
Terowongan yang di buat oleh Fang Mu itu terhubung dengan lembah yang berbatasan langsung dengan hutan kematian.
Langkah kaki Fang Mu terlihat sangat cepat, bahkan mungkin lebih cepat dari berlarinya orang dewasa pada Umum. Hal ini tentu di dasari oleh Fang Mu yang memang sudah menguasai salah satu ilmu meringan tubuh, Langkah Naga Angin.
Selama beberapa waktu terakhir Fang Mu memang sudah mempelajari ilmu meringankan tubuhnya secara sembunyi-sembunyi dari Xiao Yan. Fang Mu tentu mempersiapkan semua itu untuk hari ini, hari di mana dirinya harus menuju lembah angin untuk memperlancar kemampuannya.
"Langkahku masih sangat lambat," gumam Fang Mu sambil memperhatikan kaki-kaki kecilnya itu terus bergerak. Terkadang Fang Mu merindukan kemampuannya pada masa puncaknya.
"Aku pasti akan memiliki kemampuan yang sama, bahkan jauh lebih kuat jika terus berlatih dengan giat." Tambah Fang Mu, tanpa menghentikan langkah kakinya itu.
Setelah berlari cukup lama, sinar berwarna putih terlihat di ujung lorong, menandakan jika dia akan segera keluar dari terowongan panjang ini.
Hutan lebat nan rimbun menjadi pemandangan pertama yang di jumpainya saat keluar dari terowongan panjang itu.
"Hutan kematian, tidak ada yang berubah dari kehidupan pertamaku," Fang Mu memandang hutan kematian di hadapannya.
Fang Mu menarik nafas panjang, sebelum berjalan memasuki hutan kematian itu.
Suasana dan hawa langsung berubah drastis. Hawa dingin dan lembab langsung terasa di dalam hutan kematian itu.
"Aura dan hawa di dalam hutan ini memang sangat berbeda dengan hutan lain pada umumnya,"
Fang Mu dengan cekatan bergerak memasuki hutan kematian itu. Dia merasa hutan ini masih sangat misterius, sekalipun di kehidupan pertamanya dulu, dirinya menghabiskan beberapa tahun di tengah hutan kematian, lebih tepatnya Lembah Angin. Namun tetap saja, masih terlalu banyak misteri yang belum terpecahkan di dalam hutan kematian ini.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Fang Mu terus meningkatkan kewaspadaan, karena di dalam hutan kematian ini terdapat banyak siluman yang mengimaninya. Semakin dalam masuk ke hutan kematian, maka semakin kuat pila siluman yang akan di temui.
Fang Mu yang sudah menjelajahi hutan kematian di kehidupan pertamanya, tentu mengambil beberapa jalur aman guna menghindari pertarungan yang tidak perlu terjadi. Beberapa kali juga Fang Mu mengubah arah perjalanannya saat merasakan aura siluman yang kuat di depan sana.
Gerrrr!!!
Fang Mu menghentikan langkahnya saat di depan sudah terdapat tiga ekor harimau putih. Tiga ekor harimau putih itu sedang dalam masa berevolusi untuk menjadi siluman, jadi hawa kehadirannya tidak terdeteksi oleh Fang Mu. Meski belum menjadi siluman, tetapi tetap saja tiga ekor harimau itu merupakan lawan yang tangguh.
Merasa tidak memiliki kesempatan lagi untuk melarikannya diri, Fang Mu bersiap dengan memasang kuda-kuda tarungnya, serta menarik pedang dari selongsongnya yang berada di punggungnya.
Benar saja, di detik kemudian tiga harimau itu bergerak menerkam Fang Mu. Fang Mu bereaksi dengan menggulingkan tubuhnya ke samping, di saat yang bersamaan Fang Mu mengayunkan pedangnya berusaha memberikan tebasan pada tubuh harimau itu.
Namun harimau itu yang sudah berevolusi menjadi sangat cepat dan gesit. Fang Mu yang sudah menduga akan hal itu, tentu tidak terlalu terkejut.
"Mereka terlalu cepat, tidak heran karena mereka sudah berevolusi," pikir Fang Mu.
