
Memulai perjalanan menuju padepokan naga Mahesa dan Caraka menempuh waktu tujuh hari, waktu yang panjang tentu akan menguras stamina kuda serta penunggang nya.
Pagi menyingsing setelah selesai membersihkan diri di danau Mahesa dan Caraka melanjut kan perjalanan menuruni gunung melud, jalur tengah yang dipilih Caraka adalah jalur tercepat menuju padepokan naga.
Memasuki jalan setapak menuju pemukiman penduduk laju kuda di perlambat, meraka ingin menikmati perjalanan sebelum sampai di padepokan naga.
Tampak iring iringan penduduk meninggalkan desa tempat tinggal mereka, Mahesa dan Caraka tampak bingung mengapa ada pengungsi di tengah kedamaian.
Terlihat pemuda yang berada paling depan menghampiri dua pemuda.
"Maaf kisanak hendak kemana kah tujuan kalian, jika menuju ke desa wiring lapu, harap kisanak mengurungkan niat, karena ada wabah menular di desa tersebut," ucap pemuda memberikan peringatan kepada Mahesa dan Caraka.
Mahesa dan Caraka yang telah turun dari punggung kuda memperhatikan setiap penduduk yang melalui depan nya, tampak bintik bintik merah menghiasi beberapa penduduk yang di tandu oleh penduduk lain.
"Kawan jika kami boleh mengetahui penyebab penduduk terkena wabah, hendak kemana tujuan penduduk ini?" tanya Mahesa yang merasa heran.
"Kami akan menuju ibu kota kerajaan meminta pertolongan tabib, agar para penduduk yang terjangkit dapat sembuh kembali," balas sang pemuda.
Caraka yang merasa iba tiba tiba menghampiri penduduk yang sedang di tandu, sambil memegang tangan memeriksa keadaan kulit yang berbintik bintik merah, caraka dapat memahami sesuatu, ia kemudian menyuruh pemuda pemimpin rombongan untuk berhenti beristirahat di bawah pohon rindang.
Pemuda yang melihat tingkah laku caraka dalam memeriksa kondisi tubuh penduduk, mengikuti arahan dari caraka, ia memerintahkan seluruh penduduk untuk mencari tempat yang sejuk untuk beristirahat.
"Kakak seperti nya penduduk desa terkena serbuk dari mawar api, mungkin disekitar desa ada warga yang menanam bunga tersebut," ucap Caraka memberitahukan kondisi yang di alami para penduduk kepada Mahesa.
"Baik lah adik, kita cari kuncup dari mawar api tersebut sebagai obat penawarnya," balas Mahesa.
Caraka berjalan menuju pemuda pemimpin rombongan, ia bertanya perihal tanaman rambat yang memiliki duri, pertanyaan caraka sontak membuat penduduk kaget, benar sekitar tiga bulan lalu, tanaman yang dimaksud tumbuh begitu saja di area pinggir jalan setapak, tempat warga melalui ke sawah dan ladang.
Mendapat penjelasan yang akurat, caraka menceritakan kepada kakak nya perihal tersebut.
"Nak sebaik nya kau segera pergi ketempat yang disebutkan oleh penduduk, kalau tidak salah maka yang dimaksud penduduk adalah iblis betina RINDU," ucap roh pusaka Wisang.
Mendengar penuturan dari Wisang, tentu membuat Mahesa terkejut, sepengetahuan Mahesa ia belum pernah bertemu atau mendengar adanya iblis yang bisa berubah wujud.
Iblis rindu adalah perwujudan dari tumbuhan mawar api, sifat nya yang lembut namun sangat mematikan, dikarena kan racun api yang dapat membuat kulit melepuh, beda kasus yang dialami penduduk desa, kemungkinan mereka hanya terkena bulu halus atau serbuk dari tumbuhan itu.
Mahesa menghampiri caraka ia memberitahukan perihal iblis rindu sesuai penjelasan Wisang, mereka berdua menuju ke arah desa mencari keberadaan tumbuhan mawar api.
