
Du Kao hanya bisa diam dan membisu. Rasanya ingin sekali dia menolak untuk masuk ke dalam Sekte Gunung Naga, akan tetapi dirinya tidak memiliki alasan yang kuat.
Du Kao sudah dapat membayangkan betapa menderitanya dirinya di dalam sekte itu nanti, Du Kao ingat betul bagaimana dirinya memerintah banyak murid yang di tugasnya berjaga di Kota Perak dengan sesuka hatinya. Firasat Du Kao mengatakan jika mereka semua akan menggunakan kesempatan ini untuk membalaskan dendamnya. Du Kao tentu tahu betul jikalau sudah masuk dan terdaftar sebagai murid di dalam Sekte Gunung Naga, maka tidak ada istilah keluarga bangsawan lagi, semuanya akan di sama ratakan, hanya ada posisi murid dan tetua.
"Kau dengar itu, Koa'er. Ayah yakin kau akan berkembang setelah menjadi murid di Sekte Gunung Naga, apalagi kau nanti akan menjadi penerusku, maka gunakan kesempatan ini untuk belajar... " Du Kai memberikan arahannya kepada putranya, agar membuat Du Kao tidak ragu dan bimbang melangkah masuk ke dalam Sekte Gunung Naga.
Du Kao yang sadar tidak memiliki alasan lagi untuk menolak, pada akhirnya hanya menganggukkan kepalanya, pertanda dirinya tidak keberangkatan untuk menjadi murid di Sekte Gunung Naga. Andai saja dirinya tidak terjebak dalam posisi seperti saat ini, masuk ke dalam Sekte Gunung Naga sudah barang tentu sebuah kebanggaan untukknya. Karena tidak banyak yang memilih kesempatan dapat menimba ilmu di Sekte Gunung Naga, biasanya hanya orang-orang pilihan saja yang bisa masuk ke sana.
"Aku akan belajar dengan baik, ayah. Aku tidak akan membuatmu kecewa untuk kedua kalinya," Du Kao menjawab sambil menekan rasa gemetar yang melanda dirinya.
"Tetua, mohon nanti putraku di arahkan dengan baik... Mungkin selama ini aku terlalu memanjakannya, tapi jika di sana nanti buatlah dia sama rata dengan murid pada umumnya,"
Mendengar permintaan dari Du Kai, semakin membuat Du Kao berkeringat dingin. Dirinya merasa akan memasuki hari-hari penuh akan siksaan dan neraka. Sesuatu yang dahulu tidak pernah dia bayangkan selama ini.
Setelah itu, Du Kai langsung mempersiapkan Rimbo Sekte Gunung Naga untuk segera menikmati semua sajian dan jamuan yang telah dia siapkan.
"Silahkan di nikmati, Tetua. Hanya ini yang bisa aku berikan untuk menyambut para Tetua sekalian,"
"Tidak perlu sungkan dan repot, ini semua sudah lebih dari cukup, kedatangan kami juga terkesan begitu mendadak," Wan Susu mengutarakan jika sambutan dari Du Kai sudah lebih dari cukup.
__ADS_1
Du Kai tersenyum puas, paling tidak suguhan dan jamuan ini dapat sedikit menjadi penyejuk setelah masalah yang menimpa Du Kao sampai mencoreng nama baiknya.
Tidak ada yang membuka pembicaraan dan bersuara saar menikmati hidangan itu, karena memang salah satu ajaran yang di terapkan di Sekte Gunung Naga adalah tidak bersuara dan berbicara di saat mulut sedang terisi penuh.
"Terima kasih atas semua suguhannya, Tuan Du. Kami izin pamit, karena ada misi yang harus kami selesaikan sebelum kembali pulang ke Sekte Gunung Naga," ujar Wan Susu menjelaskan jikalau mereka akan segera melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda beberapa waktu karena masalah yang melanda mereka ini.
Du Kai tidak berusaha untuk mencegah dan menunda perjalanan mereka lebih jauh. Dirinya harus segera menyiapkan perbekalan putranya yang akan menjalani rutinitas sebagai murid di Sekte Gunung Naga.
