
Di tengah perjalanan kembali, Mahesa dan Caraka melihat banyak mayat serta beberapa korban luka, perebutan hadiah sayembara yang di adakan jendral sungguh menekan banyak korban, tanpa sentuhan merek, dua pemuda telah menyelesaikan misi dari sayembara.
Sewaktu kedua pemuda meninggal tepi lembah belum ada para peserta yang muncul, ternya penyebab utama adalah hambatan saling berebut di tengah hutan rimba, hal ini juga dimanfaatkan oleh Mahesa dan Caraka mempercepat laju menuju kadipaten rongso.
Para penjaga yang berada di gerbang kadipaten sungguh terkejut melihat dua pemuda yang memohon ijin masuk sambil menunjukan tanaman lotus air.
" Belum sampai satu hari kedua pemuda tersebut telah kembali, apa jangan jangan ia mencuri dari pendekar yang telah mengambil lotus air lebih dulu," batin penjaga gerbang.
" Buat apa aku ambil pusing urusan ia mendapatkan lotus air, dengan kesembuhan tuan putri tentu kesenangan bagi junjungan ku juga," kembali membatin sang penjaga.
Kedua penjaga mengantar Mahesa dan Caraka menuju ruang pribadi sang jendral, didalam ruang pribadi nampak sang jendral beserta istri, dan beberapa tabib, mereka membahas akan berapa lama para peserta mampu mendapatkan tanaman lotus air, tak lama penjaga gerbang menghadap memberitahukan bahwa ada dua pemuda telah kembali membawa lotus air.
Mendengar berita yang di bawa oleh penjaga gerbang jendral Guntal mempersiapkan kedua pemuda masuk kedalam ruangan.
" Kami menghadap tumenggung, sesuai persyaratan sayembara, kami telah membawa dua tanaman lotus air," ucap Mahesa memperlihatkan tanaman lotus air di genggamannya.
Seisi ruangan yang hadir segera berdiri melihat apa yang ada di dalam genggaman Mahesa, tampak para tabib maju memperhatikan keaslian lotus air.
" Memang benar yang digenggam pemuda tersebut adalah lotus air," batin sang tabib yang melihat.
Melihat keaslian dari tanaman yang mereka butuhkan para tabib menganggukkan kepala tanda bahwa di genggaman tangan pemuda benar tanaman lotus air, wajah jendral Guntal berubah ceria, jendral tidak menyangka kedua pemuda membawa tanaman dengan waktu tidak sampai satu hari.
Jendral Guntal mempersilahkan kedua pemuda mengikuti para tabib menuju ruangan peracikan, sesampainya di ruangan Mahesa menyerahkan satu tanaman lotus air dan satunya lagi ia simpan guna keperluan lain.
Di dalam ruang peracikan obat tampak banyak bahan bahan herbal yang berkhasiat tinggi, persediaan jendral Guntal benar benar tidak main main dalam dalam menyembuhkan penyakit sang putri.
Caraka mengkerut kan keningnya kala melihat cara para tabib dalam meracik ramuan, " sungguh kualitas yang sangat buruk, mengapa jendral memperkerjakan para tabib yang tidak becus," batin Caraka.
__ADS_1
Mahesa dan Caraka memilih keluar ruangan, mereka tidak bermaksud ikut campur dalam penyembuhan sang putri, tujuan utama mereka telah tercapai jadi tidak ada lagi hal penting yang mereka perlukan.
Menunggu di ruang tamu kala para tabib mengobati penyakit sang putri sungguh membosankan bagi pendekar muda, tiba tiba dari arah dalam ruang tampak banyak prajurit yang berdatangan mengepung kedua pendekar, Mahesa dan Caraka yang dapat memahami situasi hanya diam tanpa melakukan perlawan.
Jendral Guntal berjalan kerah mereka sambil memasang wajah marah, " hai anak muda apakah benar yang kau bawa tadi adalah tanaman lotus air, kenapa penyakit yang diderita putri malah bertambah buruk," ucap jendral Guntal dengan amarah.
Mahesa dan Caraka yang sudah memperkirakan hal tersebut lantas berdiri sambil menjawab " benar jendral, kami memetik langsung dari lembah kelinci, kami juga paham akan jenis jenis tanaman tentu kami tidak akan salah mengambil,"
Jendral Guntal yang mendengar jawaban dari Mahesa cukup terkejut, dari informasi para tabib yang mengobati putrinya, tanaman yang diberikan kedua pemuda adalah bukan lotus air, kebimbangan di dalam hati sang jendral nampak jelas.
" Baik jika kau memahami jenis tanaman herbal tentu kau juga dapat meramunya, maka kau sendiri yang kan menyembuhkan putri ku!" seru sang jendral.
" Baik kami akan menyembuhkan putri anda tapi dengan syarat, biarkan kami melakukan sendiri tanpa campur tangan para tabib, hadiah yang anda janjikan dapat kami tukar apa bila tidak sesuai keinginan," tantang Caraka.
Jendral Guntal tidak ambil pusing akan persyaratan yang diberikan oleh caraka, maka ia langsung menyanggupinya.
