
Inti sari mawar api berupa cahaya merah keluar dari tubuh iblis rindu yang sedang duduk bersila, tampak tubuh iblis rindu perlahan berubah menjadi tanaman mawar api.
Caraka yang duduk bersila di depan iblis api menggenggam cahaya merah, ia berusaha menyerap cahaya merah tersebut, perlahan tapi pasti cahaya merah mulai masuk kedalam tubuh caraka, sambil menahan sakit caraka berkonsentrasi menyerap seluruh energi dari cahaya merah.
Energi besar meluap di dalam tunmbuh caraka, ia berteriak keras melepaskan sisa sisa energi yang telah di salurkan keseluruh tubuh nya, Caraka merasakan perubahan yang sangat besar, setiap inci di tubunya menampak sinar.
"Adik selamat kau telah menyempurnakan salah satu inti yang dibutuhkan oleh tubuh mu, mudah mudahan dalam waktu dekat kita bisa menemukan inti es, agar semua elemen di tubuh mu berjalan dengan sempurna," ucap Mahesa begitu senang, sang adik berkembang begitu pesat, perkiraan Mahesa, caraka saat ini telah melebihi kemampuannya.
Roh Wisang begitu takjub dengan kekuatan tubuh caraka, tubuh tiga bintang, atau di jaman nya disebut tubuh iblis, jenis stuktur tubuh yang langkah, perpaduan tiga elemen dasar didalam tubuh yang berbeda menciptakan tubuh yang mampu menampung kekuatan besar.
Andai ia belum melakukan kontrak jiwa dengan Mahesa mungkin ia memilih caraka sebagai tuan.
Hari menjelang sore Mahesa dan Caraka melanjutkan kembali perjalanan mereka, menunggangi kuda kedua pemuda menyisir jalan utama menuju kadipaten rongso, kadipaten rongso berada di selatan ibu kota kerajaan, jarak yang dekat dengan ibu kota membuat kadipaten rongso sangat ramai.
"Kakak tak jauh di depan kita akan menemui gerbang utama kadipaten rongso, penjagaan yang ketat akan kita lalui, kita juga akan bermalam di sana," ucap Caraka.
Antrian panjang menghiasi pintu gerbang kadipten rongso, Mahesa dan Caraka tampak bingung, antrian yang hampir di dominasi para pendekar ingin memasuki kadipaten cukup jarang terjadi.
"Maaf paman ada gerangan apa di dalam kadipaten rongso hingga membuat para pendekar berbondong bondong kesan?" tanya Mahesa kepada pendekar yang mengantri didepannya.
Sosok yang ditanya cukup terkejut mendengar pertanyaan Mahesa, menurutnya berita tentang sayembara menyembuhkan anak dari jendral Guntal sudah tersebar luas, mengapa masih ada saja yang belum mengetahui hal itu.
__ADS_1
"Apakah kisanak berdua bukan berasal dari wilayah timur, mengapa berita santer seperti ini tidak kisanak ketahui," jawab sang pendekar.
"Kami baru turun gunung jadi banyak berita yang tidak kami ketahui," ucap Caraka menengahi.
Sang pendekar yang ditanya menatap heran kedua pemuda didepannya, selain pakaian yang digunakan tampak biasa saja, aura yang dipancarkan sungguh tidak menunjukkan mereka adalah pendekar, lebih tepatnya anak saudagar kaya.
Melewati pemeriksaan yang begitu ketat, Mahesa dan Caraka menuju penginapan yang terdekat, Meraka yakin hampir seluruh penginapan mewah sudah terisi penuh.
Setelah memesan kamar, Mahesa mengajak caraka mengisi perut terlebih dahulu, sambil mengamati kondisi dan situasi sekitar.
"Kakak apa kau tidak berniat mengikuti sayembara yang diselenggarakan oleh tumenggung?" tanya caraka selidik.
Sepetahuan caraka, soal gadis cantik tentu kakak nya tidak akan ketinggalan, kemampuan yang dimiliki kakak nya pasti dapat menolong sang gadis.
Matahari belum menampakkan diri tapi penginapan yang ditempati Mahesa dan Caraka telah ramai, keributan yang terjadi di lantai bawah mengundang banyak pendekar menyaksikan.
