
Setelah kepergian rombongan Sekte Gunung Naga, Du Kao sebenarnya kembalinya memohon kepada ayahnya, Du Kai agar mengurungkan niatnya untuk belajar di Sekte Gunung Naga, tetapi Du Kai tidak menerima alasan apapun. Du Kao harus tetap pergi ke sana untuk belajar dan menempa diri menjadi insan yang lebih baik lagi ke depannya.
"Jika memang tidak ada tawar menawar lagi, aku pamit ayah ... " Du Kao berpamitan.
"Kao'er berhati-hatilah, jangan bermalas-malasan, tidak semua orang bisa belajar di sana," Du Kai kembali memberi petuah dan nasehat sebelum putranya itu pergi meninggalkannya dalam waktu yang tidak sebentar.
Du Kao mengangguk, Du Kao merasa tidak memiliki pilihan lain, akhirnya meminta untuk berpikir yang baik-baik saja. Kemungkinan hukuman sudah pasti akan di dapatkan olehnya, tapi kemungkinan terbaiknya dia memiliki kesempatan untuk menjadi seorang pendekar, kesempatan yang tidak semua orang miliki. Apalagi belajar di Sekte Gunung Naga yang namanya sudah sangat tersohor di jagat rimba persilatan selama ratusan tahun terakhir.
Du Kao berangkat seorang diri, dia tidak membawa prajurit yang di miliki oleh ayahnya itu. Du Kao hanya membawa seekor kuda sebagai kendaraannya, karena Du Kao harus membiaskan diri tanpa bantuan dari para prajurit itu.
Du Kao memacu kudanya dengan cepat meninggalkan Kota Perak. Dia mengarahkan langkah kaki kuda itu menuju tempat yang paling di impikan semua pemuda Kekaisaran Xin untuk belajar dan menimba untuk menjadi pendekar hebat di masa depan.
Setelah menempuh perjalanan panjang, Du Kao akhirnya tiba di depan gerbang utama Sekte Gunung Naga, lima gunung tinggi langsung menyambut mata Du Kao.
"Jadi inikah Sekte Gunung Naga itu?" Gumam Du Kao yang terkagum-kagum dengan pemandangan di depannya.
Lima Gunung menjulang tinggi ke langit, serta di bawah masih terdapat beberapa gunung lainnya membuat pemandangan ini tidak biasa.
Kedatangan dari Du Kao langsung di sambut dua orang murid yang sedang mendapatkan giliran berjaga di depan gerbang itu.
"Apa benar ini Sekte Gunung Naga?" Tanya Du Kao, dia ingin memastikan jika dia tidak salah tempat.
"Benar, ada keperluan apa datang kemari?" Tanya salah satu dari murid yang berjaga di depan gerbang itu.
__ADS_1
Du Kao memberikan mendali yang di berikan oleh Wan Susu kepada murid itu. Selain itu, Du Kao juga memberikan lontar yang di titipkan oleh Wan Susu untuk di berikan kepada tetua yang bertugas di bidang admistrasi Sekte Gunung Naga.
Mereka langsung mengenali mendali milik Wan Susu itu, salah satu dari mereka langsung mengajak Du Kao masuk ke dalam sekte.
Du Kao tersenyum tipis dan mengikuti langkah kaki dari murid itu. Sepanjang jalan dia terkagum-kagum dengan keindahan dari Sekte Gunung Naga.
"Silahkan istirahat terlebih dahulu tuan, aku akan melaporkan tentang kedatangan anda ke Tetua terlebih dahulu," kata murid itu.
Du Kao mengangguk pelan, dia langsung masuk ke dalam kamar yang memang di siapkan khusus untuk para tamu yang datang berkunjung ke Sekte Gunung Naga.
Du Kao masih tidak percaya jika hari ini dia akan berada di lingkungan sekte besar. Kesombong dalam dirinya seketika menguap, sadar jika apa yang di milikinya ternyata masih jauh dari kesempurnaan.
