PENDEKAR KEMBAR

PENDEKAR KEMBAR
Tengkorak Putih


__ADS_3

Terbagi menjadi dua kelompok pengejaran kawanan perampok dilakukan, rombongan enam pendekar menggunakan kuda dipimpin oleh Mahesa ke arah timur, kelompok yang dipimpin Caraka juga melaju menggunakan kuda kearah selatan.


Walaupun kelompok kecil namun bobot kekuatan tentu sangatlah besar jika bertemu dengan dua puluh kawanan rampok tentu dapat diringkus, mengikuti jejak kaki yang tertinggal di toko saudagar maka Mahesa memecah manjadi dua.


Sesungguh nya bagi putri lembayun berada dalam kelompok Mahesa tentu sangat membuat diri nya serba salah, gelagat yang diperlihatkan Mahesa yang sering mencuri pandang kearah nya tentu penyebab nya.


Sungguh bukan sembarangan putri saudagar kekutan nya telah mencapai tahap Dwi awal, wajar jika Ki Margo tidak terlalu khawatir akan anak gadis nya celaka,... batin Mahesa yang mengukur kekuatan tenaga dalam sang putri.


Mahesa sengaja mengambil jalur timur, melihat jejak kaki yang tertinggal lebih banyak mengarah ke timur, tanpa sepatah kata dan perbincangan laju kuda di percepat agar dapat menyusul kawanan rampok.


Matahari telah berada di atas kepala namun yang di kejar pun tak nampak, sungguh membuat Mahesa frustasi, apakah mereka sanggup menarik gerobak sebanyak itu dengan cepat,.. batin Mahesa.


Putri lembayun yang tampak kelelahan tidak dapat berbicara, ia mengerti keadaan yang ada, dan menghormati Mahesa sebagai pemimpin pasukan.


Keluar dari hutan rombongan Mahesa menjumpai sebuah desa kecil, tampak tidak ada penjagaan berarti di gerbang desa membuat Mahesa sedikit curiga, rombongan memutuskan berjalan sambil menuntun kuda, tampak beberapa kedai makan dan penginapan kecil yang terpajang di pinggir jalan.


Mahesa memutuskan memasuki rumah makan yang menurut nya sedikit bersih, sambil menunggu makanan yang dipesan Mahesa bertanya kepada pelayan yang ada di depan meja pembayaran, apakah kisanak tidak melihat ada rombongan gerobak yang memasuki desa ini,... tanya Mahesa kepada sang pelayan.


Maaf tuan desa kecil kami jarang di kunjungi pedagang atau pun saudagar kaya, hanya beberapa pendekar yang melintas, jadi apa yang di maksud dengan tuan muda seperti nya belum terlihat,... jawab sang pelayan.


Mendengar jawaban pelayan Mahesa kembali duduk berkumpul dengan rombongan, tampak raut muka kecewa yang di perlihatkan Mahesa.


Tuan jika memang para perampok telah pergi jauh sebaik nya kita tidak usah mengejar nya, ayah ku sendiri telah merelakan apa yang hilang dari isi toko kami,... ucap lembayun memberi penjelasan kepada Mahesa agar tidak terlalu memaksakan diri mengejar para perampok.


Mahesa yang sedang melamun tampak kaget mendengar ucapan putri lembayun, maaf tuan putri hamba belum mengetahui nama anda, dan pengawal sekalian,... ucap Mahesa bertanya.


Putri lembayun begitu terkejut mendengar pertanyaan Mahesa, perkiraan lembayun jawaban yang keluar di mulut Mahesa adalah sebuah strategi bukan perkenalan, sempat sempat nya kau mengambil kesempatan dalam kesempitan,... batin putri lembayun.

__ADS_1


Saya adalah anak ke dua Ki Margo, nama saya lembayun, di samping ini guru saya Ki Badri, dan mereka semua pengawal setia saya,... jawab putri lembayun memperkenalkan diri.


Nama saya Mahesa, biasa nya perkenalan di situasi genting dapat dipertahan kan,... canda Mahesa menghilangkan ketegangan di antara para rombongan.


*******


Di jalur selatan tampak laju kuda yang tidak terlalu kencang, perbincangan hangat antara Caraka dan Danendra cukup menghibur para pengawal yang ada, sikap Danendra yang gampang bergaul membuat Caraka lebih gampang bercerita.


Maaf saudara Danendra apakah engkau tidak jenuh mengurus semua kertas yang ada dihapan mu kala engkau bekerja, karena menurut ku kertas lebih tajam dari pisau,... tanya Caraka kala ia sedang bersampingan dengan danendra.


Ha,.. ha,.. ha,..


Kawan kertas itu putih sedangkan kita yang menorehkan warna diatas nya, jadi buat apa kau takut, andai saya memilih lebih baik berada di posisi kalian, bebas kemana mana sesuka hati,.. jawab Danendra mengutarakan kejenuhan nya.


Ternyata setiap yang kerjaan yang kita lakukan mempunyai kejenuhan masing masing,... batin Caraka.


