PENDEKAR KEMBAR

PENDEKAR KEMBAR
Ajang Tahunan Pencarian Bakat


__ADS_3

Ramai dan meriah itu hal biasa kala ajang tahunan ini di gelar di benua tengah tepatnya di desa daun, wilayah yang tidak terdapat satu pun padepokan, tentu menjadikan ajang ini sebagai sumber pemasukan tambahan, toko toko yang menjajakan berbagai kebutuhan pendekar tampak penuh oleh pengunjung, rumah makan pun sama, sedangkan pemilik penginapan tampak kewalahan menerima tamu yang akan menginap sekitar tiga hari ke depan.


Rombongan padepokan belibis putih tiba di pagi hari tepat satu hari sebelum acara dimulai, jarak antara padepokan belibis putih denan wilayah tengah yang tidak terlalu jauh tentu tidak menguras banyak tenaga, setelah berada di depan penginapan melati pelayan penginapan menyambut rombongan Parwati dengan ramah.


Selamat datang di penginapan melati ketua padepokan belibis putih, kamar serta jamuan telah kami siapkan silahkan ikut,.. ucap pelayan mempersilahkan rombongan padepokan belibis putih masuk.


Sesampainya di depan kamar yang disediakan oleh pemilik penginapan Parwati bertanya kepada pelayan yang mengantarnya,... pelayan apakah rombongan padepokan naga telah tiba di desa daun.


Mohon maaf ketua di setiap penginapan yang ada di desa daun belum ada pesanan penginapan dari padepokan naga,... jawab pelayan sambil mohon diri melanjutkan pekerjaannya.


Setelah selesai membersihkan diri Parwati duduk di pinggir tempat tidur sebelum turun menyantap makan bersama rombongan yang lain, apa kakang lupa bahwa besok merupakan hari kelahiran kedua anaknya, apa jangan jangan padepokan naga tidak turut serta dalam kompetisi tahun ini,.. membatin Parwati.


Sebelum perpisahan mereka di desa Aral Watu dua puluh tahun silam, Ranggawi dan Parwati berjanji akan mempertemukan kedua anaknya di usia dua puluh tahun dan melepaskan mereka terjun ke dunia persilatan tanpa terikat aturan padepokan, sebagai titik awal perjalan mereka memenuhi cita cita kedua orang tuanya, tentu dengan perbekalan yang matang.


Sekarang Mahesa telah mencapai tahap Sapta akhir, dua kitab pedang di pahami dengan mendalam kitab angsa putih dan kitab pedang neraka yang diturunkan langsung oleh Ki Anggoro, kitab naga suci mencapai jurus keenam di pahami dengan mendalam dan kitab seribu ramuan di pahami dengan sempurna, tentu tak ketinggalan pedang giok pusaka langit yang selalu jadi incaran para pendekar.


Sang adik bisa d katakan lebih sempurna dari sang kakak, kitab angsa putih dan kitab pedang walet di pahami dengan sempurna, kitab harimau bayangan, kitab cakar elang dan kitab naga suci di pahami dengan sempurna, kitab seribu ramuan telah sempurna, dan memiliki fisik yang tahan dari segala racun, serta telah mencapai tahap Sapta akhir, bisa di bayangkan jika kedua saudara kembar bersatu menyerang padepokan besar berdua tentu bukan hal sulit.


Ayah sebentar lagi kita sampai di gerbang desa daun, mudah mudahan kakak Mahesa telah lebih dulu sampai... ucap Caraka dengan bersemangat.


Kita akan menginap di rumah ki Sarjo, kamu masih ingat dengan kepala desa Aral Watu bukan,... tanya Ranggawi kepada anaknya.


Tentu ayah,... dengan wajah senang Caraka menjawab.


Rumah Ki Sarjo terletak di pinggiran desa daun, rumah ini merupakan rumah singgah bagi Ki Sarjo apa bila ia menuju ke wilayah barat atau timur, setelah perpecahan wilayah Ki Sarjo memilih menjadi pedagang pahatan batu, dari hasil kerajinan penduduk desa Aral Watu ia menjual ke penjuru wilayah barat dan timur.


Tok,.. tok,.. tok,...


Suara ketukan pintu terdengar di sebuah rumah yang tidak terlalu besar, setelah pintu terbuka tampak pria paruh baya menyambut rombongan Ranggawi, Caraka langsung memeluk Ki Sarjo, tentu para murid terheran melihat Caraka yang begitu akrab dengan tuan rumah.


Suara ketukan pintu rumah Ki Sarjo kembali terdengar di malam hari tampak seorang pemuda dan wanita setengah baya berdiri di depan rumah, tak lama berselang pintu terbuka tampak seorang anak berhamburan memeluk wanita tersebut rasa rindu nya yang menumpuk terlepaskan sudah, sang ibu berlinangan air mata kegembiraan.


