
*EMPAT BELAS TAHUN KEMUDIAN*
Pertemuan penting di lakukan di padepokan belibis putih, tampak duduk wanita paruh baya berusia empat puluh tahunan duduk di singgah Sanah dengan anggun, Parwati atau Dewi sedap rupa sekarang dialah yang menjadi pemimpin padepokan belibis putih, di samping kanan duduk seorang pemuda Mahesa putra dari Parwati.
Setelah di didik dengan keras oleh ibunya Mahesa menjelma menjadi pemuda tampan dan gagah, pendekar pilih tanding di usia yang sangat muda, pemahaman nya terhadap berbagai kitab pedang dan tapak menjadikan Mahesa pendekar muda dengan bakat luar biasa tak ada bandingnya di wilayah barat. mencapai tahap Sapta awal di usia muda tentu bukan isapan jempol belak.
Para tetua yang terhormat, pertemuan ini diadakan membahas pertandingan pencarian bakat antar kedua wilayah, jadi kiranya para tetua mempersiapkan murid murid yang ikut berlaga, sekira nya kita dapat membawa kembali keharuman nama padepokan kita seperti tiga tahun yang lalu,... ucap Parwati.
Untuk pendamping yang akan menemani murid ke benua tengah, saya, tetua kedua dan ketiga yang akan berangkat,... sambung Parwati memberi perintah.
Ajang adu bakat antar murid wilayah barat dan timur dia adakan di benua tengah tepat nya desa daun, di sana terdapat gedung mewah dan besar peninggalan benua biru, bertepatan dengan itu juga Mahesa dan Caraka genap berumur dua puluh tahun.
Semoga tahun ini ayah mu beserta Caraka ikut mengawal murid murid dari padepokan naga,.... ucap Parwati kala tinggal berdua di dalam ruangan dengan Mahesa.
Ia ibu saya sudah sangat rindu dengan adikku, dalam surat nya seminggu yang lalu ia telah menyempurnakan kitab naga suci,... balas Mahesa.
Tentu Parwati terkejut mendengar ucapan anak nya, jika di bandingkan dengan ayah hanya memahami hingga jurus ke enam sudah sekuat itu, Parwati tidak dapat membayangkan Caraka yang telah menyempurnakan kitab naga suci sekuat apa anaknya.
Senyum mengembang Parwati terlihat, ternyata engkau memang akan mewujudkan janji pada ibu mu ini anak ku,.. batin Parwati dengan gembira.
Keseharian Mahesa selain berlatih tentu memperdalam dan belajar kitab kitab yang telah diberikan oleh kedua orang tua nya, sama seperti sekarang, setelah selesai mengikuti pertemuan Mahesa masuk keruang pribadi kakek nya melakukan tapa Brata, ia berencana menembus tahap sapta akhir sebelum berangkat ke wilayah tengah.
Didalam ruangan yang tidak terlalu terang terlihat seorang pemuda duduk bersila, konsentrasi yang tinggi tampak menemani tapa Brata nya, setiap pendekar yang akan naik ke tahap Sapta akhir harus melawan kembaran jiwa nya, jika ia menyerah dan gagal maka akan di kuasai kembaran jiwa yang jahat jika ia berhasil maka kekuatan tanpa batas akan jadi milik nya, misalkan ia dapat menyembunyikan tingkat kekuatan nya semaunya, dan masih banyak lagi.
Didalam yang terang dan membentang luas tanpa batas berdiri dua sosok yang sama, Mahesa dan kembaran nya, ha,... ha,.. ha,....
sudah lama kutunggu hari anak muda, kau sang lama menemui ku, harusnya dengan bakat yang kau miliki tidak perlu terlalu lama aku menunggu,... ucap kembaran jiwa Mahesa.
Mahesa yang sudah mempersiapkan segala hal kala bertemu dengan kembaran jiwanya cuma tersenyum lembut.
Aku datang menemui mu meminta ijin agar kau mau mengalah dan memberi tempat agar diriku makin berkembang,... sahut Mahesa tanpa memperdulikan ejekan kembaran jiwanya.
Dari semua pendekar yang telah bertemu dengan kembaran jiwa nya hanya sedikit yang berhasil mendapat restu dari kembaran jiwa nya, bahkan adik mu sendiri yang telah bertemu dengan kembaran jiwa jauh sebelum diri mu datang sangat kewalahan menghadapi cobaan,.. jawab kembaran jiwa Mahesa mempertanyakan kesanggupan diri nya.
