Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Akhir Dari Sang Panglima Hewan Iblis


__ADS_3

Salah seorang sosok bercadar melesat menerjang. Kedua jari tangannya menusuk cepat ke dada kera raksasa. Angin menderu nyaring mengiringi tibanya serangan itu.


Kera raksasa cepat ulurkan tangan kirinya ke depan, lalu dengan gerakan berputar dia sapukan gadanya untuk menangkis! Sosok bercadar dibuat terhempas, kera raksasa sendiri buru-buru melompat khawatir akan adanya serangan susulan  dari sosok bercadar lainnya.


Dalam satu tarikan nafas kera raksasa tersebut telah melayang jauh di udara. Dengan begitu dia memiliki cukup ruang untuk memudahkan dirinya bergerak leluasa.


Tetapi kera raksasa ini tidak memiliki cukup waktu untuk memulihkan kondisi serta energinya yang sedikit tidak stabil. Karena saat itu juga belasan sosok bercadar sudah melesat memburu ke arahnya berada.


Belasan bayangan Arya melesat bagaikan kilatan petir, mereka langsung menghujamkan serangan demi serangan yang mengandung energi dahsyat.


Yang di serang tidak tinggal diam, kera raksasa segera ciptakan perisai energi untuk melindungi sekujur tubuhnya dan sesekali kirimkan serangan balasan jarak jauh. Namun segala usahanya tidak cukup menyelamatkan tubuhnya dari ancaman gempuran serangan bak layaknya curahan hujan tersebut. Meski tidak mengalami luka-luka serius namun tubuhnya dipaksa terdorong kian kemari oleh benturan serangan lawan.


Semua orang dapat melihat kejadian menakjubkan! Di atas awan terlihat kilasan cahaya warna-warni sambar menyambar, membuat udara sekejap dingin sekejap panas. Bentrokan energi tersebut mengakibatkan letupan-letupan terus menerus seperti gelagar Guntur merobek angkasa. Deruan angin deras menerpa membuat suasana seolah sedang di landa badai.


Tak terasa matahari kian meninggi, sudah ratusan jurus telah berlangsung. Sosok bercadar merasa lelah bercampur kesal. Lelah karena harus mengerahkan segenap energi. Kesal karena setiap kali lawan dirobohkan, tahu-tahu balik menyerang. Lama kelamaan rasa lelah membuat serangan gabungan mereka mulai kacau. Sementara kera raksasa sendiri tampak babak belur, beberapa bagian tubuhnya mengalami lebam-lebam namun hewan iblis ini terlihat masih sanggup mempertahankan diri. Sungguh ketahanan tubuh yang luar biasa!


“Tak lama lagi, ajal kalian akan tiba. Hahaha! Tidak ada seorang pun yang akan ku biarkan hidup, setelah membuatku seperti ini!” Kera raksasa mulai merasa di atas angin sebab menyadari para lawannya telah melemah dan kehabisan energi.


Kera raksasa ini lantas mendahului menyerang, dia tahu bahwa selama lawannya masih bersatu dan diberi waktu untuk memulihkan diri, mereka sulit dikalahkan. Maka hewan iblis ini kerahkan semua kekuatannya untuk menghancurkan pertahanan barisan lawan. Setelah itu dia langsung menyerang lawannya satu persatu.


Para bayangan Arya yang pada dasarnya kalah dalam segi kultivasi jelas saja tidak bisa mengimbangi kekuatan kera raksasa tersebut, terlebih kondisi mereka sudah tidak lagi prima. Pada akhirnya satu persatu bayangan Arya musnah, dan kini hanya tersisa kurang dari sepuluh.


Ketika kera raksasa hendak menghantamkan gadanya ke salah seorang bercadar, mendadak tubuh sosok bercadar itu memancarkan sinar emas menyilaukan. Hal itu sedikit mengacaukan konsentrasi dan energi kera raksasa.


Traaaangg...


Ayunan gada telak menghantam sosok bercadar, namun cahaya keemasan yang menyelubungi tubuhnya dapat meredam daya hantam sapuan gada besar tersebut.

__ADS_1


Cepat-cepat kera raksasa menarik diri menjauh, dia tidak mau bertindak ceroboh, apalagi saat itu di sekitarnya para lawannya sedang melesat ke arahnya, beberapa diantaranya bahkan kirimkan serangan jarak jauh.


“Grrr...”


Kera raksasa menggeram keheranan, cahaya keemasan ternyata tidak hanya menyelimuti seorang lawannya yang di hantamnya tadi, melainkan cahaya yang serupa juga menyelimuti semua sosok bercadar lainnya.


Apa yang terjadi? Cahaya keemasan itu ternyata adalah energi kiriman dari Arya untuk meningkatkan kekuatan mereka.


Tidak membuang waktu, para bayangan Arya langsung menerjang. Kali ini serangan mereka lebih cepat dan lebih ganas dari sebelumnya.


