
Du Kao membuka matanya dengan berlahan-lahan, dia tidak ingat apa terjadi pada dirinya. Ingatan terakhirnya adalah dia sedang menaiki anak tangga yang sangat tinggi.
"Kau sudah siuman ternyata, kau tertidur dengan sangat nyenyak. Minumlah ini, ramuan ini bisa membuat tubuhmu kembali prima," Xiao Yan memberikan satu cangkir cairan berwarna hijau kepada Du Kao.
Du Kao tanpa merasa ragu langsung meneguknya dengan cepat, dalam satu tarikan nafas minuman itu sudah tidak bersisa setetes pun. Tubuh Du Kao terasa kembali memiliki tenaga dan stamina dengan cepat.
"Terima kasih guru, aku baru saja datang sudah merepotkan dirimu," kata Du Kao. Dia merasa obat yang di berikan oleh Xiao Yan adalah sesuatu yang mahal harganya.
Xiao Yan yang melihat hal itu tersenyum, "Jangan terlalu di pikirkan, itu bukan apa-apa."
Xiao Yan tidak lupa memberitahu jika mereka akan mulai latihan esok pagi. Jadi Du Kao harus mempersiapkan diri dengan baik. Selain itu, Xiao Yan juga sudah menyiapkan jubah Sekte Gunung Naga untuk Du Kao.
"Terima kasih guru, aku akan mempersiapkan diri dengan baik," kata Du Kao dengan semangat. Rasanya sudah tidak sabar menunggu esok hari dan mulai latihan untuk menjadi seorang pendekar.
Du Kao bangkit dari tempat tidurnya, dia beranjak keluar dari Vila Naga Muda milik Xiao Yan itu. Seketika darah Du Kao berenti mengalir untuk beberapa saat, dia benar-benar tidak terpesona dengan keindahan yang di sajikan oleh puncak gunung ini. Begitu indah, Du Kao juga bisa melihat jelas banyak pendekar yang sedang berlatih tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya saat ini.
"Aku masih merasa bermimpi bisa menjadi bagian dari sekte sebesar ini, bahkan menurut beritanya koki dan tukang bersih-bersih saja memiliki kenangan bela diri."
Satu yang membuat Du Kao bingung, dia tidak mendapatkan hukuman seperti yang dia bayangkan sebelumnya. Padahal sebelum berangkat, Du Kao memiliki firasat jika di dalam lontar yang di titipkan padanya itu berisi perintah untuk menghukum dirinya karena sudah berlaku tidak baik.
Du Kao menarik nafas panjang, dia lantas memilih untuk membersihkan diri dan merapikan Vila Naga Muda yang tampak sedikit berantakan karena sudah lama tidak di tempati setelah Fang Mu mengerjakan misi dan Xiao Yan sibuk mengurusi beberapa hal yang mendesak.
***
__ADS_1
Waktu berlalu dengan cepat, pagi-pagi sekali Du Kao sudah siap dengan menggunakan jubah Sekte Gunung Naga, ada kebanggaan di dalam sanubarinya bisa menjadi bagian dari sekte ini.
"Kau sudah siap, Koa'er?" Tanya Xiao Yan.
Du Kao mengangguk pelan, dia sudah siap sejak beberapa menit yang lalu.
"Aku sudah siap guru... "
Xiao Yan langsung mengajak Du Kao ke lapangan yang berada di lembah yang tidak terlalu jauh dari Vila Naga Muda. Xiao Yan menjelaskan jika latihan pertamanya adalah berlari mengelilingi kawasan Vila Naga Muda, jenis latihan yang tidak terlalu berbeda dengan yang di berikan kepada Fang Mu, tetapi yang membedakannya Fang Mu mengelilingi sekte sementara Du Kao hanya kawasan Vila Naga.
Du Kao langsung bergegas melakukan perintah dari Xiao Yan, tanpa membatah dan mempertanyakan mengenai latihan yang harus dijalaninya.