Pertemuan pertama Parwati, Mahesa dan Caraka setalah empat belas tahun lamanya tentu tidak dapat digambarkan, hanya pelukan rindu yang dapat mereka lakukan.


Silahkan masuk ibu didalam ada ayah, Ki Sarto dan murid murid padepokan naga,.. ucap Caraka sambil melepaskan pelukan ibunya mempersilahkan kakak dan ibunya masuk.

__ADS_1


Didalam ruangan sempit itu canda tawa terdengar dengan meriah, pertemuan pertama kali keluarga kecil sang pendekar tampa tanding menghiasi malam sebelum ajang pencarian bakat di mulai.


Duduk di podium utama Raksa kaliwang, di sampingnya duduk NYI Sukma, sedangkan di podium sebelah tampak duduk raja Bumi Surya dikawal oleh dua orang pendekar tangguh.


Digedung yang luas tampak arena pertandingan berbentuk bundar tergeletak tepat di tengah gedung disetiap sisi terdapat kursi penonton dari segala kalangan.


Berdiri di tengah arena Ki Danur Jaya sebagai wasit dan penyelenggara ajang pencari bakat, setiap murid dari padepokan yang mengikuti ajang pencari bakat di tempat diruang tersendiri, seluruh murid dapat saling mengenal satu sama lain.


Tampak di kursi penonton keluarga kecil sedang bercengkrama tanpa memperdulikan sekitarnya, setelah wasit meminta ijin kepada Raksa kaliwang dan raja Bumi Surya maka pertandingan pertama dimulai.


Susunan pertandingan dimulai dari dua puluh peserta naik ke atas podium bertarung hingga tersisa dua peserta, pertandingan pertama di bagi menjadi sepuluh kelompok.


Susunan babak kedua tak jauh berbeda dengan babak pertama, setiap kelompok terdiri dari lima peserta, peserta yang terakhir berdiri akan maju ke babak ketiga, di babak ini ke empat peserta akan di pertandingan sekaligus yang pertama menyerah menjadi juara ke empat dan seterusnya.


Peraturan ini sengaja di laksanakan tiap tahun melatih bahwa tiap pendekar pasti akan mendapatkan lawan lebih dari satu orang.


Hari menjelang senja tampak tertulis dua puluh nama peserta yang tersisa dari berbagi padepokan, murid padepokan naga semuanya lolos, murid dari padepokan belibis putih menyisakan dua murid dari sepuluh murid yang ikut serta.


Diujung desa tepatnya di padang yang luas tampak kakak beradik berwajah sama sedang adu tanding kedua saudara kembar itu menjajal ilmu Kanuragan, mahesa yang semasa kecil selalu mendominasi, kini berbalik bertahan kala usia mereka menginjak remaja, kekuatan fisik dan olah ilmu Kanuragan di perlihatkan Caraka sungguh di luar perkiraan sang kakak, Mahesa dalam setiap pertarungan selalu menggunakan otak tentu tidak bisa lagi berkelit saat sang adik telah sarat pengalaman, julukan naga emas tentu sebanding dengan kemampuan yang dimiliki.


Ha,.. ha,... ha,...


Sudah hentikan anak anakku,... ucap Parwati muncul dari balik pepohonan, sungguh peningkatan yang sangat mengerikan,...batin Parwati menatap sang suami yang berjalan disampingnya dengan tanda tanya besar.


Setelah berhenti melakukan adu tanding keluarga kecil itu bernaung dibawah pohon yang rindang sambil bercanda menghabiskan waktu seperti sedia kala.


Pagi menyingsing didalam gedung tempat diadakannya pencarian bakat tampak para penonton sangat antusias menyaksikan laga yang sebentar lagi memasuki babak final, tentu di babak kedua ini masih sama, setiap peserta memperebutkan satu tempat menuju babak final.


Kali ini tampak penjagaan cukup berbeda dari hari kemarin, tersiar kabar bahwa akan ada penyerangan oleh organisasi bunga hitam penyebabnya,


Organisasi yang dipimpin oleh Ki Jarkasi ini sebenarnya pecahan dari aliansi aliran hitam dulu.


Rasa tidak puasan atas keputusan Raksa Kaliwang yang tidak akan membentuk kerjaan di wilayah barat memicu Ki Jarkasi membentuk organisasi bunga hitam, bunga hitam bertekad menghancurkan padepokan yang tidak sejalan dengannya, hingga terbentuk kerajaan benua biru barat, namun dengan bertenggernya Raksa Kaling di puncak para pendekar tentu masih menjadi batu sandungan yang besar kala Ki Jarkasi terang terangan membentuk kerajaan.


