PENDEKAR KEMBAR

PENDEKAR KEMBAR
Desa Sempring


__ADS_3

Langkah deru kaki kuda meninggalkan gerbang desa daun, tujuan sang penunggang menuju arah timur wilayah benua biru.


Ketika melewati perbatasan antara wilayah tengah dan timur perjalan mereka di cegat oleh segerombolan pendekar, tampak pendekar dengan tahap eka akhir bertubuh besar brewokan berdiri ditengah jalan, dibelakang pendekar itu berdiri enam orang masing masing memegang sebilah pedang.


Mahesa dan Caraka menghentikan laju kuda mereka berjarak kurang dari tiga langkah didepan pemimpin perampok, pemimpin perampok yang tampak kesal karena kedua penunggang kuda sengaja mau menabrak diri nya langsung mencabut pedang.


Setan alas' berani sekali kau kepada perampok singa edan,... ucap sang pemimpin bernama Ki larjo.


Serahkan semua bawaan kalian jika ingin selamat, jangan sampai pedangku yang berbicara,... sambung Ki larjo menunjuk mahesa dan Caraka dengan pedangnya.


Mahesa dan Caraka turun dari kuda, tak berselang sekian detik Caraka sudah berada di depan Ki larjo sambil merebut pedang nya.


Perbuatan Caraka tentu membuat Ki larjo dan anak buahnya tersentak kaget bahkan ada diantara mereka tidak sengaja menjatuhkan pedang.


Maaf paman sepertinya kita tidak mempunyai urusan yang penting, sekiranya paman membiarkan kami lewat tentu tidak akan terjadi hal diluar kemampuan paman,... ucap Caraka sambil membalik kan pedang ke arah leher Ki larjo.


Tentu saja apa yang dilakukan Caraka membuat ki larjo kencing di ******, ***** hidupnya selama menjadi perampok tentu yang di lakukan merupakan cara pertama menurunkan mental orang yang akan rampokan, tapi sekarang justru dia yang ketakutan.


Tanpa berani berucap sepatah kata Ki larjo dan semua anak buah yang berada di belakang menjatuhkan pedang.


Terima kasih paman karena engkau telah berbaik hati membiarkan kami lewat,.. kembali Caraka berucap dengan senyum ramah, setelah menancapkan pedang Ki larjo ketanah Caraka dan Mahesa kembali menunggang kuda mereka melanjutkan perjalanan.


Tepat setelah malam tiba kedua pemuda melintasi hutan perbatasan antara wilayah tengah dan timur, kakak seperti nya kita harus bermalam di dalam hutan, jangan memaksa kan diri berjalan di tengah malam dalam keadaan lelah,... ucap Caraka sembari menunjuk tempat yang sedikit terbuka agar mereka dapat beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan besok.


Baik kita istirahat disini, sebagai yang punya usul sebaik nya kau cari sesuatu untuk dimakan,... jawab mahesa dengan malas malasan menuruni kuda lalu langsung duduk membuat perapian.


Kebiasaan mu masih tidak berubah, suka menyuruh ku walau kau sendiri bisa,... gerutu Caraka kemudian berlalu mencari hewan buruan.


Bagi saudara kembar ini berkuda di malam hari tidak merupakan rintangan namun yang lebih seru adalah perdebatan kecil yang sepele.


Setelah kenyang mengisi perut dari hasil buruan Caraka, kedua saudara kembar melakukan meditasi sebelum mengistirahatkan tubuh mereka, dengan jurus ke tiga dari kitab naga suci tentu tidak lah susah memulihkan tenaga dalam yang terkuras setelah lama menempuh perjalanan.

__ADS_1


Kicau burung di tengah hutan membangunkan kedua saudara, setelah membersihkan diri di sungai yang letak nya tidak jauh dari mereka beristirahat, kedua saudara kembar kembali memacu kuda menuju desa terdekat.


Tolong,.. tolong,... tolong,...


