
Terluka parahnya Wu Gu jelas menjadi pukulan telak bagi Sekte Siluman Iblis itu, karena mereka semua tahu jika Wu Gu memiliki kemampuan yang tidak terlalu jauh dari seorang pendekar raja.
"Tetua, kau baik-baik saja?" Tanya salah satu anggotanya itu.
"Tidak usah pedulikan aku, aku tidak apa-apa... Aku hanya sedikit lengah saja tadi, fokus pada lawanmu," jawab Wu Gu.
Wu Gu kembali berdiri dan menggenggam erat pedangnya. Sorot matanya nanar menatap Fang Mu. Dia tidak akan pernah mati dengan tenang, jika belum mampu membalas apa yang telah di lakukan oleh Fang Mu kepada dirinya ini.
"Kau membuatku terkejut, tapi untuk menghabisiku bukan perkara mudah... " Wu Gu melepaskan hawa pembunuh yang di arahkan langsung kepada Fang Mu.
Fang Mu yang merasakan pundaknya sedikit berat, akibat tekanan yang di berikan oleh Wu Gu, tetapi dia masih tetap tenang. Di detik kemudian, Fang Mu juga melepaskan hawa pembunuh yang di dapatkan oleh dari permbantaian Shinobi beberapa waktu yang lalu, guna untuk melindungi diri dari tekanan yang di lakukan oleh Wu Gu.
Wu Gu terkejut bukan main, karena hawa pembunuh yang di miliki oleh Fang Mu cukup pekat, apalagi untuk anak seusianya dan berasal dari aliran lurus.
"Tidak mungkin kau pendekar aliran lurus, siapa kau sebenarnya!!" Seru Wu Gu yang sulit percaya jika Fang Mu adalah pendekar aliran lurus, apalagi berasal dari sekte aliran lurus terbesar, yaitu Sekte Gunung Naga.
"Apa perlu kita berkenalan untuk saling membunuh?" Tanya Fang Mu.
Wu Gu menelan ludahnya dengan sulit, dia tidak percaya jika kedatangan mereka ke Kekaisaran Xin akan mempertemukan mereka dengan sosok yang sangat haus darah seperti Fang Mu, bahkan di usia masih sangat mudah.
Wu Gu ingat betul bahkan jenius dari aliran hitam saja tidak memiliki kemampuan sebesar Fang Mu, dan yang terpenting tidak memiliki hawa pembunuh sepekat ini.
"Majulah, jika kau tidak lagi sayang dengan nyawamu!!" Tantang Fang Mu dengan bernada ejekan.
Wu Gu yang mendengarnya hal membuat kepalanya panas dan terasa mendidih, Wu Gu menggenggam erat pedangnya itu, sebelum bergerak cepat ke arah Fang Mu dengan hasrat membunuh yang besar.
Fang Mu yang sadar musuhnya sudah dalam keadaan di kuasai amarah, langsung ikut bergerak maju menyambut serangan itu, karena menghadapi seseorang yang sedang di kuasai oleh marah selalu jauh lebih mudah ketimbang berhadapan dengan seseorang yang berkepala dingin dan berpikir jernih.
Dengan kerambitnya, Fang Mu menyambut setiap serangan yang di lakukan oleh Wu Gu. Fang Mu dengan cekatan membalikkan semua serangan itu, tanpa kecolongan pada pertahanannya.
__ADS_1
Wu Gu yang sudah bergerak dan menyerang mengikuti amarahnya, tentu saja menghasilkan serangan yang tidak lagi efektif. Hampir semua serangan di lakukan secara asal-asalan, yang penting ke arah Fang Mu.
Fang Mu tersenyum puas, sebelum mengubah pola serangannya, bersiap untuk memberikan serangan telak.
Fang Mu memusatkan tenaga dalam pada kerambitnya, sebelum menundukkan badannya dan memutar tubuhnya. Bersamaan dengan itu pula, kerambitnya membabat kaki kanan Wu Gu. Tidak berhenti di sana, Fang Mu kembali mengayunkan kerambitnya menyayat bagian leher belakang Wu Gu.
"Akhhh ... " Wu Gu berteriak keras, dia masih tidak percaya jika dia benar-benar di kalahkan oleh seseorang yang masih sangat hijau di rimba persilatan.
