Pendekar Keris Naga Putih

Pendekar Keris Naga Putih
Ch 08. Hutan Kematian II


__ADS_3

Fang Mu mengutuk kebodohannya ini, dia benar-benar berada dalam masalah besar kali ini.


"Sial, bagai bisa kau lupa jika api bisa mengidentifikasi bahaya untuk datang," Fang Mu mengumpat dengan kesal.


Merasa tidur memiliki pilihan lain lagi, Fang Mu menarik pedangnya. Dia merasa hanya pertarungan yang bisa menyelesaikan masalah yang ada datang, berlari rasanya tidak mungkin lagi.


Benar saja, berkelang beberapa menit puluhan hewan buas dan beberapa siluman sudah mengepung dirinya.


"Ini bukan masalah besar jika mereka semua adalah kawanan hewan buas, tetapi siluman, ini sesuatu yang berbeda," tungkas Fang Mu sambil memperkuat genggaman pada gagang pedangnya. Tidak lupa dia juga memasang kuda-kuda tarungnya.


Hewan buas dan siluman itu melihat Fang Mu dengan sorot mata yang siap menelan Fang Mu hidup-hidup, semua seolah menemukan sesuatu yang bisa mereka jadikan makan malam.


Gerrrr!!!


Dua ekor harimau langsung bergerak menerkam Fang Mu. Beruntung, Fang Mu mampu menghindar dan memberikan satu tendangan keras yang melemparkan harimau itu ke belakang dan menghantam batang pohon dengan keras.


Fang Mu tidak berhenti di satu serangan, dia langsing mengubah kuda-kudanya dan melepaskan dua tendangan lainnya pada harimau lainnya yang berusaha menerkam dirinya.


Dua harimau itu tentu bukan lawan yang sepadan untuk Fang Mu, dirinya mampu mengalahkannya dengan mudah.


"Hewan buas bukan lawan yang sulit," Fang Mu mengalihkan pandangan pada beberapa siluman yang belum bergerak dari posisi mereka semula itu.


Siluman adalah salah satu yang di khawatirkan oleh Fang Mu, karena kemampuan siluman jauh di atas hewan buas dan siluman pula pola pikir dan insting dalam bertarung.


"Sial, mereka seperti berusaha untuk menguras tenagaku lebih dulu, sebelum bergerak membuat serangan," Fang Mu menggeram dengan kesal, dia juga mengutuk kebodohannya yang menyalakan api unggun itu.


Fang Mu tidak bisa terlalu lama berdiam, karena beberapa hewan buas lainnya sudah bergerak ke arahnya. Pertarungan kembali terjadi, Fang Mu memilih untuk secepat mungkin mengalahkan hewan buas itu dan tidak ingin membuang tenaganya terlalu banyak karena pertarungan sesungguhnya belum di mulai.

__ADS_1


Tidak membutuhkan waktu lama bagi Fang Mu untuk mengalahkan semua kawanan hewan buas itu. Setelahnya, nafas Fang Mu memburu dan ngos-ngosan.


Benar saja, siluman-siluman itu langsung bergerak menyerang Fang Mu setelah kawanan hewan buas itu berhasil di kalahkannya.


"Siluman-siluman di dalam Hutan Kematian ini jauh lebih pintar rupanya," Fang Mu menggenggam erat gagang pedangnya kembali, sebelum bergerak menghindari serangan dari gerombolan siluman itu.


Siluman itu secara silih berganti menyerang Fang Mu, gerakan mereka yang cepat tentu berhasil membuat Fang Mu kewalahan.


Hanya dalam beberapa menit, tubuh Fang Mu sudah di penuhi goresan luka cakar yang di buat oleh para siluman itu. Namun, Fang Mu juga berhasil memberikan luka pada tubuh siluman itu menggunakan bilah pedangnya.


Nafas Fang Mu sudah tidak lagi beraturan, memburu. Tubuhnya sudah basah berkeringat.


Siluman-siluman menggeram keras, mereka yang mengalami luka tentu ingin menuntut balas, nyawa Fang Mu di rasa setimpal atas semua luka yang mereka derita.


Fang Mu bukan tidak berusaha mencari jalan keluar, dia terus memaksa otaknya untuk berpikir dan mencari jalan dari permasalahanya ini.


