
"Tetua, ada hal yang ingin aku bicarakan kepadamu," Kata Fang Mu di sela perjalanan mereka menuju ke kamar.
Wan Susu menaikkan alisnya, "Katakanlah ... "
"Tapi tidak di sini, Tetua. Aku yakin dinding sudah memiliki telinga untuk mencuri dengar pembicaraan kita, mari ikut denganku tetua," Fang Mu mengajak Wan susu untuk berbicara di tempat yang sepi dan tentunya bukan di wilayah kediaman Walikota.
Wan Susu yang melihat ada sesuatu yang penting yang ingin di sampaikan oleh Fang Mu, tentu tidak menolak ajakan itu. Mereka bergerak cepat mencari tempat aman.
Belakang Kota Guhan menjadi pilihan keduanya, karena di rasa aman.
Fang Mu tanpa terlalu panjang berbasa-basi langsung menjelaskan jika selama ini mereka telah di jebak oleh Walikota untuk kepentingan pribadinya dan menjadikan mereka sebagai korbannya. Selain itu, Fang Mu tanpa ragu mengungkapkan identitas sesungguhnya Wu Gu yang merupakan salah satu Tetua di Sekte Siluman Iblis yang bermarkas di tengah hutan. Dia juga menjabarkan jika Wu Gu menjadikan mereka korban untuk memberi peringatan pada rimba persilatan Kekaisaran Xin agar tidak macam-macam dengan mereka.
"Lantas apa rencanamu?" Wan Susu tanpa sungkan langsung menanyakan rencana dari Fang Mu. Dengan analisa sedetail itu, rasanya mustahil jika Fang Mu tidak memiliki rencana.
Fang Mu tersenyum tipis, dirinya menyadari sudah terlalu membuka diri dan menunjukkan kemampuan yang seharusnya tidak di miliki oleh anak seusianya, tetapi kali ini Fang Mu tidak memiliki pilihan lain.
"Tetua, aku berencana untuk mencari bantuan pada sekte-sekte terdekat, karena dengan kemampuan yang kita miliki saat ini rasanya mustahil bisa mengimbangi kekuatan musuh.
Aku memperhitungkan jika untuk melarikan diri, mungkin kita memiliki kemampuan itu, tetapi kita tidak memiliki persediaan bekal yang cukup," jelas Fang Mu.
Wan Susu yang mendengar penjelasan Fang Mu hanya mengangguk-angguk, Wan Susu terkagum-kagum dan merasa seperti mendengarkan penjelasan, serta rencana dari seseorang yang sudah mengarungi rimba persilatan puluhan tahun dan merasakan asam pahitnya kehidupan.
"Aku baru bisa bergerak jika Tetua Wan memberi izin," kata Fang Mu menutup penjelasannya.
__ADS_1
"Lakukanlah, tapi tetap jaga keselamatan dirimu. Ingat, kalian semua adalah tanggung jawabku, jika kau terluka parah, penjelasan apa yang akan ku berikan pada Tetua Xiao nanti," Wan Susu merasa tidak ada alasan baginya untuk mencegah Fang Mu untuk mulai bergerak dan menjalankan rencananya itu.
"Aku mengerti, Tetua. Aku akan menjaga diriku dengan baik selama perjalanan... "
Setelah itu, Fang Mu juga tidak lupa memberikan peringatan kepada Wan Susu agar selalu berhati-hati dengan Wu Gu, karena sosok Wu Gu penuh tipu muslihat dan licik. Fang Mu tidak lupa berpesan untuk tetap bersikap selayaknya mereka tidak mengetahui rencana dari Wu Gu itu.
"Tidak usah khawatir mengenai hal itu. Sebenarnya aku juga sudah menyadari beberapa kejanggalan saat kita tiba di Kota Guhan. Walikota itu masih bisa bersikap tenang di tengah matinya Kota Guhan, aku juga sudah memiliki rencana membawa kalian semua pergi malam ini, tapi melihat rencanamu, aku yakin kau sudah memperhatikan dan memperhitungkan semuanya, jadi jalankan sesuai dengan rencanamu.
Tang Yu dan Yu Xun aku akan menjaganya dengan baik," Ujar Wan Susu.
