
Penjelasan Mahesa tentang rencana selanjutnya didukung penuh oleh kelompok elang putih, Ki Raksono memerintah kan tetu ke tiga, ke empat, ke enam dan delapan untuk mempersiapkan diri melakukan perjalan sesuai yang direncana kan Mahesa, Ki Raksono juga memerintah kan lima puluh anggotanya untuk mengikuti para tetua.
Ruangan pertemuan yang ramai berubah sepi, para tetua telah kembali ke tempat masing masing, tersisa Mahesa, Caraka, dan Ki Raksono masih berbincang, paman apa kah tidak benar tidak ada niat kembali ke padepokan naga menjenguk kakek guru,.. ucap Mahesa sedikit penasaran.
Untuk sekarang saya belum memikirkan nya, entah besok atau lusa kalau saya berubah pikiran mungkin bisa,.. jawab Ki Raksono dengan wajah sedih.
Ki Raksono dulu mendapatkan julukan elang putih, berubah nya jaman dan jarang nya ia berpetualang membuat julukan yang dulu sangat di takuti lawan perlahan sirna, Ki Raksono tidak ambil pusing dengan hal itu, ia hanya berkonsentrasi membalaskan dendam sahabat nya.
Perbincangan hangat terjadi antara mereka bertiga hingga malam menjelang, Mahesa dan Caraka pamit istirahat.
Selama tiga hari Mahesa dan Caraka bermalam di markas elang putih, sambil menyusun strategi selanjutnya Mahesa juga memberikan arahan kepada para anggota elang putih dalam meningkatkan tahap tenaga dalam, di bantu Ki Raksono mengajarkan kitab cakar elang, Mahesa berharap di masa depan kelompok yang ia bimbing dapat memberi andil yang kuat dalam mewujudkan keinginan nya.
Persiapan telah selesai,.para tetua dan ke lima puluh anggota elang putih telah siap, Mahesa dan Caraka berpamitan kepada Ki Raksono, perjalanan menuju desa Laripan pun di mulai.
Rombongan anggota elang putih hampir sampai di desa Laripan, Mahesa memberhentikan pasukan sambil beristirahat, para tetua ijin kan hamba berangkat duluan ke sesa Laripan, hamba akan memohon ijin kepada saudagar Marko sebelum kalian memasuki desa,... ucap Mahesa.
Mendapat persetujuan dari para tetua Mahesa memacu kuda menuju desa Laripan,.setelah melalui pos penjagaan di depan gerbang desa Mahesa menuju ke kediaman saudagar Marko.
Para pengawal yang berada di depan kediaman saudagar Marko kaget melihat kehadiran mahesa sendirian, setelah mengutarakan maksud nya, Mahesa di persilahkan masuk kedalam rumah menemui junjungan mereka.
Salam paman, hamba kembali ke desa bertujuan meminta ijin menggunakan gedung yang paman berikan kepada kami, kami akan menggunakan sebagai toko penjualan perlengkapan pendekar dan tanaman herbal,... ucap Mahesa.
__ADS_1
Kami juga membawa rekan rekan dalam membantu mengelola bisnis yang akan dimulai, sekira nya paman mengijinkan,... lanjut Mahesa.
Ki Margo tampak terpesona dengan pemikiran pemuda yang baru di kenalnya ini, wajar jika putri nya begitu tergila gila kepada pemuda berbakat seperti ia.
Silahkan di gunakan dengan baik nak Mahesa, bukan kah gedung tersebut telah menjadi milikmu, jadi laju bebas menggunakan nya,.. balas Ki Margo dengan senyum.
Terima kasih paman atas ijin yang kau berikan, kalau begitu hamba mohon pamit menjemput rekan kerja semua,... balas Mahesa sambil berpamitan.
Tampak di gerbang desa Laripan segerombolan orang memasuki desa dengan di kawal prajurit desa, tampak Mahesa dan Caraka sebagai pemimpin, setibanya di depan gedung yang diberikan Ki Margo Mahesa mempersilahkan para tetua dan anggota elang putih memasuki gedung dan menyimpan barang bawaan nya.
