
Fang Mu dapat merasakan jika kerambit perak ini merupakan senjata kelas atas dan bisa di alirkan tenaga dalam. Selain itu, Fang Mu juga merasa jika kerambit itu memiliki khas dan berbeda dari senjata lainnya yang ada di dalam ruangan itu.
Fang Mu juga sudah membulatkan tekadnya untuk menggunakan kerambit menjelajahi dunia persilatan, sebelum dia menguasai kitab Keris Putih dan memiliki pusaka itu. Fang Mu sadar, untuk saat ini dia belum mampu mempelajari kitab itu karena itu mempelajarinya membutuhkan tenaga dalam yang besar, paling tidak tingkatan pendekar suci.
"Aku ingin menjadi berbeda dari pendekar lainnya, Guru. Kerambit ini akan membuatku berbeda dari yang lainnya dan akan menjadi ciri khasku sendiri," Fang Mu menjelaskan kepada gurunya itu kenapa dia memilih kerambit sebagai senjata yang ingin di milikinya.
Xiao Yan tidak menyalakan hal itu, dia tidak mencegah Fang Mu karena Fang Mu berhak menentukan pilihannya sendiri demi masa depannya yang cerah di dunia persilatan Benua Teratai.
"Guru harap kau benar-benar menekuni dan mempelajari seni bertarung dengan kerambit ini... Tunjukkan jika kau memang ingin menjadi berbeda dari yang lainnya," Xiao Yan membayar untuk kerambit itu, "Jadilah berbeda sesuai dengan apa yang kau inginkan, jangan kecewakan gurumu ini... " Tambah Xiao Yan.
"Aku tidak akan mengecewakanmu, Guru... " Fang Mu menangis di depan Xiao Yan. Dia bertekad untuk menjadi kuat dan melindungi orang-orang yang tersayangnya dan mencegah kehancuran di Era Kegelapan di bawah pimpinan sosok yang terkenal dengan nama Naga Kegelapan.
Xiao Yan merasa teduh melihat murid satu-satunya begitu berbakti. Xiao Yan akan memberikan banyak sumber daya untuk mendukung perkembangan silat dari Fang Mu. Tekadnya agar Fang Mu mampu menjadi jauh lebih baik dari dirinya.
Setelah mendapatkan Kerambit sebagai hadiah dan penghargaan atas keberhasilannya menjadi murid utama, Fang Mu selalu menghabiskan banyak waktu mengasah ketrampilannya dalam menggunakan kerambit itu.
Fang Mu merasakan jika ilmu silatnya berkembang pesat setelah mempelajari kitab itu. Bukan hanya dari kemampuan menggunakan kerambit, tetapi juga perkembangan dalam senjata lain juga berkembang pesat pula. Bahkan kemampuan berpedangnya juah meningkat pesat setelah memahami beberapa penjelasan dari kitab itu.
"Siapapun yang membuat kitab ini, dia pasti adalah pendekar ternama di masanya. Kitab ini menjelaskan semuanya, dengan memahami semua isi kitab ini, siapapun akan menjadi pendekar ternama...
Kitab ini juga menjelaskan kerambit adalah senjata paling mematikan di antara senjata lainnya... " Ujar Fang Mu mencoba memahami kitab itu.
__ADS_1
Fang Mu menghabiskan banyak waktu untuk terus memahami dan mempelajarinya kitab itu. Setiap penjelasan selalu berusaha untuk di pahami dan di terapkan dalam pertarungan. Namun, sebanyak apapun Fang Mu membaca, dia tetap merasa gagal memahami setiap penjelasan di dalam kitab itu. Semua masih menjadi misteri, kitab ini terus menyimpan banyak hal dan menuntut untuk di pecahkan, Fang Mu merasa jika kitab ini akan membawanya menjadi lebih besar di masa depan.
"Sialnya, ada bahasa yang tidaklah ku mengerti di dalam kitab ini," umpat Fang Mu.
Fang Mu menghela nafas dengan berat, sebelum menutup kitab itu saat merasakan langkah kaki yang berjalan ke arahnya.
"Guru ... " Fang Mu menundukkan kepalanya memberi hormat kepada Xiao Yan.