Fang Mu mengangguk, dia juga berpikir seperti itu. Selain itu rasanya mustahil jika Wan Susu tidak merasa aneh dan janggal kala melihat keanehan Kota Guhan ini.
***
"Tetua Wu, bukankah ini terasa begitu aneh?" Tanya salah satu Tetua Sekte Siluman Iblis itu.
"Tetua Lu meragukanku?" Wu Gu menaikkan alisnya mendengar pertanyaan itu, dia merasa tetua itu tidak percaya dengan informasi yang di sampaikannya.
Ruangan pertamuan itu seketika menjadi panas. Wu Gu tanpa ragu berusaha menekan orang yang di panggilnya Tetua Lu itu dengan hawa pembunuh miliknya.
"Apa untuk mengadu kekuatan aku mengumpulkan kalian di tempat ini," seseorang yang memiliki suara serak itu membuka suara.
Wu Gu dan Tetua Lu langsung menundukkan kepala. Tidak ada yang berani bersuara untuk beberapa saat. Pemilik suara itu tentu tidak lain dan tidak bukan adalah Ketua Sekte Siluman Iblis yang sangat di hormati oleh semua pendekar yang ada di dalam ruangan itu.
__ADS_1
"Maafkan aku, Tetua... " Wu Gu dan Tetua Lu dengan kompak meminta maaf.
Laki-laki itu menganggukkan pelan, "Aku sangat senang mendengar informasi yang kau bawah Wu Gu, tetapi apa yang di sampaikan oleh Lu Gu adalah benarnya. Sangat aneh jika Tetua dari Sekte Gunung Naga tidak menaruh curiga... "
"Aku sungguh tidak bermaksud menyinggung kinerjamu Tetua Wu, tetapi aku hanya berhati-hati dan tidak ingin apa yang sedang kita rencanakan gagal karena kecerobohan kita bersama," sahut Tetua Lu Gu.
Wu Gu menarik nafas panjang, dia tentu masih sulit menerima keraguan itu, tetapi Wu Gu tidak mungkin membantah apa yang sudah di katakan oleh Ketua Sekte Siluman Iblis ini.
"Aku akan memastikannya lebih jauh, Ketua. Ketua tidak perlu khawatir, aku yakinkan jika rencana kita ini akan berhasil dan Sekte Siluman Iblis akan kembali berdiri dan di segani oleh rimba persilatan seperti ratusan tahun silam," kata Wu Gu.
Laki-laki paruh baya itu menganggukkan kepalanya, dia dapat merasakan ambisi besar dari perkataan Wu Gu. Laki-laki paruh baya ini bernama Lu Kang Ketua Sekte Siluman Iblis yang memiliki kemampuan pendekar raja tahap akhir. Lu Kang adalah sosok yang menemukan teknik pengendalian siluman sebagai senjata mereka.
"Wu Gu, pastikan semuannya dengan baik. Karena ini akan menentukan nasib sekte kita... " Perintah Lu Kang.
"Baik, Ketua."
"Lu Gu, apa kau sudah berhasil memberikan perhitungan kekuatan yang di miliki oleh para pendekar itu? Terutama pendekar sabit emas itu?" Tanya Lu Kang.
Lu Gu menganggukkan kepalanya, dia lantas menjelaskan jika Wan Susu atau Pendekar Sabit Emas itu memiliki kemampuan pendekar raja, sementara tiga orang yang di bawahnya memiliki kemampuan di bawah Wan Susu.
"Hanya saja, ada yang sedikit mengganjal, ketua. Salah satu dari murid pendekar sabit emas itu sangat kejam dalam menghabisi lawan bertarungnya. Serigala Merah yang kita utus harus tewas dengan tubuh tercabik-cabik, benar-benar tidak mencerminkan pendekar aliran lurus yang sebisa mungkin menghindari pertumpahan darah. Tapi sosok ini seperti menikmati pertumpahan darah itu... " Lu Gu menjelaskan.
"Sosok yang menikmati pertumpahan darah?" Tanya Lu Kang.
__ADS_1
"Benar sekali, Ketua. Aku yang menyaksikan langsung pertarungan itu bergedik ngeri, aku rasa selain pendekar sabit emas, sosok ini harus kita perhitungkan juga ... "