
Lima belas kawanan rampok yang semula memulai pertarungan kini tinggal dua orang saja, jurus jurus yang dimiliki Danendra sungguh merepotkan lawan, kekompakan serta formasi yang di gunakan Danendra beserta pengawal nya dapat memporak porandakan pertahan lawan, kini situasi terbalik di awal pertarungan Danendra dan para pengawalnya di kepung sekarang kedua kawanan rampok dikepung, masih menggunakan formasi menyerang tebasan pedang Danendra bersarang tepat di leher anggota tengkorak putih yang terakhir.
Terik matahari tidak meredupkan semangat juan Ki Raksono menyerang Caraka, tidak serius nya Caraka bertarung tentu membuat Ki Raksono sangat geram, sudah puluhan jurus ia kerahkan tapi lawan masih berdiri dengan tenang tanpa satu goresan pun bersarang di bajunya.
Ki Raksono yang melihat anggota kelompok tengkorak putih telah tumbang semua hanya bisa berdecak kesal, Ki mohon bimbingan nya, kali saya akan bertarung dengan serius, jangan sungkan untuk melepaskan seluruh jurus andalan nya,... tantang Caraka dengan kuda kuda khas naga suci.
Jurus ke lima dari kitab naga suci di kerahkan Caraka, ia berharap Ki Raksono dapat luluh dari awal kala ia hanya bertahan, melihat lawan yang makin serius menyerang Caraka harus menghentikannya, maju dengan jurus cakar naga api Caraka bagai kesetanan, di imbangi dengan ilmu meringankan tubuh yang sempurna Caraka membuat Ki Raksono langsung dalam posisi bertahan.
Satu, dua gerakan dapat di imbangi Ki Raksono namun pada gerakan ke lima ia benar benar harus mengakui pemuda di hadapan nya bukan lah lawan sebanding, merelakan dada kiri terkena hantaman tapak naga, Ki Raksono mundur terpental tujuh langkah.
Saya menyerah,.. ucap Ki Raksono yang tidak dapat bangkit menahan panas nya dada kiri terkena hantaman tapak naga, apa kah ini akhir dari perjalanan ku, kuharap kelompok yang ku bina selama dua puluh tahun tidak ikut hancur ditangan pemuda ini,... batin Ki Raksono.
Danendra dan para pengawal nya bergerak meringkus Ki Raksono, tanpa perlawanan Ki Raksono membiarkan diri nya di ikat.
Kawan lepaskan ikatan paman itu, aku yakin ia tidak dapat melawan lagi,... ucap Caraka menghampiri Danendra.
Para pengawal Danendra melepaskan ikatan Ki Raksono, Caraka lalu mendudukkan Ki Raksono di bawah pohon yang rindang, paman tolong ceritakan mengapa engkau meninggal padepokan dan mengapa sekarang kau jadi perampok,... ucap Caraka yang ikut duduk bersandar di samping Ki Raksono.
Danendra tidak menduga perampok yang mereka kejar salah satu nya mantan murid padepokan naga, Danendra yang penasaran ikut duduk beristirahat di bawah pohon.
Beberapa menit kemudian nafas berat terdengar di hembuskan oleh Ki Raksono, ia mulai bercerita dari awal penyebab kepergian nya hingga sekarang ia menjabat pemimpin kelompok tengkorak putih.
Apa kah paman tau semenjak kepergian paman, kakek guru menyimpan pakaian paman yang tertinggal,.. ucap Caraka berharap penyesalan Ki Raksono sedikit terobati.
Ki Raksono merasa penyebab kematian sahabat nya kala bertarung melawan murid padepokan aliran hitam semata mata keteledoran nya tidak dapat mengontrol emosi hingga menyebabkan jurus yang ia arahkan ke lawan malah salah sasaran ke tubuh sahabat nya.
Penyesalan selalu datang terakhir, Ki Raksono malu kembali ke padepokan membawa jenazah sahabat nya maka ia putus kan menguburkan jenazah itu kemudian ia tidak kembali ke padepokan, andai dulu saya memberanikan diri kembali ke padepokan mungkin nasib akan berkata lain,... ucap Ki Raksono dengan mata berbinar.
Berjalan tak tentu arah berjuang tak ada tujuan menyebabkan Ki Raksono menghimpun kekuatan untuk menaklukkan padepokan aliran hitam tempat lawan yang ia hadapi dulu sia sia, namun sayang hasil selalu berkata lain, berjuang selama dua puluh tahun belum jua dapat membalas kan dendam Ki Raksono.
__ADS_1
Kelompok tengkorak putih yang ia bangun pun hanya bisa menjadi perampok, dengan beranggotakan lebih dari tiga ratus pendekar, tengkorak putih menjadi kawanan rampok yang di segani.
Setelah bercerita panjang lebar Ki Raksono hanya bisa meneteskan air mata penyesalan yang ia pendam selama ini
Paman apa kah engkau tidak berniat kembali ke padepokan atau bergabung dengan pasukan yang saya dan kak Mahesa sedang bangun,... tanya Caraka memberikan pemendaat.
Apakah setelah lama nya waktu berlalu sayaasih punya muka kembali ke padepokan, jika harus memilih lebih saya bergabung dengan pasukan yang kau bina sekarang,... jawab Ki Raksono.
Caraka memberikan dua pil penyembuh kepada Ki Raksono, paman setelah kau menelan pil penyembuh itu maka luka dalam akan berangsur pulih, saya akan memberitahukan kak Mahesa bahwa kita telah mendapatkan tenaga baru,.. ucap Caraka menjelaskan.