Silahkan membiasakan diri di markas baru yang akan menjadi rumah baru bagi kelompok elang putih, dan gedung ini juga akan menjadi markas ke dua pejuang elang putih,... sahut Mahesa memberikan semangat.
Memberikan arahan tentang tata ruang dan struktur organisasi sampai menjelang senja Mahesa dan Caraka berpamitan mencari penginapan.
Malam menjelang tampak dua pemuda sedang berbincang bincang dengan suguhan arak dan makan kecil, Mahesa dan Caraka sedang menikmati waktu luang sebelum beristirahat, mereka berada di rumah makan Puspa, tak berselang lama tampak gadis cantik nan anggun menghampiri mereka.
Putri lembayun tampak kesal mengetahui Mahesa telah kembali ke desa, ia justru malah sibuk dengan urusan lain bukan mendatangi nya kala ada waktu, lembayun yang berdiri tepat di depan Mahesa memasang wajah cenerut.
Kakang sudah tiba di desa dari siang tadi, kenapa belum juga menjumpai saya, apa kedatangan kakang bukan untuk bertemu dengan saya,.. sahut lembayun dengan membuang muka.
Mahesa yang menyadari sedang berhadapan dengan gadis manja tentu tidak merta menyahuti perkataan lembayun, ia hanya tersenyum untuk melunak kan hati lembayun.
__ADS_1
Melihat lawan bicara tidak membalas ucapan nya tetapi hanya tersenyum membuat lembayun serbah salah, ia sadar perkataan nya barusan sebagai wujud pengakuan perasaan nya terhadap Mahesa, hal ini tentu membuat wajah lembayun berubah memerah kala di perhatikan semua orang yang ada di kedai makan.
Dengan perasaan berkecamuk lembayun hanya pasrah kala Mahesa memegang tangan lembayun menyuruh ia duduk disamping nya. sambil menawarkan teh hangat.
Apakah saya harus melapor ke pada pujaan hati saya, atau saya harus berada di samping nya sepanjang hari,... goda Mahesa membuat tingkah lembayun bertambah aneh.
Sejak kapan saya menjadi pujaan hati kakang, kapan kakang mengutarakan niat hati kepada saya,... jawab lembayun sambil menunduk malu.
Apa yang perlu di perjelas kan lagi, dan apa yang perlu di ungkap kan lagi, jika perkataan yang kau ucapkan tadi sebagi ungkapan rasa hati,.... kembali Mahesa menggoda lembayun.
Diam seribu kata lembayun hanya bisa mengutuk dalam hati ketelodaran nya dalam berbicara tadi terpancing karena mahesa sengaja membuat ia secara tidak langsung mengungkap kan isi hati.
Dasar gadis bodoh, bisa bisa kau semberono dalam berkata, kalau sudah begini mau di simpan dimana muka mu ini,... gerutu lembayun dalam hati.
Percakan hangat terjadi antara ketiga muda mudi di dalam kedai makan, hingga waktu istirahat memisahkan mereka.
Semua persiapan telah selesai markas kedua kelompok penunjang telah mulai beraktifitas, Mahesa sungguh bangga melihat daya tangkap dan kecakapan ketua ke delapan.sekaligus menjadi pemimpin markas kedua.
Matahari telah berada di tas kepala, tampak Mahesa dan Caraka telah bersiap melakukan perjalan nya kembali, ia menitipkan markas kedua kepada seluruh para tetua elang putih dan anggota nya, bahkan lembayun pun ikut membantu mengelolah usaha yang baru dirintis oleh pujaan hati nya, lembayun sadar apa bila ia memaksakan kehendak ikut berkelana tentu hanya menjadi beban bagi kedua pendekar, satu satu nya cara ia bisa membantu Mahesa dengan mengembangkan usaha nya yang akan dipergunakan dalam perjuangan nanti.
Di depan pintu gerbang markas kedua tampak Ki Margo beserta istri, lembayun, Danendra, para tetua dan anggota elang putih melepas kepergian kedua pendekar kembar, bagi lembayun kepergian Mahesa bukan lah sebuah perpisan tapi meraih masa depan mereka berdua.
__ADS_1