
Suara kecimpung air diselingi gelak tawa segar membuat seorang pria hentikan larinya. Dia memandang ke arah datangnya suara tersebut.
Sekali melompat, tubuh pria ini melayang ke atas dan hinggap ringan di sebuah cabang pohon besar. Matanya menyorot ke arah aliran sungai, dari kejauhan dia melihat ada tiga gadis sedang asyik mandi sambil bergurau.
“Baguslah aku tak perlu repot-repot lagi pergi ke perkampungan untuk mencari mangsa.” Kata pria itu dalam hati. Bibirnya menyeringai penuh arti.
“Tapi ada baiknya aku bersenang-senang dengan mereka. Aku sudah lama tak merasakan mulusnya tubuh wanita.” Sekujur tubuh pria itu menjadi menegang. Darahnya mengalir lebih cepat dan kobaran n*fsu merayapi badannya mulai dari ubun-ubun sampai ke kaki. Tidak menunggu lebih lama dia segera berkelebat ke arah datangnya suara kecimpung air dan gelak tawa tadi.
Pria ini kemudian melompat turun, berjalan mengendap-endap mendekat ke sungai. Di balik satu pohon besar, di belakang rerumpunan semak belukar lebat, pria tersebut mendekam tak bergerak, matanya membesar tak berkedip. Di depan sana, di lekuk tanah yang agak menurun, tiga orang gadis tengah bersenda gurau di dalam sebuah sungai berair jernih dan sejuk. Ketiganya berwajah lumayan cantik dan semok. Mereka hanya mengenakan kain yang membalut dada sampai sebatas lutut.
Pria itu menelan ludah, dengan tatapan penuh n*fsu di pandanginya punggung, bahu bagian atas serta dada yang putih tersingkap. Tiga gadis tersebut sepertinya tinggal di satu desa yang tak jauh dari situ.
Selesai mencuci pakaian yang mereka bawa, merekapun lantas mandi membersihkan diri sambil bersenda gurau. Karena mengira di tempat itu tidak ada orang lain selain hanya mereka bertiga, para gadis di dalam sungai bergurau sampai-sampai melewati batas. Salah seorang dari mereka dengan jahil menarik lepas kain yang membalut di tubuh kawannya hingga tubuh gadis ini tersingkap polos sampai ke pinggul. Dua kawannya tertawa bergelak sementara si gadis yang dijahili kelabakan menggapai kain panjangnya sambil berusaha menutupi dua buah dadanya yang putih kencang.
Melihat kejadian yang menggairahkan tersebut, pria yang mengintip dibalik semak-semak menjadi belingsatan. Sekali melompat saja dia sudah berada di tengah sungai, tegak berdiri di atas sebuah batu besar.
“Gadis-gadis cantik! Apa aku boleh ikut mandi dan bersenang-senang dengan kalian?”
Sontak ketiga gadis di dalam sungai terperanjat kaget. Yang tadi lepas kain panjangnya terpekik keras, untung dia sudah berhasil menarik ujung kainnya dan cepat-cepat menutupi auratnya yang tersingkap. Tiga gadis itu serentak saling mendekat, memandang ke arah orang di atas batu penuh rasa kejut dan juga takut.
“Taysu, kau kenal orang itu?” Bisik gadis sebelah kanan.
Gadis di tengah yang dipanggil Taysu gelengkan kepala. Lalu katanya dengan nada membentak. “Kau siapa?! Lancang sekali mengintip wanita mandi!”
“Kalian tak perlu tau siapa aku,” Pria itu tersenyum penuh arti “Hari ini kalian akan bernasib baik. Kalian beruntung akan mendapatkan kenikmatan dariku yang tiada tara.”
__ADS_1
Selesai berkata pria itu langsung ceburkan diri masuk ke dalam sungai.
Tiga gadis menjerit, cepat-cepat jauhkan diri. Salah seorang dari mereka yang berada di sebelah kiri berteriak keras.
“Keparat! Lekas pergi dari sini manusia kurang ajar!”
“Pergilah cepat! Kalau kami beritahu pada Kepala Desa tentang ini. Kau pasti akan dihajar habis-habisan!” Berteriak pula gadis ketiga sebelah kanan.
Pria itu mendongak lalu tertawa bergelak. Tiga gadis tersebut merinding ngeri mendengar tawa pria itu, pendengaran mereka berdengung dan kepala serasa mau pecah.
“Aku biasa dipanggil dengan sebutan Cakar Bayangan, Kalian bertiga harusnya merasa beruntung karena aku sudi mandi di sungai bersama kalian!”
“Cakar Bayangan? Huh, kau lebih pantas di panggil cakar ayam.”