Dalam perjalan menuju desa, roh Wisang menjelaskan perihal kekuatan iblis rindu, penjelmaan nya menjadi sosok wanita muda cantik nan seksi, iblis rindu menjerat para korban dengan pesona nya, ia bahkan tak segan segan membunuh para pria hidung belang yang menginginkan tubuhnya.
__ADS_1
Duri dari iblis rindu, merupakan senjata sekaligus pertahanan yang kuat, bagi yang terkena duri dari mawar api, sekejap saja bagian yang terkena akan melepuh, mawar api yang telah berumur ratusan tahun dapat menjelma menjadi sosok manusia.
Iblis rindu contohnya, ia telah berusia lebih dari tiga ratus tahun, kekuatan nya pun telah mencapai tahap Sapta akhir membuat iblis dengan mudah merubah wujud menjadi manusia.
"Jika kalian menemukan kuncup dari mawar api, maka itu lah inang nya, jadi berhati hatilah menghadapi iblis rindu," ucap Wisang, ia menjelaskan secara rinci.
Setibanya kedua pendekar di lokasi yang di sebutkan oleh penduduk, Mahesa dan Caraka sungguh terkejut, banyaknya tumbuhan mawar api yang menjalar sepanjang jalan setapak membuat mereka tidak dapat membedakan, mana yang merupakan inang dan hanya tumbuhan biasa.
Sambil berjalan memperhatikan tiap tanaman di segala penjuru, Mahesa dan Caraka juga memasang kewaspadaan tinggi, reputasi iblis rindu membuat kedua pendekar sangar berhati hati.
Tanpa di sadari dari arah samping secarik jarum melesat kearah kedua pendekar kembar, spontan keduanya melompat menghindari serangan berupa jarum duri dari sosok wanita nan cantik, berdiri di sebelah kanan mereka.
Mahesa yang telah mengetahui ciri dari iblis rindu, tidak menampakkan wajah tergoda sama sekali, sosok yang berdiri di depan mereka,.bagi kaum hawa yang bermata keranjang tentu gampang di bius akan kecantikan sang iblis.
"Maaf nona, apakah kami mempunyai suatu kesalahan hingga nona menyerang kami?" tanya Mahesa memecah keheningan yang ada.
"hemm."
"Dua pemuda tampan yang tidak tergoda akan kecantikan ku, sungguh dunia sudah berubah," batin sang iblis.
"Perkenalkan kami berdua adalah saudara kembar, hendak melalui jalan setapak ini, tidak ada niatan dari kami mengganggu nona," kembali berucap Mahesa.
"Jika tujuan kami telah engkau ketahui, maka ijin kami mengambil satu buah kuncup mawar api, kami sangat berterima kasih jika nona dapat membantu," balas Mahesa.
"Maaf pemuda tampan, keinginan kalian tidak dapat aku penuhi, tanaman ini semua merupakan peliharaan ku, lebih baik kalian kembali saja," sahut iblis rindu dengan wajah marah.
"Kami memaksa nona, jadi maaf jika kekerasan merupakan jalan terbaik," tegas Mahesa , sambil memasang kuda kuda hendak menyerang.
Iblis rindu melihat sikap menyerang dari kedua pemuda, ia segera mengeluarkan pancaran tenaga dalam yang sangat besar.
Mahesa dan Caraka yang merasa tidak mau kalah juga melepaskan pancaran tenaga dalam mengimbangi kekutan iblis rindu.
Benturan tenaga dalam menimbulkan getaran angin yang cukup kuat di sekitar mereka.
Iblis rindu merasakan sesuatu berbeda dari pancaran kedua pemuda segera maju menyerang, tepat selangkah lagi tapak tangan sang iblis mengenai sasaran, ia menghentikan serangannya.
"Bagaimana bisa kau memiliki pancaran tenaga dalam Wisang, apakah kakek peot itu telah tunduk pada pemuda bau kencur seperti mu?" tanya iblis rindu sambil melompat mundur.
"Setelah kau mengenali kekuatan kami, apakah kau masih ingin melanjutkan pertarungan," jawab Mahesa mengejek.