Fang Mu memang berhasil mendaratkan beberapa kaliĀ tebasan, akan tetapi luka yang tercipta tidak terlalu dalam karena kulit tiga harimau itu jauh lebih keras dari kulit harimau pada umumnya. Fang Mu sangat menyayangkan dirinya belum memiliki tenaga dalam, jika Fang Mu sudah memiliki tenaga dalam sedikit saja, maka tiga harimau ini bukan lawan yang merepotkan baginya.
Fang Mu membutuhkan waktu yang tidak sebentar, sebelum dia berhasil mengalahkan tiga harimau itu. Meksiko berhasil mengalahkan tiga harimau itu, Fang Mu juga menderita luka, akibat dari cakaran yang di buat oleh tiga harimau itu.
Dua luka di bagian punggung terasa sangat perih, sesuatu yang sudah sangat lama sekali tidak pernah Fang Mu rasakan.
"Aku masih sangat lemah," gumam Fang Mu sambil bersandar di batang pohon. Fang Mu meneguk habis air di dalam gentong bambu yang di bawahnya itu, itu merupakan persediaan air terakhirnya.
__ADS_1
Setelah di rasa tenaga dan stamina sudah kembali, Fang Mu kembali melanjutkan perjalanan, tetapi kali ini jauh lebih berhati-hati. Dirinya tidak ingin kembali bertemu dengan kawanan harimau ataupun hewan lainnya, karena akan sangat merepotkan terus bertarung dengan mereka semua.
Satu hal yang pasti, apapun yang hidup di dalam hutan kematian ini pastilah memiliki kemampuan di luar nalar, kekuatan hewan buas saja berkali lipat lebih kuat dari hewan buas yang berada di luar hutan kematian. Samar-samar Fang Mu terbayang kenangan di hutan ini, bagaimana dia menghabiskan waktu berburu hewan buas di dalam hutan kematian untuk meningkatkan kemampuan fisiknya dan menambah pengalaman bertarungnya sebelum muncul dan menggetarkan dunia persilatan kala itu.
"Aku harus cepat, sepertinya hari sudah mulai gelap... "
Fang Mu mempercepat langkahnya, paling tidak sebelum malam tiba dirinya sudah berada di Lembah Angin, karena terlalu beresiko jika harus bermalam di tengah hutan kematian yang di penuhi bahaya yang bisa mengancam keselamatannya.
Langit telah berganti warna, matahari sudah hilang dan telah berganti tugas dengan sang rembulan yang di temani bintang untuk menyinari dunia. Burung-burung telah kembali ke sarangnya, akan tetapi Fang Mu masih terlihat bergerak cepat membelahnya kesunyian.
"Sial, kenapa jaraknya jauh sekali... Apa mungkin aku yang sedikit lupa," gumam Fang Mu, tanpa menghentikan kakinya.
Fang Mu akhirnya mengalah, dia merasa sudah tidak memungkinkan lagi terus berjalan di tengah gelapnya malam, apalagi di dalam hutan kematian yang kegelapannya melebihi gelapnya dunia di luar hutan ini.
Fang Mu bersandar di salah satu pohon, dirinya mulai mengeluarkan perbekalan yang di bawahnya. Selain itu, tidak lupa Fang Mu jufa mulai menyalakan api unggun sebagai penerangan. Tentunya, berguna pula untuk membakar daging kering yang di bawah oleh Fang Mu, agat cita rasanya lebih terasa.
Namun, tanpa di sadari oleh Fang Mu, jika cahaya yang di hasilkan oleh api unggun itu akan mendatangkan banyak masalah.
Sinar yang terang di tengah gelapnya malam, sudah barang tentu mengundang banyak hewan buas untuk mendatangi tempat itu, bukan hanya hewan buas saja, tetapi beberapa siluman ikut bergerak menuju lokasi tempat api unggun itu berasal.
Roarrr!!
Gerrr!!!
__ADS_1
Auummm!!!
Beberapa suara hewan buas itu membuat Fang Mu tersadarkan jika tindakannya kali ini benar-benar mengundang banyak lawan. Fang Mu lupa jika dia ternyata belum tiba di Lembah Angin.