Paman setelah kami mengantarkan kembali gerobak gerobak ini ke pada saudagar Margo kami akan ke markas utama tengkorak putih, jadi tunggulah,... ucap Caraka kembali.
Baik lah nak ku pegang janji mu, datang lah di hutan kabut, setelah sampai di tengah hutan kabut pecahkan lah batu asap ini saya sendiri akan menjemput mu,... jawab Ki Raksono sambil memberikan batu putih sebagai simbol pertolongan dari kelompok tengkorak putih.
Setelah merapikan gerobak dan muatan nya Caraka beserta rombongan berpisah dengan Ki Raksono, enam gerobak bermuatan hasil panen raya dituntun kembali menuju desa Laripan.
*******
Mahesa yang dari kecil sudah terbiasa bergaul dengan wanita sangat mudah membuat lembayun nyaman, terkadang mereka tertawa bersama, bagi ki Badri begitu bahagia anak murid nya dapat membuka hati bagi laki laki, terutama laki laki yang dipilih bukanlah pendekar sembarangan.
Memasuki pekarangan rumah mewah lembayun mengajak Mahesa masuk menemui ayah nya, di ruang tamu tampak Ki Margo beserta istri sedang duduk menyambut tamu dari kerajaan wilayah timur, panglima beserta dua puluh prajurit membicarakan masalah perampokan yang terjadi.
Ayah, maaf kami tidak dapat mengejar para perampok,... ucap putri lembayun.
Ki Margo yang sedang berdiskusi serius menghentikan percakapan, tidak apa apa anak ku, sedari awal ayah sudah merelakan, jadi jangan di pikirkan lagi,...
jawab Ki Margo sambil melirik panglima.
Panglima dari kerajaan wilayah timur yang ikut berdiri tertegun melihat kecantikan putri lembayun, alah kenapa Ki Margo tidak pernah menceritakan kalau ia memiliki putri secantik ini,... batin panglima Sentra.
__ADS_1
Putri lembayun yang tidak memperdulikan kehadiran sang panglima langsung mengajak Mahesa ke belakang rumah menuju pendopo tempat ia biasa menyendiri.
Panglima yang merasa tidak dipedulikan tampak tidak senang.
Sungguh cantik sekali putri mu Ki Margo, mengapa engkau tidak memperkenal kan ia padaku,... ucap panglima Sentra.
Maaf panglima, sikap putri ku tidak senang bergaul dan tidak suka terlibat urusan bisnis,... jawab Ki Margo dengan sopan karena ia tau panglima yang terkenal banyak istri menyukai gadis belia seperti putrinya.
Sudah lah Ki Margo, kapan kapan kau bisa memperkenalkan kami, mungkin saja kami berjodoh,.. balas panglima Sentra dengan penuh nafsu.
Di luar rumah Ki Margo tampak para pengawal berbondong bondong menghampiri Caraka beserta rombongan, enam gerobak penuh dengan hasil panen berjumlah dituntun oleh mereka membuat kegemparan, biasa nya hal ini jarang terjadi, hasil panen yang sudah dirampok dapat kembali lagi.
Tampak pengawal Ki Margo masuk terburu buru melaporkan hal itu, Maaf juragan rombongan tuan muda Danendra telah kembali beserta hasil panen yang di rampok,... ucap pengawal tersebut.
Sontak hal in membuat Ki Margo dan panglima kaget belum pernah ada perampok yang mengembalikan hasil rampokan nya.
Ki Margo beserta panglima keluar melihat dengan langsung laporan pengawal, tampak wajah gembira dari Ki Margo melihat anak sulung nya kembali dengan selamat, Ki Margo mengajak Danendra dan Caraka masuk kedalam rumah.
Danendra menceritakan semua hal yang terjadi kala menghadang para perampok, bahkan ia memuji Caraka yang memiliki ilmu Kanuragan yang sangat tinggi, kecuali tentang kisah Ki Raksono.
Ki Margo sungguh berterima kasih kepada Caraka yang telah membantu anak nya mengembalikan hasil panen, Ki Margo juga memberitahukan bahwa Mahesa telah lebih dulu kembali dan ia sekarang berada di pendopo belakang rumah.
Caraka membalas ucapan terima kasih Ki Margo, kemudian ia berpamitan menemui kakak nya, tanpa memperdulikan ada aparat kerajaan di dalam ruangan.
Wah,... wah,... wah,...
Ternyata kakak ku bukan hanya pintar mengatur strategi tapi juga pintar merebut hati wanita,... ejek Caraka mendekat bersama Danendra.
Tentu ucapan Caraka membuat wajah putri lembayun memerah, akhirnya mereka berkumpul dan menceritakan semua kejadian yang barusan di alami, bahkan Caraka memberi tau bahwa yang merampok toko adalah kelompok tengkorak putih, paman Raksono adalah pemimpin nya ia merupakan murid pertama kakek guru Ki Sapta.
__ADS_1
Perbincangan hangat terjadi di pendopo rumah Ki Margo, Mahesa dan Caraka memutuskan menginap semalam lagi di desa Laripan sebelum menemui paman Raksono di hutan kabut, kabar Ki Raksono yang bersedia kembali membantu kedua saudara kembar itu sungguh membuat Caraka sangat senang.
Caraka mendesak Mahesa agar mereka bergerak menuju hutan kabut esok hari sesuai janji nya kepada paman Raksono, ia merasa urusan di desa Laripan telah selesai jadi tidak ada alasan mereka berlama lama lagi di desa ini.