Di arena pertandingan partai pertama berdiri satu peserta dari padepokan bangau putih, partai kedua tersisa satu dari padepokan naga, partai ke tiga diambil oleh padepokan teratai suci, dan terakhir padepokan belibis putih, empat murid berbakat seri empat padepokan berbeda akan bertanding besok di babak final.

__ADS_1


Parwati dan Ranggawi tampak puas dengan hasil dari murid murid mereka, walupun padepokan naga berangkat tanpa ada target tertentu, dengan pencapaian sekarang tentu padepokan naga masih diperhitungkan.


Kakang nanti malam kita berkumpul di rumah makan bunga ya,... bisik Parwati menggoda suaminya.


Ranggawi yang tidak siap akan ajakan sang istri tersedak tanpa bisa menjawab, muka yang merah di tunjukkan Ranggawi di tempat umum diantara para penonton tentu mengundang tawa kedua anaknya.


Setelah selesai nya pertandingan di atas arena para penonton membubarkan diri tanpa ada gangguan dari kabar yang beredar tadi pagi.


Rumah makan bunga yang terkenal akan kemewahannya tentu tidak seberapa bagi keluarga kecil Ranggawi, di lantai empat dari empat lantai yang ada dirumah makan bunga tampak empat orang memesan seluruh isi ruangan.


Kakang apa engkau telah memberitahukan perjanjian kita kepada kedua anakku tersayang ini,.. ucap Parwati sambil mengelus rambut kedua anak nya yang duduk di samping kiri dan kanannya


Tentu belum Dinda,... balas Ranggawi kepada istrinya.


Dengarkan baik baik anakku, mulai sekarang ayah dan ibu tidak akan memisahkan kalian berdua, selama empat belas tahun kami membimbing kalian agar kelak kalian berdua bersatu dan dapat memberantas penindasan serta ke Angkara murka, baik di wilayah barat atau timur, setelah genap berusia dua puluh tahun kalian berdua terjun langsung kedalam dunia persilatan, agar kalian mendapatkan pengalaman hidup serta pengalaman bertarung yang kuat, karena pada masanya tiba kedua wilayah akan kalian persatukan kembali,... ucap Parwati menjelaskan.


Mahesa dan Caraka paham penjelasan yang disampaikan ibunya tentu sebagai perpisahan juga, karena mereka yakin kekuatan yang besar mendapatkan tanggung jawab yang besar pula, sambil mencium kedua tangan ibu nya Mahesa dan Caraka berjanji akan mengemban cita cita kedua orang tuanya.


Tampak berbondong bondong para pendekar, murid murid serta para penduduk menuju gedung di adakan nya final pencari bakat, tampak juga di luar gedung pengawalan yang lebih ketat diterapkan.


Mahesa dan Caraka sendiri tidak ikut menyaksikan babak final mereka lebih memilih melanjutkan adu tanding di tempat yang kemarin mereka tempati.


Ki Danur Jaya melompat ke tengah arena sambil memberi hormat pada Raksa Kaliwang dan Ki Bumi Surya ia mempersilahkan empat peserta yang tersisa memasuki arena, setelah keempat peserta berada di arena pertandingan Ki Danur memberikan aba aba memulai pertandingan.


Di ujung desa daun tampak kumpulan pendekar bersiap menyerang gedung pertandingan kumpulan pendekar yang terdiri dari dua puluh tahap Dwi akhir, sepuluh tahap Dwi awal, delapan puluh berada di tahap EKA akhir, dan di pimpin dua pendekar berada di tahap Sapta awal bergerak perlahan mendekati gedung pertandingan.


Sebelum memasuki pusat kota kumpulan pendekar yang tergabung dalam organisasi bunga hitam itu melewati Padang ilalang terkejut dengan adanya pertarungan tingkat tinggi, Mahesa dan Caraka sedang melakukan adu tanding kembali di kejutkan dengan hadirnya puluhan pendekar tak dikenal mengepung mereka.


Maaf kisanak mengganggu pertarungan kalian, kami hanya lewat hendak ke pusat pertandingan ajang pencarian bakat, sekiranya kisanak berdua tidak menghiraukan kami,... ucap Ki Jampang selaku tetua ke sepuluh dari sepuluh tetua yang ada di bunga hitam.


Mahesa dan Caraka yang mencerna ucapan dan melihat situasi langsung dapat mengerti keadaan yang sedang terjadi, dengan senyum Mahesa menjawab,... kalian tidak mengganggu adu tanding kami, justru kalian lah yang akan menjadi langkah awal kami di kenal.


*******


Maaf mungkin alur cerita di awal sampai bab ke sebelas cukup membingungkan para reader semua.

__ADS_1


Setelah bab ini alur cerita akan berkesinambungan satu bab ke bab berikutnya.


Mohon kiranya di maklumi 👃👃👃


__ADS_2