***
Wan Susu yang mendapat tugas menjaga pasukan di bagian belakang, baru tiba ketika pertarungan sudah pecah.
"Murid Tetua Xiao benar-benar mengerikan, bagaimana dia bisa menemukan markas musuh dengan sangat mudah," gumam Wan Susu.
Wan Susu tidak ingin memiliki semua itu lebih dulu, dia menarik sabit dari selongsongnya dan bergabung bersama yang lainnya.
Wan Susu baru menemukan lawan berimbang setelah cukup lama bermain-main dengan musuhnya yang memiliki kemampuan di bawahnya.
TRANG!!!
Wan Susu menangkis serangan pedang kejutan itu dengan cukup baik, sambil menjaga jarak dan menemukan empu pemilik pedang tersebut.
"Apa seorang pendekar sejati menyerang dengan cara membokong?"
Lu Gu tertawa, dia adalah sosok yang berusaha menyerang Wan Susu dari belakang.
"Tidak ada aturan yang memuat dalam pertarungan tidak boleh menyerang dari belakang... Kita bisa menggunakan segala cara untuk mengalahkan lawan, begitulah aturan dunia persilatan," Lu Gu berseru keras ke arah Wan Susu.
"Cihh, pengecut!!"
__ADS_1
"Haha, apa aku peduli? Bagiku adalah kematian adalah hal yang indah, pendekar sabit emas,"
Setelah itu, Lu Gu bergerak cepat ke arah Wan Susu, dia mengayunkan pedangnya menyerang Wan Susu dengan membabi buta dan brutal.
Wan Susu yang sudah menjelajahi dunia persilatan tentu tidak masalah dengan serangan brutal itu, dia dengan sabitnya mampu mengatasi semua serangan itu dengan baik. Wan Susu tetap dengan ketenangannya menghadapi gempuran itu.
Dalam waktu singkat saja, Wan Susu dan Lu Gu sudah bertukar belasan serangan. Namun serangan keduanya sama-sama belum membuahkan hasil.
"Kemampuan pendekar sabit emas ternyata tidak di besarkan, tetapi memang sekuat yang di beritakan," puji Lu Gu.
"Aku sungguh tersanjung dengan pujianmu itu, tapi pujianmu itu tidak akan membuat aku memberimu ampunan,"
Lu Gu tertawa, dia menarik nafas panjang, sebelum bergerak cepat ke depan. Kembali memulai pertarungan. Berbeda dari sebelumnya, kali ini setiap serangan di alirkan tenaga dalam sehingga menghasilkan gelombang kekuatan.
Wan Susu yang sudah menduga hal itu, tentu juga melakukan hal sama sehingga benturan kekuatan itu menghancurkan bangunan yang berada di dekat area pertarungan mereka.
Pedang yang di sambut dengan sabit itu menghasilkan sebuah pertarungan yang sengit. Wan Susu kali ini yang mengandalkan kecepatan mampu menekan Lu Gu. Seiring berjalannya waktu, Lu Gu mulai kewalahan menghadapi gempuran serangan yang di lakukan oleh Wan Susu. Wan Susu yang memiliki kemampuan di atas Lu Gu tentu langsung mampu mengendalikan pertarungan itu.
"Sialan, ternyata dia jauh lebih kuat dari yang aku kira," umpat Lu Gu yang menyesali tindakannya menghadapi Wan Susu seorang diri.
Dalam waktu singkat, Wan Susu berhasil memberikan luka pada tubuh Lu Gu dan membuatnya terpental jauh ke belakang menghantam dinding bangunan markas itu.
Lu Gu memuntahkan darah segar, dia berusaha untuk segera berdiri.
"Hei kalian, kemari bantu aku menghadapi tengik ini,"
Lu Gu berseru meminta bantuan kepada para tetua lainnya. Lu Gu tentu tidak cukup bodoh dengan memaksakan diri. Menurutnya menyerang dengan jumlah yang lebih banyak akan membuat kemungkinan menang semakin besar.
Wan Susu yang melihat musuhnya bertambah dua orang lagi, hanya bisa menghela nafas dengan pelan. Dia akan bertarung lebih serius lagi.
__ADS_1