Caraka yang telah siap, lalu menampung seluruh gumpalan darah hitam yang telah keluar dari tubuh sang putri, ia menunjukan kepada jendral Guntal.
" Ini adalah racun bisa kalajengking api, racun ini juga sengaja di masukkan oleh seseorang kedalam tubuh sang putri, jadi hamba mohon jendral dapat mencari pelakunya agar kelak sang putri tidak mengalami hal kedua kalinya," ucap Caraka.
Mendengar penuturan caraka seketika itu juga jendral Guntal memerintahkan para prajurit mengepung dan mencari pelaku yang telah berkhianat padanya.
Kemarahan jendral Guntal sangat beralasan, sang putri merupakan anak tunggal, tentu merupakan harapan dari jendral Guntal, siapa pun yang berniat mencelakai sang putri sama saja berurusan dengannya.
" Terima kasih banyak anak muda, tanpa kalian mungkin hal separah ini tidak akan saya ketahui, jika berkenan siapakah nama kisanak berdua," tanya sang jendral setelah mengucapkan terima kasih.
" Kami hanyalah pendekar kelana, jika memang tuan berbaik hati maka setelah tugas kami selesai ijin kami melanjutkan perjalanan," ucap Caraka. Jendral Guntal sungguh terkesima mendengar jawaban dari caraka, masih muda tapi tutur katanya sungguh menghargai lawan bicara.
__ADS_1
" Andaikan memang diantara mereka berdua adalah jodoh dari anakku, sungguh beruntungnya diriku," batin jendral Guntal.
Tampak seorang dayang berlari menuju jendral Guntal sedang berbincang, " maaf tuan, PUTRI MELISA sudah siuman, putri mencari anda," ucap sang dayang sambil memberi hormat.
Jendral Guntal yang mendengar kabar dari sang dayang bergegas ke arah kamar putri melisa, didalam kamar sang bunda telah duduk di samping putri melisa, tampak wajah senyum haru dan bahagia menghiasi seisi ruangan.
" Sebaiknya kita meninggalkan ruangan agar putri dapat beristirahat," ucap Caraka mengajak beberapa pengawal serta para tabib yang ada didalam ruangan.
Keesokan hari Mahesa dan Caraka sedang bersiap siap meninggalkan kediaman jendral Guntal, mereka tidak berniat menagih janji sang jendral, sesuai dengan kesepakatan sebelum caraka mengobati sang putri.
Rombongan pengawal sedang berjalan memasuki gerbang kediaman jendral Guntal, tampak beberapa orang sedang diikat menggunakan rantai, penyusup yang meracuni putri melisa telah di tangkap, mereka adalah kelompok pemberontak kerajaan wilayah timur.
Mahesa dan Caraka mengurungkan niat melanjutkan perjalanan, mereka penasaran akan kekuatan pemberontak yang telah lama menginginkan pergantian raja, bagi mereka sikap arogan dan semena mena raja bumi Surya sangat tidak sesuai dengan tujuan utama berdirinya kerajaan wilayah timur.
Jendral Guntal yang berada di ruangan aula seketika keluar mencari keberadaan Mahesa dan Caraka, utang budi dari kedua pendekar harus segera ia bayar. tampak senyum menghiasi wajah sang jendral kala menghampiri kedua pemuda.
Berada diruang utama keluarga tampak istri jendral Guntal duduk berdampingan dengan gadis cantik nan ayu, putri melisa telah kembali pada kondisi normal, dibalut dengan busana merah muda tampak wajah cantik sang putri semakin mempesona.
" Ini lah kedua pemuda yang ayah ceritakan semalam, kedua pemuda kakak beradik kembar, yang mengobati mu bernama caraka, sedangkan yang mengambil tanaman lotus air adalah sang kakak Mahesa," ucap jendral Guntal memperkenalkan.
Sang putri hanya bisa menunduk malu namun sesekali mencuri pandang kepada kedua pemuda tampan, setelah menimbang akan pembicaraan sang ayah semalam, putri melisa belum juga dapat menentukan pilihan.
Ruangan yang hening terpecahkan kala caraka berucap, " jendral mohon maaf, alangkah baiknya jika sang putri sebelum memilih, ia meningkatkan tahap tenaga, sesungguhnya itu sangat penting, mengingat kami adalah pendekar kelana, jadi ia bisa ikut berkelana bersama kami kelak"
Ucapan caraka sungguh membuat hati jendral Guntal gelisah, di usia yang telah beranjak dewasa sang putri hanya berada ditahap EKA akhir, butuh berapa lama ia akan menyelesaikan tahap tenaga dalam guna bisa berdampingan dengan kedua pendekar pilih tanding seperti Mahesa dan Caraka.
Jendral jika diperkenankan maka hamba menyarankan putri untuk berguru di padepokan naga, di sana ada kakek hamba Ki Sapta, beliau sebagai pemimpin padepokan akan membimbing putri menjadi pendekar handal," ucap Caraka.
__ADS_1
Mendengar ucapan caraka, membuat jendral Guntal terkejut, siapa yang tidak kenal padepokan naga dan pemimpin nya yang berwibawa, " jika benar ia adalah cucu dari Ki Sapta, tentu ia adalah pendekar naga emas," batin jendral Guntal, memasang wajah terkejut.