***
Rombongan Wan Susu bergerak cepat meninggalkan Kota Perak. Mereka merasa perjalanan sudah lama tertunda karena beberapa masalah yang mereka lewati, di tambah lagi mereka tidak tahu akan ada masalah apa lagi di depan sana nantinya.
Fang Mu terlihat cekatan menggunakan kudanya, seolah sudah sering berkelana ke banyak tempat, berbeda dengan dua murid lainnya, yaitu Tang Yu dan Yu Xun yang masih kaku dalam menunggangi kudanya yang terus bergerak cepat melanjutkan perjalanan.
'Tetua Xiao benar-benar menemukan murid yang bisa mengimbangi bakat yang di milikinya. Entah kenapa aku merasa murid Fang ini sangat berbeda dengan murid lainnya, dia terlalu pandai untuk anak seusia dengannya,' batin Wan Susu sambil terus menunggangi kudanya.
Tujuan mereka jelas sebuah kota yang sedang di landa teror dari siluman selama beberapa waktu terakhir. Menurut informasi yang mereka dapatkan dari walikota setempat, para siluman itu seperti di kendalikan oleh beberapa pendekar untuk menduduki kota kecil itu, sementara sekte kecil yang berdiri di wilayah itu sudah berusaha memberi perlawanan, tetapi semuanya gagal dan berakhir dengan tewas di tangan para siluman dengan mengenaskan.
"Tetua, apakah tempat yang kita tuju masih jauh?" Tanya Tang Yu yang terlihat mulai kelelahan terus menunggangi kuda sepanjang hari. Dia tentu belum terbiasa menempuh perjalanan sejauh ini, mengingat ini merupakan misi pertama juga baginya.
__ADS_1
"Kita akan tiba di lokasi setelah menempuh perjalanan 7 hari lagi... "
Tang Yu langsung lemas mendengar jawaban dari Wan Susu. Dua hari lagi, dirinya harus terus menunggangi kuda, jikalau boleh mengeluh Tang Yu sungguh butuh istirahat, fisiknya belum terbiasa menempuh perjalanan terlalu jauh.
"Kita akan istirahat setelah menemukan sungai," tambah Wan Susu saat menemukan raut wajah risau dari Tang Yu dan Yu Xun, tetapi tidak bagi Fang Mu yang semakin membuat Wan Susu berdetak kagum sekali lagi.
Setelah melanjutkan perjalanan cukup jauh, mereka akhirnya menemukan aliran sungai dan akan menjadi tempat peristirahatan kali ini.
Fang Mu langsung mengikat kudanya dan bergegas menuju sungai. Dirinya langsung membasuh mukanya, dan meneguk beberapa tegukan air untuk menghilangkan dehaganya selama perjalanan ini, begitu pula di ikuti oleh yang lainnya.
"Suasana hutan dan ketenangan yang di ciptakannya selalu membuat hati merasa tenang," ujar Fang Mu sambil bersandar di batang pohon yang menghadap ke arah air terjun yang tidak jauh dari lokasi mereka saat ini.
Fang Mu seolah kembali bernostalgia dengan kehidupan pertamanya, di mana dia menghabiskan banyak waktu di dalam hutan demi bisa menjadi kuat dan membalaskan dendamnya kepada semua pendekar yang sudah merenggut kebahagiaan tempo waktu dulu. Kali ini dengan kesepakatan yang di berikan Dewata padanya, Fang Mu bertekad untuk memperbaiki semuanya dan membalaskan semua kejahatan yang pernah di lakukan orang lain terhadap orang-orang yang di sayanginya.
Sementara itu, Yu Xun dan Tang Yu langsung bersandar di atas pohon, mereka tentu ingin beristirahat lebih dulu, tubuh mereka tidak biasa terlalu lelah seperti saat ini.
"Kalian harus cepat membiasakan diri, karena kalian akan terjun ke dalam dunia persilatan yang terkenal keji dan kejam. Hanya yang terkuat yang berhak membuat aturan," pesan Wan Susu kepada dua orang itu.
***
__ADS_1
Hai kak, akhirnya saya sedikit memberanikan diri menyapa kalian semua. Jangan lupa komen dan like ya kak.
Terimakasih. Salam hangat dari saya yang terlanjur mencintaimu yang memilih orang lain.