Pendekar Keris Naga Putih

Pendekar Keris Naga Putih
Ch 24. Shinobi V


__ADS_3

Wan Susu harus di hadapkan pada dua pendekar elit dan satu pendekar ahli di saat yang bersamaan pula dia harus memastikan keselamatan dari Gu Wunfai yang lepas dari perlindungan pemimpin prajurit yang saat ini sedang di sibukkan dengan Shinobi yang memiliki kekuatan pendekar ahli itu.


"Tuan Muda tetap berada di dekatku," kata Wan Susu yang sudah bersiap dengan kuda-kuda tarungnya.


Gu Wunfai menganggukkan kepala, dia tidak cukup bodoh untuk jauh dari perlindungan Wan Susu, karena saat ini nyawanya bisa kapan saja melayang.


"Sebaiknya menyerahlah, aku akan menemukan kematian yang cepat dan tidak menyakitkan untuk kalian," seru Shinobi salah satu Shinobi itu.


"Dari mana kau tahu jika kematian tidak menyakitkan, sementara dirimu belum pernah merasakannya. Apa perlu aku akan membuatmu merasakannya?" Ejek Wan Susu.


Tepat setelahnya itu, Wan Susu langsung bergerak sedikit ke depan dan membuka serangan pertama. Tebasan pedangnya mampu di antisipasi dengan baik oleh para Shinobi itu menggunakan kunai yang menjadi senjata mereka dalam pertarungan.


Bukan hal mudah bagi Wan Susu untuk bertarung sambil terus memastikan keselamatan dari Gu Wunfai. Dia sebenarnya memiliki kekuatan yang dapat dengan mudah mengalahkan para Shinobi ini, tetapi fokusnya yang terbelah membuat pertarungan menjadi berimbang.


Para Shinobi itu tentu memanfaatkan betul Gu Wunfai sebagai titik lemahnya Wan Susu, sembari terus membentuk pola serangan untuk memenangkan pertarungan ini.


Dalam waktu cepat, Wan Susu sudah bertukaran belasan serangannya, tetapi Wan Susu masih terlihat kesulitan untuk menekan Shinobi itu lebih jauh, karena ketika dia mulai berhasil memojokan Shinobi itu, dua orang Shinobi lainnya langsung memisahkan diri dan bergerak mengincar Gu Wunfai. Alhasil, Wan Susu harus menarik serangannya kembali guna melindungi Gu Wunfai.


Gu Wunfai menyadari jika dia menjadi titik lemah dari Wan Susu, tetapi dia tidak memiliki pilihan lain selain bergantung pada Wan Susu. Gu Wunfai tidak memiliki kemampuan silat yang cukup untuk dapat melindungi dirinya.


"Tetua, maafkan aku yang sudah menjadi beban dalam pertarunganmu ini," kata Gu Wunfai dengan pelan.


"Tidak perlu terlalu di pikirkan. Ini juga kewajibanku selaku pendekar aliran putih,"

__ADS_1


Wan Susu mengalirkan tenaga dalam pada sabitnya, dia berencana memberikan serangan cepat kepada Shinobi itu untuk memberikan luka yang serius.


Sementara itu, Shinobi itu yang merasa di atas angin dengan beradanya Gu Wunfai di sisi Wan Susu tersenyum penuh kemenangan.


Terlihat Shinobi itu berbisik kepada dua orang Shinobi lainnya, sebelum memasang senyum lebar.


"Apapun rencanamu, kalian tidak akan pernah mampu mengalahkanku," kata Wan Susu.


"Cuihh, jumawa. Aku akan membunuhmu!!" Shinobi itu bergerak cepat ke arah Wan Susu. Di saat yang sama pula, dua Shinobi lainnya bergerak menyisir kanan dan kiri, terlihat berusaha memecah fokus dari Wan Susu.


Wan Susu tentu menyadari tujuan dua Shinobi lainnya yang ingin memecah fokusnya itu.


"Tuan Muda, ikuti gerakanku saat melangkah ke depan," perintah Wan Susu yang langsung di balas anggukan oleh Gu Wunfai.


Dengan gerakan cepat, Wan Susu berpindah tempat dan melesat tebasan sabit beruntun kepada Shinobi itu. Gerakannya yang cepat dan gesit gagal untuk di antisipasi oleh Shinobi itu. Shinobi itu memang memiliki kecepatan, tetapi dia tidak memiliki pengalaman bertarung seperti yang di miliki Wan Susu.