Caraka memacu kuda lebih awal mencegat laju para perampok, pemimpin perampok yang berada di tahap Sapta awal tidak terkejut karena yang mencegat nya adalah pemuda baru berada di tahap Dwi akhir.


Hai pemuda apa kah kau mempunyai banyak nyawa hingga menghadang jalan kami,... ucap sang pemimpin Ki Raksono.


Caraka hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan pemimpin rampok, tak berselang lama Danendra beserta rombongan bergabung menghadang pergerakan para rampok.


Serah kan kembali apa yang kau ambil dari toko kami, jika tidak jangan salahkan kami melakukan kekerasan,... ucap Danendra sambil menghunuskan pedang nya.


Ha,... ha,... ha,...


Dua pemuda bau kencur mau menantang kelompok TENGKORAK PUTIH, sungguh nyali besar,.. sindir Ki Raksono.

__ADS_1


Minggir kalian jangan sampai pedang ini bersarang di batang leher kalian, apa yang telah kami ambil tentu tidak akan dikembalikan, jadi lebih baik kalian mempersiapkan diri menemui penjaga neraka,.. tantang Ki Raksono sambil maju menyerang.


Caraka yang melihat situasi, langsung bergerak menghadang serangan Ki Raksono, ia berencana menjadi lawan Ki Raksono, anggota berkisar lima belas orang dengan tahap rata rata berada Dwi awal, Caraka yakin Danendra dan para pengawal nya bisa mengatasi.


Ki Raksono tidak menyangka akan berhadapan dengan Caraka, bagi Ki Raksono melawan Danendra akan lebih menantang, serangan pembuka Ki Raksono dapat ditangkis dengan mudah oleh Caraka, hal ini juga membuat Ki Raksono kaget, pemuda terlihat biasa saja dapat menepis serangan perkenalan nya.


Pertarungan tidak seimbang tersajikan satu lawan dua tentu membuat Danendra dan pengawal nya kewalahan, membutuhkan puluhan jurus bagi para pengawal Danendra dapat keluar dari serangan anggota tengkorak putih.


Satu persatu para rampok bertumbangan tersisa mereka yang berada di tahap Dwi awal masih memberikan perlawanan, Caraka sedari awal hanya bertahan dari serangan Ki Raksono melihat situasi telah berbalik mulai mengambil inisiatif menyerang.


Jurus pembuka dari kitab cakar elang di gunakan menekan Ki Raksono, mendapat serangan tapak tentu Ki Raksono merubah pertahanan nya menggukan punggung pedang karena ia yakin jurus yang di gunakan caraka dapat membahayakan pedang nya.


Ternyata kau berasal dari padepokan naga, sudah lama saya tidak merasakan lawan pengguna tapak,... batin Ki Raksono, yang menyarung kan pedang nya siap bertarung menggunakan jurus tapak juga.


Serangan selanjut nya sungguh mengejutkan Caraka, jurus yang sama di gunakan Ki Raksono membuat Caraka berda dalam posisi bertahan.


Dari mana kau mempelajari jurus cakar elang, setau ku hanya padepokan naga yang memiliki jurus itu, apa jangan jangan kau adalah,... ucap Caraka menghentikan pertarungan nya.


Ki Raksono tidak menggubris ucapan Caraka, mengumpulkan tenaga dalam Ki Raksono maju menyerang menggunakan jurus ke dua dari kitab cakar elang, sambutan serangan dari Caraka sungguh di luar dugaan, tapak tangan Caraka menyala mengkilap tanda ia menggunakan jurus ke dua kitab naga suci, Caraka tidak mau bermain main dengan lawan yang menurut dugaan nya murid pertama Ki Sapta.


Jurus demi jurus telah beradu Ki Raksono mulai mengendurkan serangan, nafas naik turun di perlihatkan Ki Raksono, ia tidak menduga lawan kali merupakan cucu kesayangan Ki Sapta, naga emas itu lah julukan Caraka kala lawan melihat jurus tapak bercahaya yang diperagakan Caraka.


Apa kah sekarang engkau mau memberi tahukan jati dirimu Ki agar tapak naga suci ini dapat mengenal lawan yang akan ia kalahkan,... sindir Caraka memancing emosi lawan.


Ku akui jurus dan tenaga dalam mu sungguh jauh di atas ku, tapi apa kau tau murid berbakat pertama dari aki aki peot itu bisa meladeni mu dengan sengit,... canda Ki Raksono yang merasa tidak akan menang melawan Caraka.


Siapa yang tidak kenal dengan naga emas, bukan sekedar julukan biasa, pendekar yang telah memikat hati raja Bumi Surya untuk di jadikan jendral nya ini tentu bukan lawan gampang, bahkan raja wilayah timur sendiri belum dapat mengalahkan nya.

__ADS_1


kali ini Ki Raksono bergerak menyerang dengan sekuat tenaga, ia sadar pemuda yang menjadi buah bibir dikalangan pendekar bukanlah lawan yang gampang, menggunakan jurus terkhir dari kitab cakar elang Ki Raksono berharap memberikan perlawanan yang sengit bagi lawan nya.


__ADS_2