'Aku terlalu sombong... ' batin Du Kao.
Satu yang paling di sadari oleh Du Kao, selama ini dia tidak lebih dari katak dalam tempurung, menganggap dunia ini sangat kecil dan bisa di kendalinya dengan kekuasaan.
"Tetua, aku memberi hormat," Du Kao menundukkan kepalanya.
"Du Kao, namaku Xiao Yan, salah seorang tetua di Sekte Gunung Naga. Aku yang akan menjadi guru utamamu di sini... Kemasi barang-barangmu, kau akan tinggal di Vila Naga Muda milikku,"
Xioa Yan tidak tahu mengapa Fang Mu menginginkan Du Kao menjadi saudara seperguruannya. Ya, dalam lontar yang di bawah oleh Du Kao terdapat permintaan khusus dari Fang Mu, agar Xiao Yan bersedia menjadikan Du Kao sebagai muridnya juga, sama halnya seperti Fang Mu.
'Apapun yang sedang kau rencanakan, aku harap itu akan membawa kebaikan, Mu'er' batin Xiao Yan.
__ADS_1
Mereka langsung bergegas menuju salah satu gunung yang menjadi tempat tinggal bagi para tetua.
Du Kao yang belum memiliki kemampuan apapun benar-benar kesulitan. Dia harus mendaki gunung yang tinggi itu dengan hanya mengandalkan suami manusia biasa. Namun, Du Kao tidak patah arang, dia terus berjalan mendaki tanpa kenal lelah.
"Mungkin ini ujian untukku, apakah aku layak atau tidak menjadi murid Tetua Xiao itu," Du Kao menarik nafas panjang, sebelum kembali berjalan menaiki gunung.
Du Kao bersyukur tidak membawa terlalu banyak barang, jadi langkahnya sedikit ringan. Du Kao membutuhkan waktu dua jam lebih untuk tiba di atas gunung. Batasnya ngos-ngosan dan tidak beraturan.
Du Kao menyadarkan tubuhnya di batang kayu besar. Dia kali ini sungguh butuh istirahat, biarpun hanya beberapa menit saja.
"Ini sangat melelahkan... " Du Kao yang di besarkan di lingkungan bangsawan tentu tidak pernah melakukan olahraga atau apapun itu yang menguras fisik. Sebuah pencapaian yang sangat baik ketika dia mampu mendaki gunung tinggi ini.
Baru saja Du Kao hampir terlelap, dia kembali harus terjaga saat teringat jika dia sedang di tunggu oleh Tetua Xiao yang akan menjadi guru utamanya selama di Sekte Gunung Naga.
"Sial, aku hampir saja tertidur... Aku harus cepat, tidak boleh membuat guru kecewa," Du Kao kembali berdiri dan meraih buntalan kain yang berisi pakaiannya itu.
Du Kao kembali berjalan, tetapi tidak lama setelah itu lututnya seketika lemas saat menemukan anak tangga yang panjang.
"Huh, huh, huh ... " Du Kao berusaha mengatur nafasnya, "Masih ada anak tangga lainnya,"
Du Kao dengan sisa tenaganya menafaki tangga itu dengan berlahan. Keringat sudah bercucuran sejak pertama kali dia mendaki bukit. Pakaian yang di gunakan olehnya sudah basah keringat.
Du Kao dengan semangat juang yang tinggi, kembali melangkahkan kakinya mendaki satu persatu anak tangga itu, sambil berharap dirinya tidak kehabisan tenaga dan pingsan sebelum mencapai vila yang di maksud oleh Xiao Yan.
__ADS_1
Seiring berjalannya waktu, langkah kaki Du Kao mulai terasa berat dan tubuhnya mulai oleng atau sempoyongan.
"Ayolah, sedikit lagi... Aku pasti bisa," Du Kao terus memaksa dirinya untuk terus berjalan ke atas dengan alasan tidak ingin membuat Xiao Yan terlalu lama menunggu dan merasa kecewa dengan dirinya.