Fang Mu menarik nafas panjang, dirinya sangat berharap agar mampu bertahan dari semua serangan siluman ini. Fang Mu tidak ingin mati terlalu cepat di kehidupan keduanya ini, masih ada hanyak hal yang harus di selesaikan, salah satunya adalah menyelamatkan Sekte Gunung Naga dari kehancuran dan kemusnahan.


Fang Mu menggenggam erat gagang pedangnya itu, sebelum bergerak menyerang serigala berbulu merah itu. Fang Mu tentu menargetkan serigala berbulu merah itu karena sudah mengalami luka yang cukup serius akibat tebasan pedangnya beberapa saat yang lalu.


Siluman serigala berbulu merah itu yang sadar menjadi target serangan, tentu berusaha untuk bergerak mundur, tetapi gerakan Fang Mu jauh lebih cepat darinya.


Sleshhh!!!


Sleshhh!!!


Dua sayatan pedang menghiasi tubuh dari siluman itu, tidak berhenti sampai di satu serangan saja, serangan selanjutnya berhasil merenggut nyawa siluman itu.

__ADS_1


"Sial, pedang ini terlalu lemah ... " Umpat Fang Mu sambil melempar pandang ke arah kumpulan siluman itu.


Fang Mu dapat merasakan jika pedang ini tidak akan bertahan lama dan akan menjadi keping kecil. Fang Mu menarik nafas pan, sebelum kembali bergerak menyerang kumpulan siluman itu.


Pertarungan itu kembali terjadi, siluman itu terus berusaha untuk segera melumpuhkan Fang Mu. Ambisi dan emosi para siluman itu di manfaatkan dengan baik oleh Fang Mu untuk memberikan serangan demi serangan dengan pedangnya.


Dalam waktu singkat, beberapa siluman lainnya sudah terkapar tidak bernyawa lagi. Namun, kondisi yang tidak jauh berbeda dengan Fang Mu. Dia sudah hampir kehabisan tenaga dan stamina, pedangnya pun sudah di penuhi retakan kecil. Satu kali tebasan lagi maka pedangnya itu hancur.


Fang Mu memasukan kembali pedang ke selongsongnya, dirinya tidak ingin mengambil resiko dengan bilah pedang yang tidak lagi memiliki daya tahannya. Sepasang kerambit kini menjadi senjata yang akan di gunakan oleh Fang Mu untuk melanjutkan kembali pertarungan.


"Ini pertama kalinya aku bertarung menggunakan senjata ini," gumam Fang Mu.


Fang Mu mengambil posisi kuda-kuda tarung sama seperti yang di jelaskan oleh kitab itu.


"Majulah, aku ingin menguji sudah sejauh mana kemampuanku dalam memahami penjelasan kitab itu," Fang Mu sangat bersemangat untuk menguji batas pemahamannya ini.


Fang Mu akhirnya mengambil inisiatif untuk membuat serangan lebih dulu. Sama seperti sebelumnya, dirinya menargetkan satu siluman untuk di taklukkan dengan cepatnya, sebelum mengincar yang lainnya.


Fang Mu mampu menggunakan sepasang kerambit itu dengan lincahnya. Fang Mu dengan cekatan menggunakan kerambitnya membabas semua siluman yang menjadi lawan bertarungnya saat ini.


Dengan gerakannya yang cepat nan gesit Fang Mu berhasil membuat pertarungan itu semakin seru. Fang Mu dengan sangat kontan mendominasi pertarungan itu.


Ayunan kerambit yang selalu di arahkan pada titik buta para siluman itu, dan di selingi oleh tendangan keras dan beberapa hantamam pukulan yang jikalau orang biasa yang menerimanya akan pecah detik itu pula.


"Kerambit ini jauh lebih mematikan dari pedang, luka yang di hasilkan pun jauh lebih dalam," gumam Fang Mu.


Fang Mu memutar tubuhnya dan melepaskan tendangan keras yang langsung mengakhiri perlawanan dari monyet berbulu merah itu.

__ADS_1


"Akhirnya, aku pikir tidak akan mampu mengalahkan mereka semua... " Fang Mu jatuh berlutut lemas.


__ADS_2