Mahesa dan Caraka yang merasa terganggu akan keributan dibawah segera bangun, melihat banyak nya pendekar di lantai bawah, Mahesa dapat mencerna situasi, mereka berdua turun kebawah bergabung dengan para pendekar yang lain.
Cukup lama pertarungan antar dua kelompok hingga pasukan kerajaan datang memisahkan kedua kelompok yang berseteru, kedatangan pasukan kerajaan membuat para penonton ikut membubarkan diri, mereka tidak ingin terlibat masalah yang berakibat gagal mengikuti sayembara.
Matahari telah menampakkan diri, alun alun kadipaten ramai akan kehadiran para pendekar dari seluruh pelosok wilayah timur, sayembara yang diadakan tumenggung Guntal akan segera dimulai, tampak di podium utama jendral Guntal beserta istri duduk di deretan terdepan.
__ADS_1
Abdi dalam dari kadipaten maju ke depan, ia mengumumkan persyaratan sayembara.
"Salam para pendekar semua, hamba mewakili tumenggung Guntal mengucapkan terima kasih kepada para pendekar yang telah sukarela mengikuti sayembara ini, sayembara diadakan guna mengobati putri tumenggung yang terkena racun mematikan, aturan sayembara sangat sederhana, para pendekar cukup membawa kembali tanaman lotus air, tanaman ini akan digunakan sebagai ramuan penangkal racun yang bersarang di tubuh putri sang jendral, untuk lokasi lotus air dapat di temukan di lembah gunung kelinci," ucap abdi dalam kadipaten rongso menjelaskan.
"Jika kami dapat menyerahkan tanam lotus air, hadiah apa yang diberikan oleh tumenggung Guntal?" tanya seorang pendekar.
"Hadiah yang di sediakan oleh tumenggung Guntal adalah, bagi yang berusia muda dapat menikahi sang putri, jika yang mendapatkan lotus air adalah seorang sepuh atau sebaya nya akan di berikan dua peri koin emas, satu peti sumber daya tanam herbal, dan jamuan makan sebagai penghormatan," jawab sang abdi.
"Bagaimana jika mendapatkan lotus air tesebut pasangan pendekar atau kelompok?" kembali bertanya salah satu pendekar yang hadir.
"Yang memetik tanaman lotus lah yang mendapatkan hadiah," jawab kembali sang abdi.
Riuh ramai pembicaraan terjadi di antara para pendekar yang hadir di alun alun kadipaten, mereka merencanakan agar sayembara ini dapat dimenangkan, mengingat hadiah yang sangat mengiurkan yang di janjikan oleh tumenggung.
Mahesa dan Caraka yang ikut dalam kerumunan para pendekar hanya tersenyum masam, Caraka sangat mengetahui kondisi dan situasi jalan menuju lembah kelinci, keangkeran dan nuansa mistis sangat pekat di sana, ditambah lagi hutan rimba sebelum mencapai lembah kelinci tidak dapat ditembus sinar matahari.
Sang abdi yang menjadi pembicara menutup ucapannya dengan salam, kemudian mempersilahkan para pendekar mencari lotus air, bagi para pendekar yang hadir waktu adalah uang, namun bagi Mahesa dan Caraka berbeda, mereka tampak santai, sebelum berangkat pun mereka masih sempat mengisi perut.
"Kakak, kita ikut mencari tanaman lotus air, perasan saya mengatakan keselamatan sang putri sangat tipis, jika tanaman lotus air yang menjadi inti dari ramuan penyembuh maka sang putri terkena racun bersumber api," ucap Caraka.
Racun yang bersumber dari bisa api ada beberapa jenis dan semua sangat berbahaya, tentu racun tersebut memiliki tenggang waktu penyebaran, berbeda dengan racun mawar api, racun ini hanya membutuhkan satu jam setelah terkena maka si korban akan meninggal.
__ADS_1
Selesai mengisi perut kedua pendekar bergegas menuju lembah kelinci, waktu sangat penting, sebisa mungkin mereka akan menghindari kontak dengan para pendekar yang mengikuti sayembara.