Dalam beberapa kali serangan, Shinobi itu sudah menderita luka yang serius, bahkan dia merasa kesulitan untuk bernafas. Sementara dua Shinobi lainnya berdiri dengan tertegun menyaksikan pimpinan mereka di buat tidak berdaya oleh Wan Susu.


Dua Shinobi itu seketika sadar jika Wan Susu bukan lawan yang sepadan bagi mereka. Kekuatan Wan Susu sangat jauh di atas mereka.


"Seolah pendekar bergelar? Bagaimana mungkin kelompoknya Bangsawan Gu memiliki pendekar bergelar yang mengawal perjalanan?" Kata salah satu Shinobi itu tidak percaya.


Memang dari informasi yang mereka dapatkan, Gu Wunfai hanya di kawal oleh pendekar ahli dan prajuritnya yang memiliki kemampuan pendekar elit satu dan dua.

__ADS_1


"Sudah terlambat jika ingin mundur," Wan Susu bergerak cepat ke arah dua Shinobi itu, sebelum detik selanjutnya sabitnya itu merenggut nyawa mereka itu.


Gu Wunfai meneguk ludahnya dengan sulit. Jelas ini pertama kalinya dia menyaksikan pembunuh di dalam hidupnya. Namun, di sisi lain dia juga merasa bersyukur karena mampu menahan Wan Susu di tempatnya, jika tidak dia tidak percaya masih mampir bernafas hingga saat ini.


Pertarungan itu berlangsung sampai matahari terbit di ufuk timur, di tandai dengan bau amis darah dan mayat memenuhi lokasi itu. Bukan hanya para Shinobi yang gugur, tetapi tidak sedikit para prajurit juga gugur dalam pertarungan kali ini.


Satu yang paling mengejutkan, hampir setengah Shinobi itu tewas di mata kerambit milik Fang Mu, seorang pendekar muda yang memiliki naluri membunuh yang besar.


Wan Susu dapat merasakan jika saat ini tubuh Fang Mu sudah di selimuti hawa pembunuh yang pekat, bahkan hawa pembunuh Fang Mu jauh lebih pekat dari pendekar muda yang ada di aliran sesat sekalipun. Wan Susu merasa bimbang, apakah harus merasa senang sosok pendekar berbakat terlahir di Sekte Gunung Naga ataupun malah khawatir jika Fang Mu akan menjadi bencana bagi rimba persilatan.


"Aku akan membicarakan ini dengan Tetua Fang saat pulang ke Sekte nantinya," gumam Wan Susu di dalam hatinya.


Setelah pertarungan selesai, mereka semua lekas membersihkan area pertarungan dan menguburkan semua mayat itu, karena jika di biarkan begitu saja akan menyebabkan wabah penyakit yang menular nantinya.


Sementara itu, Fang Mu memilih untuk segera membersihkan diri, seluruh tubuhnya sudah berlumuran darah dan keringat sehingga membuat tubuhnya terasa lengket.


"Aku terlalu terbawa suasana, sampai tidak sadar jika terlalu menarik perhatian," Fang Mu menyesali tindakan cerobohnya yang akan membawa dia pada masalah baru ketika kembali ke Sekte Gunung Naga nantinya. "Tetua Wan pasti akan memberitahu guru mengenai kejadian hari ini,"


Fang Mu menghela nafas panjang, sebelum fokus membersihkan diri di bawah derasnya guyuran air terjun. Selain membersihkannya diri, Fang Mu juga melatih ketahanan tubuhnya dengan melakukan meditasi di bawah derasnya guyuran air terjun itu yang langsung menghantam punggungnya.


Fang Mu seolah bernolstagia saat di mana dia menghabiskan banyak waktu berlatih ketahanan tubuh karena tubuh pada saat itu masih sangat lemah dan kurus, berbeda saat ini di kehidupan kedua.


"Meskipun masih merasakan nyeri, tetapi rasanya tidak sama seperti kehidupan pertamaku... " Fang Mu bergumam pelan.

__ADS_1


Setelah puas membersihkan diri, Fang Mu mendarat dan mengenakan pakaiannya dengan segera. Tubuhnya terasa segar, dengan cepat Fang Mu kembali ke rombongannya yang tampaknya sudah bersiap-siap untuk kembali melanjutkan perjalanan.


__ADS_2