Kera raksasa dibuat kalang kabut, dari luka-luka lebam akibat pertarungan sebelumnya kini tampak mengucurkan darah. Tidak seperti pertarungan sebelumnya, yang mana serangan para bayangan Arya dapat di baca dan di patahkan dengan mudah, kali ini serangan mereka sudah tidak lagi tertuju pada satu titik melainkan apa saja yang dapat di serang, bahkan bagian tersembunyi seperti ketiak dan s*langkangan juga tak luput dari serangan para bayangan Arya.


Sibuk memusatkan perhatian pada serangan lawan, kera raksasa tidak menyadari siasat para penyerangnya. Serangan serampangan para bayangan Arya ternyata hanyalah pengalihan, tujuan mereka sebenarnya adalah titik lemah yang berhasil di ketahui Arya dalam pengamatannya.


Benar saja, ditengah mempertahankan diri dari gempuran lawan, dari atas kepala kera raksasa tiba-tiba muncul satu sosok bercadar yang langsung menikamkan tombak cahaya emas ke ubun-ubun hewan iblis tersebut sampai tembus ke tenggorokan.


Goooaaarrrrgg!


Terdengar suara berderak seperti benda keras yang hancur dan disusul gelegar raungan melengking keluar dari mulut kera raksasa. Tubuh besar hewan iblis itu menggeletar-geletar sebelum akhirnya terjun bebas ke daratan. Sang panglima hewan iblis ini akhirnya tewas sebelum tubuhnya mencapai tanah.


Setelah merasa lawannya telah tewas, salah satu dari mereka menukik turun menghampiri jasad kera raksasa yang amblas di dalam tanah tersebut. Bayangan Arya memperhatikan sekujur tubuh kera raksasa itu sesaat sebelum menghujamkan jari-jarinya ke lambung sang kera. Dia terlihat membetot benda bulat dari tubuh sang kera. Benda itu sebesar kelapa dan memancarkan sinar ungu yang berlumuran darah hitam.


Bayangan Arya tersenyum sebelum menghilang entah kemana.


****


Selagi meluncur terbang pria botak menoleh ke kiri. Pendengarannya yang tajam menangkap suara sambaran angin mengandung ancaman melesat ke arahnya. Maka diapun lekas kirimkan pukulan ke arah mana serangan itu berasal, kemudian cepat-cepat dia melentingkan tubuhnya terbang lebih tinggi.

__ADS_1


Duuuarr!


Ledakan terjadi manakala dua lesatan energi merah dan kuning bertemu saling hantam.


Belum hilang rasa kejut atas serangan dadakan tersebut, mendadak dirinya sudah di kepung puluhan sosok bercadar. Pria botak putar tubuhnya, edarkan pandangan berkeliling dengan sikap waspada.


“Keparat..!” Geram pria botak sambil gertakkan rahang dengan tatapan beringas tajam.


“Lihat tombak!”


Terdengar seruan yang disusul tikaman dari arah belakang si pria botak.


Pria botak yang sudah waspada dengan mudah berkelit dengan mendorong tubuhnya ke samping. Tusukan tombak lewat setengah jengkal dari bahu kanannya. Sosok bercadar yang sudah memperkirakan hal itu langsung rubah gerakannya menjadi mengayun. Disisi lain pria botak dengan cepat dan tangkas gunakan lengan tangan kanannya untuk menangkis!


Benturan itu membuat lengan kanan pria botak memerah seperti terpanggang. Tubuh pria botak sendiri sampai terlontar jauh puluhan meter. Meski tombak yang di gunakan hanyalah senjata kelas menengah namun energi ke-emasan yang terkandung di tombak tersebut membuat tombak itu laksana baja yang kokoh, tidak mudah patah saat beradu energi tingkat tinggi.


Belum lagi pria botak mendapatkan keseimbangan di udara, puluhan sosok bercadar sudah menggempur dengan serangan ganas. Baik serangan jarak jauh maupun serangan jarak dekat.


Di serangan secara bertubi-tubi sedemikian rupa membuat celah pria botak semakin lama semakin terlihat longgar. Kesempatan itu tak di sia-siakan para bayangan Arya. Mereka langsung mendaratkan pukulan demi pukulan yang dengan telak mengenai beberapa bagian tubuh pria botak. Hal itu membuat pria botak mengalami luka-luka!


Ditengah gempuran dan menahan sakit, pria botak berusaha kerahkan energi Qi dari elemen racun untuk membatasi jarak serangan lawan.


Asap hijau menyeruak keluar dari dalam tubuh pria botak dan terus menyebar menghalangi pandangan. Sosok bercadar yang terperangkap dalam asap racun tersebut nampak terbatuk-batuk lalu perlahan meluncur jatuh saling bersusulan. Bayangan Arya yang tersisa tidak mau ambil resiko, mereka lebih memilih bertindak hati-hati dengan mengepung asap hijau tersebut untuk menutup jalan kabur bagi lawan.


“Lebih baik menyerahlah!” Salah satu bayangan Arya berseru keras. Pandangannya lekat-lekat mengawasi jika ada pergerakan dari balik asap racun tersebut.


“Hahaha!” Terdengar suara tawa bergelak dengan nada mengejek dari dalam kepulan asap. “Menyerah lalu dibunuh! Aku tidak sebodoh itu, bangsat! Jika kalian memang mampu membunuhku, majulah!”

__ADS_1


__ADS_2