__ADS_1
"Jangan berbesar hati dulu, aku iblis rindu tidak takut pada siapa pun!" seru sang iblis kembali melakukan serangan.
Mahesa memberikan tanda pada caraka agar ia tidak membantunya, Mahesa berencana memberikan pelajaran pada iblis itu yang telah menyusahkan banyak orang.
Menyambut serangan sang iblis, Mahesa mengeluarkan pedang giok menahan serangan tapak, tampak sang iblis tersenyum kecut kala melihat pedang yang sangat ia kenali.
Mendapati lawan yang lagi lengah, Mahesa bergerak menyerang dengan cepat, menggunakan jurus pertama dari kitab pedang setan, Mahesa mengincar bagian vital lawan, pergerakan yang cepat dari Mahesa membuat sang iblis berda dalam posisi bertahan.
Iblis rindu yang merasa dicurangi oleh lawan, sesekali melepaskan duri racun kearah Mahesa.
Jual beli serangan terjadi dengan sengit, serangan duri racun sang iblis dapat di di tangkis dengan mudah oleh Mahesa, bahkan serangan pedang Mahesa hampir mengenai bagian tubuh sang iblis.
Dua puluh jurus telah berlalu, sang iblis yang sedari tadi berada dalam posisi bertahan kini makin terdesak, dalam satu kesempatan Mahesa melayangkan tendangan kearah perut membuat iblis rindu mundur lima langkah ke belakang.
Nafas tak beraturan terdengar kala sang iblis membetulkan posis berdiri nya, ia betul betul pasrah kala Mahesa kembali melakukan serangan.
Tepat satu jengkal sebelum mengenai batang leher sang iblis, Mahesa menghentikan serang, ia menyarungkan kembali padeang giok.
"Mengaku kalah tidak akan merusak reputasi mu, demi melestarikan mawar api sudi kira kau memberikan kami satu pucuk mawar api itu," ucap Mahesa.
Iblis rindu diam seribu bahas, ia tidak menduga telah dikalahkan oleh seorang pemuda, dengan tatapan nanar ia berjalan memetik satu pucuk kuntum mawar api, lalu di berikan kepada Mahesa.
"Silahkan kau tumbuk hingga halus, campur dengan garam lalu kau oleskan ke tubuh para penduduk yang terkena bulu halus ku," ucap iblis rindu.
"Terima kasih atas kebaikan hati nona, kami pamit menolong penduduk desa, sekira nona memiliki waktu, tunggulah kami kembali, banyak yang ingin kami tanyakan," ucap Mahesa sambil berpamitan.
Setelah selesai mengobati para penduduk, Mahesa menjelaskan kondisi telah aman, ia meminta penduduk untuk kembali ke desa.
Mahesa dan Caraka mengantar para penduduk kembali ke desa, ia meyakinkan seluruh penduduk bahwa jalan menuju ladang dan sawah mereka telah aman.
Sesampainya di desa, Mahesa dan Caraka berpamitan, ia dan sang adik kembali ke lokasi iblis rindu menunggu.
Tampak gadis cantik nan seksi sedang duduk berteduh di bawah pohon rindang, Mahesa dan Caraka menghampiri iblis rindu, ia berencana meminta inti sari dari iblis rindu untuk di berikan kepada sang adik.
Sesuai penjelas roh Wisang, inti sari dari iblis rindu dapat menyempurnakan tubuh caraka, tubuh khusus caraka memerlukan dua jenis inti, inti api dan es yang akan menyempurnakan tahap kepekaan terhadap segala jenis racun.
Iblis rindu yang mendengarkan penjelasan sang pemuda hanya diam, ia paham akan kegunaan inti sari dari mawar api, ia juga tidak bisa memberikan begitu saja inti sarinya sebab akan membuat ia kembali menjadi tanam mawar api biasa.
Dengan segala pertimbangan akhirnya iblis rindu merelakan inti sarinya, ia memberikan syarat kepada caraka, jika caraka telah menyempurnakan tubuh nya maka caraka harus menggunakan di jalan kebajikan.
__ADS_1