
Yun Yun menyadari jika Fang Mu tidak berada dalam forum Bangsawan Yun itu, selain itu Yun Yun juga memudahkan jika Fang Mu memiliki kemampuan yang sangat tinggi di antara dua murid lainnya, di tambah lagi Fang Mu memiliki wajah yang rupawan yang selalu membuat banyak jantung perempuan yang menatapnya berdesir saat itu pula.
Yun Yun menemukan Fang Mu berada di balkon lantai atas. Yun Yun sangat percaya diri dengan kecantikan yang di milikinya memilih untuk menghampirinya Fang Mu. Dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri jika dia menaruh rasa suka saat pertama kali bertemu dengan Fang Mu.
"Tuan sepertinya anda sangat menyukai kota Wutan," tegur Yun Yun sambil memberikan satu guci teh galaxy untuk Fang Mu, "Aku membawakan teh hangat untuk menemani malam anda tuan," tambah Yun Yun.
"Terima kasih, Nona. Maaf jika kami sudah merepotkan anda dan keluarga," sahut Fang Mu tanpa mengalihkan pandangannya.
"Sudah sepantasnya kami melayani anda tuan, anda adalah tamu bagi kami ... "
Fang Mu tidak menanggapi lebih jauh, dia menikmati malam itu dengan di temani oleh satu guci teh galaxy dan Yun Yun yang memilih untuk menemaninya Fang Mu menghabiskan malam ini.
Keduanya yang awalnya canggung, seiring berjalannya waktu mulai lancar untuk saling berbincang. Fang Mu mengetahui jika Yun Yun begitu tertarik dengan silat, saat ini Yun Yun adalah terdaftar sebagai murid di dalam Sekte Pedang Ilahi, sebuah sekte kecil yang berdiri di dekat Kota Wutan ini. Yun Yun juga tanpa ragu menceritakan perkembangan ilmu silatnya, saat ini Yun Yun sudah mencapai kemampuan pendekar elit satu. Sebuah pencapaian yang fantastis untuk sekelas bangsawan di usia yang masih relatif muda. Yun Yun pasti di sebut seorang jenius di dalam Sekte Pedang Ilahi tersebut.
"Inti dari silat hanyalah latihan yang giat, banyak yang terlahir berbakat, tetapi tidak giat dalam berlatih, pada akhirnya akan gagal pula untuk mencapai puncak dari seorang pendekar, karena apa? Bakat mereka terkubur dengan kemalasan untuk berlatih dan terlalu puas dengan bakat besarnya saja," jelas Fang Mu.
Yun Yun menganggukkan kepala, dia mendapatkan pencerah mendengarkan penjelasan singkat dari Fang Mu. Jika sebelumnya Yun Yun pesimis untuk menjadi seorang pendekar hebat, tetapi dengan penjelasan dari Fang Mu, membuat dia percaya jika tiada takdir yang tidak bisa di rubah, jika di awali dengan niat dan kerja keras.
"Terima kasih atas penjelasannya, tuan. Aku merasa tercerahkan, aku tidak akan melupakan bantuan anda ini," kata Yun Yun.
__ADS_1
Fang Mu hanya tersenyum tipis, dia merasa hanya sekedar memotivasi Yun Yun, tiada yang lain. Baginya motivasi seperti itu sudah sangat umum di rimba persilatan.
Fang Mu dan Yun Yun tanpa sadar akhirnya menghabiskan malam itu bersama-sama, dengan saling bertukar cerita. Yun Yun semakin di buat terpukau dengan sosok Fang Mu, dia bertekad untuk menjadi kuat agar bisa bertemu dengan Fang Mu di masa depan. Entah kenapa, Yun Yun memiliki firasat jika Fang Mu akan sangat begitu terkenal di masa depan nanti sebagai seperti pendekar kenaman.
Yun Yun menceritakan banyak hal kepada Fang Mu, seolah mereka sudah sangat akrab dan mengenal dalam waktu yang lama.