Xiao Yan tersenyum tipis, dia lantas mengambil posisi duduk di bawah pohon rimbun nan rindang itu.
"Kau sudah menjadi murid utama, Mu'er. Maka setelah ini kau harus ikut dalam mengerjakan misi agar mendapatkan sumber daya lebih dari sekte guna menunjang peningkatan kemampuanmu," ujar Xiao Yan menjelaskan.
Fang Mu mengangguk, dia tentu sudah memahami hal itu. Setiap sekte memang selalu mendapatkan misi, agar terus menunjang keberlangsungan sekte itu. Sekte aliran lurus biasanya mendapatkan misi dari kekaisaran ataupun bangsawan untuk mengerjakan sesuatu, misalnya pengawalan ataupun yang lainnya. Sementara sekte aliran sesat biasanya akan mendapatkan misi melenyapkan ataupun menghabisi seseorang yang di anggap penting dan kematian bernilai besar.
"Tetua Wan Susu mengajakmu, itu sangatlah baik. Kau akan mendapatkan banyak pengalaman, kau juga harus mengingat jika dunia luar sangat kejam, tidak sama seperti di dalam sekte, jadi ketika mengerjakan misi nanti berhati-hatilah, jangan gegabah." Xiao Yan memberi nasehat panjang kepada Fang Mu. Maklum, ini adalah kali pertama bagi Xiao Yan melepas muridnya untuk mengerjakan misi yang berada di luar pengawasan dirinya.
"Aku akan mengingat semua pesanmu, guru. Aku pasti akan pulang dengan selamat," ujar Fang Mu.
Xiao Yan tersenyum tipis, masih terasa berat baginya untuk melepas muridnya ini, akan tetapi dia juga tidak ingin melarang karena sejatinya pendekar akan menghadapi itu semua cepat ataupun lambat.
"Pastikan dirimu kembali dengan selamat, guru akan memberikan hadiah untukmu jika berhasil mengejarkan misi ini dengan baik," Xiao Yan memberikan semangat kepada muridnya itu.
__ADS_1
Fang Mu menganggukkan kepalanya, seraya mengerti dengan semua penjelasan dari Xiao Yan.
Waktu berlalu dengan sangat cepat, tanpa terasa pagi ini Fang Mu akan berangkat mengerjakan misi pertamanya di kehidupan keduanya ini.
Xiao Yan terlihat menunggu Fang Mu bersiap di depan pintu paviliun, Xioa Yan tentu akan mengantar murid satu-satunya ini untuk mengerjakan misi pertama kalinya.
"Apa sudah siap semuanya, Mu'er? Pastikan tidak ada yang ketinggalan," ujar Xiao Yan memberi peringatan kepada muridnya itu.
"Iya guru," jawab Fang Mu sekadarnya.
Setelah itu, mereka langsung berjalan menuju gerbang utama, di sana sudah ada Tetua Wan susu dan dua murid lainnya yang akan ikut bersamanya untuk mengerjakan misi bersama, salah satunya adalah Tang Yu.
"Tetua Xiao," Wan Susu memberi hormat kepada Xiao Yan, karena memang posisi Xiao Yan di dalam sekte di atas Tetua Wan Susu.
"Tetua Wan, aku titip muridku," kata Xiao Yan.
"Baik, Tetua. Aku akan pastikan kami akan menyelesaikan misi dengan cepat, dan akan sesegera mungkin kembali," Tetua Wan.
Xiao Yan hanya melempar senyum, Xiao Yan mengelus pucuk kepala Fang Mu, "Jangan gegabah, dan ikuti semua perintah dari Tetua Wan."
Sekali lagi Xiao Yan berpesan kepada muridnya ini, maklum ini momen yang sangat jarang bagi Xiao Yan.
__ADS_1
Setelah itu, Fang Mu berpamitan, mereka dengan segera bergegas memacu kudanya meninggalkan wilayah Sekte Gunung Naga, tujuan mereka adalah Kota Perak yang berada tidak terlambat jauh dari Sekte Gunung Naga, mungkin sekitar satu hari perjalanan menggugat kuda.