Tentu Mahesa terkejut mendengar ucapan dari kembaran jiwanya perihal adik nya yang lebih dulu masuk ke tahap Sapta akhir, dengan semangat seperti ini Mahesa akan berjuang keras mengalahkan kembaran jiwa nya.
__ADS_1
Baik lah kembaran ku mohon bimbingan nya,.. ucap Mahesa langsung mencabut pedang nya bergerak maju menyerang menggunakan jurus kitab angsa putih, terlihat kecepatan dan pergerakan yang lembut kala setiap jurus menuju titik vital lawan, kembaran jiwa nya tentu tidak mau kalah mengunakan jurus yang sama ia dapat mengimbangi Mahesa.
sudah lebih dari tiga puluh jurus berlalu Mahesa belum mendapatkan cela sedikitpun menggores kan luka di tubuh lawan nya, tampak rasa frustasi mulai menyelimuti diri nya, apa sekuat ini kah ujian naik ke tahap Sapta akhir,... batin Mahesa.
Mahesa bergerak mundur mengatur nafas, tampah dada nya bergerak maju mundur tanda ia begitu kelelahan,
ha,... ha,.. ha,..
Itulah perbedaan kau dan aku, tenaga dalam yang kau miliki ada batas nya tapi aku tentu tidak ditambah kau bertarung di tempatku maka jangan bermimpi kau dapat mengalahkan ku,... ejek kembaran jiwa Mahesa.
Tanpa menghiraukan ejekan dari kembaran jiwanya Mahesa bergerak cepat, menggabungkan jurus ketiga dan kelima dari kitab naga suci Mahesa bak kesetanan memborbardir pertahanan lawan, tekad bulat yang dimilki Mahesa tentu menjadi hambatan bagi kembaran jiwa, setiap pendekar yang akan memasuki tahap Sapta akhir selalu gagal karena terdapat kelemahan kecil yang dibaca oleh kembaran jiwanya, namun pada diri Mahesa, semua itu tidak di temui, rasa rindu akan adik dan ayahnya, adik nya telah menembus Sapta akhir lebih awal dari dirinya, serta tanggung jawab tongkat kepemimpinan belibis putih lah pemicu tidak ada kelemahan kecil dirinya, kembaran jiwanya hanya bisa mengejek Mahesa agar menciptakan lubang kecil sebagai titik lemah yang bisa ia gunakan mengalahkannya.
Kesempatan terbuka kala Mahesa menggunakan jurus kenam kitab naga suci serta menggabungkan dengan jurus ke dua kibat angsa putih menggunakan cakar Mahesa mampu merobek punggung kembaran jiwanya kala ia akan bergerak menyamping, dengan salto ke belakang Mahesa mengatur nafas sebelum kembali bergerak menyerang.
Berhenti,....
Tidak ku duga penggabungan dua kitab beda tingkat akan sangat besar dampak, saya mengaku kalah, seluruh kekutan pada diri dapat kau miliki, tapi dengan satu syarat kau harus bisa mencabut pedang giok yang ada di dalam ruangan pusaka padepokan belibis putih,... ucap kembaran jiwa Mahesa.
Apa kau yakin setelah aku menembus tingkat Sapta akhir dapat mencabut simbol dari padepokan ku,.. jawab Mahesa dengan ragu.
Ya kau bisa karena di tubuh mu terdapat tiga titik mahkota tentu kau tidak kesulitan dalam menghimpun tenga dalam kala mencabut pedang giok, ditambah kita telah bersatu tentu tenaga dalam yang kau miliki amat berlimpah,... jawab kembaran jiwa Mahesa meyakinkan.
Tak berselang lama kembaran jiwa berubah menjadi cahaya putih dan masuk menuju titik tengah antara dada dan perut menimbulkan titik putih terang sebagi tanda bahwa Mahesa telah bersatu dengan kembaran jiwanya dan menembus Sapta akhir.
Setelah dua Minggu melakukan tapa Brata Mahesa keluar dari ruangan, menemui ibunya menyampaikan maksud agar sang ibu mengijinkan dirinya mencoba mencabut pedang giok.
Di teras kediamannya tampak Parwati tersenyum bangga Mahesa menyelesaikan tapa Brata lebih cepat dari yang ia pikirkan.
Salam ibu,.. ucap Mahesa telah berada dihapan ibunya.