Pria itu melengak kaget. Tampangnya mengelam merah padam. Seumur hidup baru kali ini dia menerima hinaan seperti itu. Dia mengusap wajahnya. Rahangnya menggembung. Pantang baginya dimaki seperti itu. Kalau bukan karena ada niat ingin menikmati gadis-gadis tersebut, ingin rasanya dia menuruti amarah. Di cabik-cabiknya tubuh mereka sampai tak berbentuk lagi.
“Gadis keparat! Beraninya kau menghina diriku! Kau korbanku yang pertama!” Teriak Cakar Bayangan. Sekali bergerak dia sudah berada di hadapan gadis sebelah kiri, dirangkulnya gadis ini penuh amarah juga penuh n*fsu.
“Jahanam kurang ajar! Lepaskan! Lepaskan!” Gadis itu meronta-ronta, takut juga marah. Sepasang kakinya melejang-lejang dan tangannya dipukulkan ke punggung Cakar Bayangan ketika pria itu memanggul tubuhnya.
Dua temannya menghambur coba menolong, namun mereka tak berdaya. Tangan kiri Cakar Bayangan dengan cepat menotok mereka hingga membuat mereka tak mampu bergerak tak mampu bersuara.
Seringai kemenangan tersungging di bibir Cakar Bayangan lantas diapun berkata. “Kalian sabarlah di sini. Setelah selesai dengannya, kalian akan mendapatkan giliran!”
Cakar Bayangan tertawa bergelak sambil memanggul tubuh gadis tersebut ke tepi sungai. Di satu tempat yang rata gadis itu dilemparkannya ke tanah. Sambil menahan sakit gadis itu berusaha bangkit melarikan diri tapi Cakar Bayangan lebih cepat dan langsung menindihnya.
__ADS_1
Di dalam sungai Taysu dan temannya pejamkan mata tak kuasa menyaksikan kekejian yang dilakukan pria yang mengaku Cakar Bayangan terhadap kawan mereka. Mereka bergidik ngeri manakala membayangkan bahwa kekejian itu pasti akan menimpa pula atas diri mereka.
Puas melampiaskan n*fsu bejatnya, Cakar Bayangan melompat masuk kembali ke dalam sungai.
“Sekarang giliranmu! Tenang saja, aku masih sanggup bermain-main hingga seharian. Bukankah kalian akan puas! Ha.. ha.. ha..”
Cakar Bayangan mendekati gadis disebelah Taysu. Melepaskan totokan yang membuat kaku serta gagu si gadis. Begitu totokan pada gadis itu terlepas, gadis itupun langsung menjerit dan meronta-ronta berusaha sekuat tenaga memberontak lepaskan diri.
“Jangan! Jangan lakukan itu padaku! Lepaskan! Bunuh! Lebih baik bunuh saja aku! Binatang! Jahanam!”
Di atas batu datar di tepi sungai yang tak jauh dari sosok gadis yang tergeletak pingsan, Cakar Bayangan lemparkan tubuh gadis yang dibawanya hingga terjengkang terlentang.
Belum sempat gadis ini berusaha melakukan sesuatu untuk menyelamatkan diri, pria bejat itu telah menindih tubuhnya. Si gadis menjerit panjang. Menjerit dan menjerit. Satu ketika jeritannya terhenti. Lalu terdengar satu pekik keras. Setelah itu terdengar suara tangis si gadis menyayat hati lalu hening. Si gadis entah pingsan entah mati.
“Gadis tolol! Harusnya kau berterima kasih padaku karena telah memberikan kenikmatan dan tidak membunuhmu! Tubuhmu sangat nikmat sekali. Sayang aku tak butuh lagi dirimu.” Kata Cakar Bayangan. Sambil menyeringai dia putar tubuhnya, memandang ke arah Taysu yang berdiri tegak di sungai.
Taysu mendelik, wajahnya pucat pasi dan keringat dingin mengucur membasahi wajahnya. Ketika Cakar Bayangan melangkah di dalam sungai mendekatinya, rasanya dia ingin bunuh diri saja saat itu. Dia ingin sekali menjerit tapi mulutnya terkancing kaku. Begitu Cakar Bayangan melepas totokan di tubuhnya, gadis ini langsung meratap.
“Tidak... Jangan... Ku mohon jangan lakukan...”
“Demi Tuhan jangan.... Aku... aku anak kepala desa. Ayahku orang berada. Kalau kau mau melepaskan diriku, aku berjanji akan memintakan apa saja untukmu. Emas, Tanah, ladang, sapi...”
Cakar Bayangan tertawa, di belainya pipi Taysu. “Karena kau gadis baik dan ayahmu orang berada, aku akan memperlakukanmu dengan baik pula! Nikmati saja, kau pasti menyukainya.”
Tiba-tiba Cakar Bayangan tertegun sesaat, dia teringat sesuatu. “Daripada aku mencari gadis perawan lagi, lebih baik yang ini aku serahkan ke patriark.”
__ADS_1