Xiao Yan yang melihat Du Koa merasa tidak salah jika dia akhirnya setuju mengangkat Du Kao sebagai muridnya, meskipun Du Kao sudah berusia cukup tua untuk menjadi pendekar, tetapi bagi Xiao Yan tidak ada kata terlambat untuk itu. Di rimba persilatan pun banyak pendekar pilih tanding yang baru belajar silat di usia yang bisa di katakan cukup tua, selama terus berlatih maka kemampuan akan terbentuk seiring berjalannya waktu.
"Ini semua untuk membentuk fisik dan pondasimu, kau harus berkerja keras untuk mengejar ketertinggalanmu dari yang lain," Xiao Yan tidak hanya memberi latihan fisik, dia juga menjelaskan manfaat dari setiap latihan yang di berikannya.
Du Kao tidak banyak cakap, dia hanya melakukan apa yang di perintahkan oleh Xiao Yan, selama itu mampu di lakukannya.
Xiao Yan senang dengan perkembangan yang di tunjukkan oleh Du Kao. Meskipun tidak secepat perkembangan Fang Mu, tetapi apa yang di tunjukkan oleh Du Kao adalah sebuah prestasi yang sulit untuk di lakukan murid lain pada umumnya.
Satu yang membuat kagum dari Xiao Yan, Du Kao sangat gigih dan ulet. Du Kao juga bercerita mengenai kehidupannya selama ini yang bergelimang harta dan membuat dia menjadi seorang pribadi angkuh dan sombong.
"Satu hal yang terpenting di dalam hidup ini, yaitu menyadari kesalahan kita itu sendiri. Sepele, cuma tidak semua orang bisa melakukannya," kata Xiao Yan.
__ADS_1
Du Kao hanya berisitirahat beberapa jam saja perharinya. Dia terus berlatih dengan giat, selain berlatih Xiao Yan juga tidak lupa menjelaskan tentang tingkatan dari seorang pendekar yang harus pula di ketahui oleh Du Kao. Selain itu, Xiao Yan tidak lupa pula memberikan pelajaran hidup agar ke depannya Du Kao menjadi seorang pendekar yang memegang teguh kebenaran dan membasmi kebatilan.
***
Setelah menyelesaikan misi di Kota Guhan, rombongan Wan Susu langsung kembali ke Sekte Gunung Naga. Dengan kemampuan Tang Yu dan Yu Xun yang sudah meningkat membuat mereka mampu berkerja lebih cepat dari sebelumnya.
"Anda sudah kembali, Tetua Wan," sambut salah satu murid yang berjaga di depan gerbang utama itu.
Wan Susu hanya tersenyum, mereka lantas masuk ke dalam sekte untuk melaporkan bahwa mereka sudah kembali dan menyelesaikan misi, serta menerima gaji berupa sumber daya dan koin emas dari sekte.
"Seperti biasanya, anda menyelesaikan misi dengan baik, tetua," puji Wan Wu yang berkerja di bidang admistrasi dan pusat misi.
Wan Susu hanya tersenyum tipis, dia lantas langsung menyimpan bayaran yang di terima atas misi yang sudah berhasil di kerjakannya.
Hal yang serupa pula di lakukan oleh Fang Mu dan yang lainnya. Setelah memberi laporan ke pusat misi, mereka di perbolehkan untuk kembali ke kediaman masing-masing.
Khusus untuk Du Kao, Wan Susu sudah mengetahui jika anak Walikota Perak itu berada di bawah bimbingan Xiao Yan yang bertindak sebagai guru utamanya.
"Sampai bertemu di misi lainnya, Fang gege," kata Yu Xun sambil menundukkan kepalanya.
"Tentu, aku harap kau terus berlatih dan menjadi pendekar hebat di masa depan. Aku titip salam untuk Tetua Yu, katakan padanya aku akan secepatnya mengunjunginya setelah istirahat,"
Yu Xun mengangguk pelan, sebelum berlari kecil meninggalkan Fang Mu.
__ADS_1