Yun Yun menceritakan jika ibunya tewas di tangan seorang pendekar aliran sesat saat dia masih berusia belia, oleh sebab itulah sejak kecil Yun Yun bertekad untuk menjadi seorang pendekar demi melindungi orang-orang yang di sayanginya.
"Itu semua sudah takdir sang pencipta, kita hanya perlu memperbaiki sesuatu di masa depan... Dan, kau sudah melakukannya sejak awal," kata Fang Mu memberi semangat kepada Yun Yun, karena dirinya merasa memiliki tujuan yang sama untuk bertahan hidup, yaitu melindungi orang-orang yang dirinya sayangi. "Berlatihlah dengan giat, karena aku yakin dirimu cukup berbakat untuk menjadi seorang pendekar. Dan konsumsi dua sumber daya ini jika kau sudah mencapai kemampuan pendekar ahli," tambah Fang Mu seraya memberikan ginseng Teratai Biru dan Rumput Suci kepada Yun Yun.
"Tuan, ini terlalu berlebihan," Yun Yun menolak pemberian dari Fang Mu, karena menurutnya ini semua terlalu berlebihan dan bernilai sangat mahal.
Yun Yun akhirnya mengalah dan menerima pemberian dari Fang Mu, dia bertekad akan membalas kebaikan Fang Mu di masa depan nantinya.
Malam itu berakhir dengan Yun Yun tertidur bersandar di bahu Fang Mu. Fang Mu yang merasa tidak enak hati, memilih untuk tidak mengganggu tidurnya Yun Yun.
***
Matahari bersinar dengan terang, kicauan burung dari hutan terdengar begitu merdu. Sebuah pemandangan yang sangat indah di Kota Wutan di pagi hari.
__ADS_1
Gu Wunfai menjadi berang saat menemukannya Yun Yun tertidur di bahu Fang Mu atau lebih tepatnya keduanya tertidur bersama di balkon atas.
Gu Wunfai yang berang tidak mampu berbuat lebih, selain mengumpat kesal. Dia tentu ingat betul bagaimana kejamnya Fang Mu membantai Shinobi malam itu.
"Maafkan aku, Tuan Besar. Aku sungguh tidak bermaksud melalui hal itu, tetapi nona muda tertidur malam itu, aku hanya tidak ingin mengganggu tidur nyenyak nona muda ini," Fang Mu memberikan penjelasan kepada Yun Jun, agar tidak tercipta kesalahpahaman di antara mereka.
Yun Jun tentu tidak merasa berang, dia malah merasa senang karena puterinya memilih kedekatan dengan Fang Mu sebagai pendekar muda yang di yakini memiliki masa depan cerah di rimba persilatan dan khususnya Benua Teratai.
"Aku tidak mempermasalahkan hal itu, tuan." Yun Jun membalas dengan singkat, dia tidak ingin terlalu bertele-tele yang akan menyinggung pihak-pihak tertentu.
Fang Mu hanya tersenyum tipis, ketegangan itu akhirnya berakhir dengan Wan Susu yang mengutarakan rasa terima kasihnya karena telah di perkenankan untuk bermalam di kediaman Bangsawan Yun secara cuma-cuma. Wan Susu juga tidak lupa memberikan ucapan terimakasihnya juga untuk Gu Wunfai.
"Tuan Besar Jun, kami pamit untuk segera melanjutkan perjalanan, karena ada misi yang harus segera kami selesaikan... " Kata Wan Susu langsung ke poin utama.
"Jika memang itu sudah menjadi keputusan anda tuan, aku tidak bisa mencegahnya. Pintu rumah Bangsawan Yun selalu terbuka jikalau tuan-tuan ingin berkunjung ataupun sekedar singgah kembali," Yun Jun tetap berusaha untuk menjalin ikatan di antara mereka.
Wan Susu menganggukkan kepalanya, "Tuan Muda Gu, kami pamit. Aku harap anda kembali dengan selamat ke Ibukota,"
Gu Wunfai menganggukkan kepalanya, seraya kembali memberikan ucapan terimakasihnya kepada Wan Susu yang sudah mengawal dirinya selama perjalanan.
__ADS_1