Teriak seorang wanita setengah baya berlari ke arah dua penunggang kuda, dengan pasrah ia berdiri di tenga jalan menghalau perjalanan penunggang kuda tersebut.


Kisanak hamba minta tolong menyelamatkan kedua putra ku dari cengkraman bandit gunung, desa kami sedang diserang,... ucap wanita tersebut dengan nafas tersengal sengal menerangkan situasi yang ada didesa nya.


Tenangkan diri sejenak bu, setelah ibu tenang kita akan ke desa ibu untuk melihat kondisi sekarang,... ucap Mahesa, agar wanita yang didepan nya tidak terlalu terburu buru.


Mahesa yang telah menekan tenaga dalam nya hingga tahap dwi awal, tentu dapat memahami kegelisahan wanita tersebut, sedangkan Caraka menekan tenaga dalam nya hingga tahap eka akhir hanya diam mencerna situasi.


Bandit gunung merupakan kumpulan rampok yang biasa menjarah desa desa dengan penjagaan tidak terlalu ketat, Caraka sudah pernah menghadapi ketua dari bandit gurun pada saat ia terdesak akan mengorbankan anak buah nya untuk melarikan diri, dengan ketua berada di tahap Dwi akhir tentu bandit gurun cukup di segani di wilayah timur selain beberapa kelompok garong yang terkenal.


Mahesa dan Caraka membawa watina tersebut naik ke punggung kuda menuju desa yang dimaksud, keadaan sangat mengenaskan kala mahesa dan Caraka tiba di desa, banyak rumah yang terbakar, beberapa mayat penduduk bergelimpangan di pinggir jalan, jerit tangis anak anak serta perempuan muda yang dipaksa melayani nafsu bejat kawanan bandit.


Dengan sekali loncat Caraka telah melenyapkan nyawa anggota bandit yang berada di teras rumah sedang menikmati tubuh gadis belia, Mahesa tidak ketinggalan setelah menurunkan wanita yang meminta tolong tadi, ia memenggal kepala anggota bandit yang sedang menjarah rumah rumah penduduk.


Hai bocah dungu jangan ikut campur urusan orang dewasa, atau kau berniat bergabung dengan kami,.. ucap ki largo pemimpin bandit gurun yang seketika itu menghentikan aktifitasnya bersama para anak buahnya.


Tanpa aba aba Mahesa langsung maju menggunakan ilmu meringankan tubuh berdiri tepat di hadapan salah satu anak buah Ki largo langsung menebas batang leher, kalian berpakaian lah dan tinggalkan tempat ini,... ucap Mahesa kepada gadis belia yang ada di aula desa.


Keparat kau kunyuk, sudah mengganggu kesenanganku, bosan hidup kau rupanya,... maki Ki larjo, setelah selesai merapikan pakaiannya.


Seluruh anak buah Ki larjo tanpa perintah dari sang pemimpin langsung bergerak menyerang Mahesa, bunyi benturan benda tajam menghiasi aula desa setelah sepuluh anak buah Ki larjo menyerang Mahesa,


Tanpa kesulitan berarti Mahesa menghindar bahkan sesekali menyerang ke sepuluh anggota bandit gurun, setelah beberapa lama terlihat empat anggota bandit gunung telah terkapa tak bernyawa, membuat Ki larjo yang berada di tahap Dwi akhir menjadi geram.


Sialan ku bocah tengik, jika hari tidak ku melenyapkan kau maka jangan sebut namaku Ki larjo pemimpin bandit gunung,.. maki Ki larjo maju menyerang menggunakan senjata andalan nya berupa kapak.


Jurus demi jurus di lancarkan Ki larjo namun satupun tak ada yang mendarat di tubuh lawan, Mahesa yang sengaja mempermainkan Ki larjo cuma bergerak menghindar tanpa melakukan perlawanan.

