasil ajakan kami kepada raja Bumi Surya gagal, maka bukan paman yang akan bergerak menyerang, tapi kami sendiri," balas Mahesa.


Kesepakatan telah dicapai, pasukan sayap putih kini menjadi pusat komando, dan berubah nama menjadi SAYAP TIMUR, tugas utama adalah mengumpulkan sebanyaknya pasukan, Ki ampel sendiri yang menjadi pemimpin pasukan, di dampingi keempat ketua yang ada.


Kepercayaan Mahesa sangat beralasan, kekuatan yang dimiliki Ki Ampel telah mencapai tahap Sapta awal, tentu mudah bagi sayap timur mengembangkan kekuatannya, ditambah dengan pasukan pengintai elang putih tentu kekuatan yang dimiliki sekarang telah menyamai kerajaan wilayah timur.


Menetap selama tujuh hari di markas sayap timur, Mahesa dan Caraka melakukan banyak perombakan struktur, mereka juga membangun bangunan dari kayu tempat berlatih, menyimpan peralatan senjata dan bangunan bahan logistik, penataan sederhana namun efisien sengaja dilakukan Mahesa dan Caraka agar para pasukan sayap timur terbiasa akan aturan yang mengikat.

__ADS_1


Dirasa cukup pembenahan Mahesa dan Caraka melanjutkan perjalan dengan tujuan awal padepokan naga.


__ADS_2