Kau benar putra ku yang sangat banggakan, telah berada di tahap Sapta akhir diusia belum genap dua puluh tahun, pasti ayah mu akan bangga melihat ini,... ucap Parwati yang melihat titik putih berada tepat di tengah pusat tenaga dalam Mahesa.
Ibu, saya akan mencoba mencabut pedang giok apa kah ibu mengijinkan,.. ucap Mahesa mengutarakan keinginannya.
Tentu boleh anakku, karena ibu yakin setelah kakek buyut mu tentu hanya kau yang dapat menggunakan pedang giok,... jawab Parwati dengan riang.
__ADS_1
Setelah persiapan semua selesai para murid terpilih berkumpul di halaman padepokan bersiap melakukan perjalanan menuju wilayah tengah.
Tampak mengawal di depan Mahesa dan Parwati, sedangkan di belakang tetua ke dua dan ketiga mengiringi langkah mereka.
Mahesa tampak tersenyum, setelah mencabut pedang giok dan melakukan kontrak darah dengan roh penjaga pedang ia benar benar siap mengarungi dunia persilatan.
Pedang giok yang tertanam di dalam tubuh Mahesa memberikan aura yang luar biasa berwiba terhadap Mahesa kala setiap orang memandangnya.
*******
Di wilayah timur padepokan naga jaga melakukan persiapan mengutus para murid berbakat mengikuti ajang tahun, yang berangkat sebagai pendamping para murid hanya Ranggawi dan Caraka saja.
Padepokan naga tidak terlalu berambisi dalam memperebutkan juara, jadi Ki Sapta sebagai pemimpin padepokan hanya mengirim tiga murid berbakat saja.
Ranggawi yang menjabat sebagai tetua ke empat setelah Ki Sapta menjadi pemimpin tentu bukan tetua terlemah, justru merupakan tetua terkuat hanya urutan masuk menjabat saja yang membuat Ranggawi berada di posis keempat.
Ranggawi tampak kesal menunggu anaknya Caraka di depan pintu gerbang padepokan, para murid yang akan berangkat hanya senyum senyum saja, berbeda karakter antara Caraka dan ayahnya itu sering membuat para murid tertawa atau pun hanya sekedar senyum.
Ranggawi yang terkenal disiplin, tegas dan cekatan tentu berbanding terbalik dengan sang anak yang susah di atur dan santai.
Caraka tidak pernah ikut dalam perkembangan padepokan apa lagi soal pertemuan merupakan anti bagi Caraka, setiap hari ia gunakan berlatih dan bermeditasi saja, selain menjalankan misi untuk menambah pundi pundi keuangan padepokan dan uang sakunya, misi yang di tugaskan tentu oleh kakek gurunya saja.
Nama Caraka di wilayah timur sungguh terkenal bahkan jauh melampaui ketenaran sang ayah dengan julukan naga emas dan berada di level Tampa tanding di usia muda itu hal gampang.
Sebelum berangkat menuju ke wilayah tengah Caraka berjanji pada ayahnya akan menuntas pemahamannya terhadap kitab naga suci, namun sampai waktu yang ditunggu Caraka belum juga bergabung dengan tim yang sudah menunggu di pintu gerbang, hal ini juga yang membuat Ranggawi merasa dongkol.
Tampak berlari menggunakan ilmu meringankan tubuh seorang pemuda gagah bepostur tubuh tegab berwajah tampan berhenti di depan rombongan murid yang akan berangkat tanpa menimbulkan desiran angin membuat debu berterbangan.
Salam kakek guru,.. dengan senyum Caraka menyapa Ki Sapta, para murid dan sang ayah.
Ha,... ha,... ha,..
Kau sudah menyempurnakan jurus ke tujuh dari kitab naga suci dalam waktu kurang dari sebulan, betul betul membuat kakek iri,... ucap Ki Sapta sambil menepuk pundak Caraka.
Cih' kalau mau pamer jangan disini,... sindir Ranggawi yang tidak terima anaknya selalu mendapat pujian dari ayahnya Ki Sapta.
__ADS_1
Sudah sudah kalian berangkatlah agar tidak telat sampai di wilayah tengah, hati hati dijalan dan jauhi permusuhan dengan padepokan yang lain,... ucap Ki Sapta melerai pertengkaran anak dan ayah sekaligus melepas keberangkatan para murid berbakat dari padepokan naga.
Memimpin rombongan murid murid berbakat Caraka berjalan di depan di susul para murid dan sang ayah.