__ADS_1


Hei bocah jangan menghindar terus, lawan aku, apa kau takut dengan kapak ku ini,.. sindir Ki larjo, dalam hati Ki larjo sebenarnya sangat khawatir mengapa lawan nya dapat menghindari jurus terkuat nya, karena sudah di penuhi amarah maka Ki larjo tidak terlalu ambil pusing.


Menit berikutnya Mahesa yang sudah mulai bosan balik menyerang Ki larjo hanya dengan pergerakan ringan pedang Mahesa mendarat tepat di perut Ki larjo, tubuh pria paruh baya itu ambruk ke lantai aula sambil memegang perut yang berlumuran darah.


Apakah sekuat ini pemimpin bandit gunung, atau ia hanya kuat pada gadis belia,... sindir Mahesa mendekati Ki larjo yang sudah tidak dapat berdiri karena kehabisan tenaga dalam.


Dengan sekali ayun kepala Ki larjo menggelinding ke lantai, Mahesa kembali menatap anggota bandit gunung yang tersisa, tanpa perintah ke enam anggota bandit menjatuhkan senjata mereka tanda menyerah.


Caraka yang telah membersihkan anggota bandit gunung yang ada di rumah rumah penduduk bergerak menuju aula desa, tampak enam anggota bandit sudah berlutut meminta ampun atas nyawa mereka di kaki Mahesa.


Kau siapa nama mu,... ucap Mahesa menunjuk anggota bandit gunung yang sedari tadi tidak ikut menyerang Mahesa.


Hamba Panji pendekar,... jawab anggota bandit tersebut.


Mulai sekarang kau akan memimpin bandit gunung, namun bukan merampok dan menyerang desa desa yang lemah yang akan kau kerjakan, membantu pengawalan saudagar atau pun penduduk yang kesusahan yang akan menjadi kegiatan bandit gunung,... ucap Mahesa menunjuk Panji sebagai ganti Ki larjo.


Bagaimana cara kami mengolah pendapatan apa bila kami tidak merampok lagi,... jawab Panji, menurut dia mengawal saudagar dengan nama bandit gunung tentu tidak ada yang akan menerima jasa mereka.


Mulai sekarang kelompok bandit gunung berubah nama menjadi kelompok RELEAF, kau adalah pemimpin nya, paham' ,... menjelaskan Mahesa.


Baik tuan pendekar, namun kau jelas kan juga pada anggota kami yang masih berada di kaki gunung renggarok,.. jawab kembali Panji.


Baik setelah kau makam kan semua mayat mayat ini dan membantu para penduduk mengobati luka mereka, kita akan berangkat ke markas kalian,.. tegas Mahesa.


Tujuan Mahesa menuju ke markas bandit gunung agar para anggota yang tersisa mau menerima Panji sebagai pemimpin baru dan membuat pasukan pendukung kala ia mulai mempersatukan benua biru.


Panji sendiri merupakan mantan rampok kelas teri, nasib nya yang naas kala merampok pasukan kerajaan wilayah timur di selamat kan oleh Ki larjo, sejak saat itu ia bergabung dengan bandit gunung.


Bagi Panji yang telah berada di tahap Dwi akhir tentu dapat mengalahkan Ki larjo andai mereka bertarung satu lawan satu, namun dengan dukungan anak buah yang setia tentu Panji tidak mau mengambil resiko, anggota bandit gunung yang menyerang desa berjumlah dua puluh lima orang, sedangkan yang berada di markas berjumlah dua ratusan.


Setelah membakar seluruh mayat yang ada Panji mengajak Mahesa menuju markas utama, sedangkan wanita yang mencegat Mahesa dan Caraka di jalan telah berkumpul dengan ke dua anak laki laki, bagi sang suami wanita tadi sudah tidak bernyawa lagi.

__ADS_1


Mahesa dan Caraka berpamitan kepada para penduduk desa Sempring, sebelum melanjutkan perjalan menuju kaki gunung renggarok yang di kawal oleh enam mantan anggota bandit gunung.


__ADS_2